SAAT HATI MULAI RAPUH
Oleh: Idwik
Dunia mengenalku sebagai karang yang perkasa, Si paling tegar, si paling asyik dalam tawa. Tempat bersandar bagi mereka yang luka, Peneduh bagi kawan yang dirundung duka, Tanpa mereka tahu, di balik topengku ada jiwa yang dahaga.
Namun, raga ini hanyalah tanah yang fana, Bukan baja yang tak bisa binasa. Gagal demi gagal datang menerjang tanpa jeda, Ekonomi yang goyah, impian yang luruh ke dada, Hingga dinding pertahananku retak, kehilangan daya.
Malam minggu yang riuh di luar sana, Terasa sunyi dan asing dalam kamar yang buta. Gawai berkedip, pesan kawan memanggil ceria, Namun jemariku kaku, batin ini lelah bersandiwara, "Si Paling Strong" ini ternyata rapuh, tak berdaya.
Dalam gelap, air mata yang bertahun kutahan pun pecah, Mengalir deras, membasahi bantal yang pasrah. Lelah berpura-pura, capek terlihat tanpa celah, Hingga pandanganku tertumbuk pada dinding yang indah, “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha”—Allah tak membebani di luar lelah.
Kalimat suci itu menghantam ego yang tinggi, Menyadarkanku betapa jauh aku melangkah pergi. Aku mencari pundak manusia untuk berbagi, Padahal Allah menungguku bersujud di malam yang sunyi, Untuk mengadu rasa, untuk kembali rendah hati.
Kubasuh wajah dengan air wudu yang dingin meresap, Menenangkan pikiran yang bising dan gelap. Di atas sajadah, takbirku lirih namun mantap, Melepas beban dunia yang selama ini kudekap, Biarlah kerapuhan ini menjadi doa yang merayap.
Dalam sujud yang lama, aku lepaskan semua kasta, Bukan lagi pemberi solusi atau pemimpin semesta. Hanya hamba kecil yang mengakui segala dosa dan nista, "Ya Allah, kuatkan hati yang patah karena dunia, Ternyata hanya pada-Mu, aku menemukan rumah yang nyata."
Kini langkahku ringan, fajar membawa damai yang utuh, Tak ada lagi topeng, tak ada lagi rasa angkuh. Menjadi rapuh ternyata tak membuatku luluh, Sebab di titik itulah, aku kembali bersimpuh, Menemukan kekuatan baru di hadapan Allah yang Maha Tangguh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong kasih komentar ya ?