Kamis, 04 Juni 2026

Ada ttitik titik diujung Do'a

ADA TITIK-TITIK DI UJUNG DOA SAAT MENUJU MASA

 PENSIUN 

Oleh: Idwik

Malam telah beranjak jauh melewati batas puncaknya, menyisakan desau angin pelan yang mengetuk kisi-kisi jendela ruang kerja. Di atas meja, beberapa tumpukan berkas instrumen supervisi akademik dan draf laporan pendampingan sekolah masih terbuka, bersanding dengan gawai yang sesekali berkedip menampilkan notifikasi kedinasan. Sebagai seorang pengawas sekolah yang telah mengabdikan sebagian besar paruh hidup di dunia pendidikan, ritme kerja administratif seperti ini sudah menjadi bagian dari denyut nadi saya. Namun, malam ini, fokus saya tidak tertuju pada lembaran kertas di hadapan. Pikiran saya justru melayang jauh, mengembara melintasi lorong waktu, menatap bayangan masa depan yang dipenuhi oleh tanda tanya besar yang perlahan mulai mengusik ketenangan batin.

Saya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengurai beban tak kasat mata yang tiba-tiba bergelayut berat di pundak. Di dinding ruang kerja, sebuah kalender digital menunjukkan angka tahun yang kian berjalan cepat, mengalir tanpa bisa ditahan oleh jemari manusia. Enam tahun. Itulah sisa waktu pengabdian formal saya sebagai seorang pengawas sebelum ketukan palu masa pensiun benar-benar tiba. Di satu sisi, ada rasa syukur yang membuncah karena Tuhan telah mengizinkan saya membangun sebuah keluarga yang utuh, hangat, dan begitu harmonis bersama istri tercinta. Kami dianugerahi enam orang buah hati yang menjadi perhiasan hidup paling berharga. Namun, di sisi lain, kenyataan bahwa saya memiliki enam anak dengan rentang kebutuhan hidup yang sangat berbeda, menjadi sebuah ladang pemikiran yang menguras energi kedewasaan saya.

Dua anak tertua kami alhamdulillah sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi dan kini telah mandiri membina keluarga mereka sendiri. Melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab adalah salah satu puncak kebahagiaan terbesar saya sebagai seorang Abi. Namun, pandangan mata saya kerap kali tertahan lama ketika menatap empat anak lainnya yang saat ini masih duduk di bangku sekolah. Anak ketiga sudah lulus dan mengajar di pondok pesantren dan anak ke empat baru saja memasuki semester lima perkuliahan, , yang ke lima masih di SMA, dan si bungsu bahkan masih membutuhkan bimbingan dasar di sekolah dasar. Mereka berempat laksana tunas-tunas muda yang sedang tumbuh dengan subur, membutuhkan pupuk perhatian, kasih sayang, dan tentu saja dukungan finansial yang tidak sedikit di tengah ketidakpastian dunia saat ini.

Godaan pikiran itu sering kali datang dalam bentuk bisikan-bisikan halus yang mengaburkan optimisme. Di tengah situasi ekonomi yang fluktuatif, inflasi yang kian merangkak naik, dan biaya pendidikan tinggi yang semakin mencekik, ego manusiawi saya mulai dirayapi rasa cemas. Apakah dengan sisa waktu enam tahun masa kerja aktif ini, saya masih akan sanggup menghantarkan keempat anak saya menuju gerbang kemandirian mereka? Bagaimana jika fisik ini mendadak rapuh sebelum tugas besar itu usai? Pertanyaan-pertanyaan skeptis itu laksana rangkaian titik-titik misterius yang menggantung tanpa akhir di ujung pikiran saya, menciptakan ketidakpastian yang seolah sengaja menguji sejauh mana kekuatan iman yang selama ini saya agungkan di hadapan orang lain.

Sore tadi, saat suasana rumah begitu hangat oleh riuh rendah tawa anak-anak yang sedang berkumpul di ruang tengah, istri saya datang mendekat membawa secangkir teh hangat. Dia adalah sosok wanita teduh yang selalu tahu kapan suaminya sedang memikul beban pikiran tersembunyi. Dengan kelembutan yang khas, dia duduk di sebelah saya, menatap wajah saya yang mungkin tampak sedikit kusam malam itu. "Abi, ada apa? Sejak pulang dari dinas supervisi tadi, pandangan Abi sering kali kosong. Apakah ada masalah di kantor atau di sekolah binaan?" tanyanya dengan nada suara yang menenangkan, seolah ingin ikut memikul sebagian dari beban yang sedang berputar di kepala saya.

Saya terdiam sejenak, menatap matanya yang masih menyimpan binar ketulusan yang sama seperti puluhan tahun lalu. "Tidak ada masalah di kantor, Umi. Abi hanya sedang menghitung waktu. Enam tahun lagi Abi pensiun dari jabatan pengawas, sementara empat anak kita masih sekolah dan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk masa depan mereka. Abi terkadang merasa cemas, apakah waktu dan kemampuan Abi yang terbatas ini akan cukup untuk mengantarkan mereka semua menjadi orang berhasil seperti kakak-kakak mereka," jawab saya jujur, menumpahkan segala keresahan batin yang selama ini sengaja saya kunci rapat-rapat demi menjaga wibawa sebagai kepala keluarga.

Umi tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh keyakinan religius yang seketika membuat relung hati saya yang sempat tegang menjadi agak mengendur. Dia menggenggam punggung tangan saya yang mulai kasar oleh usia. "Abi, sejak kapan kita yang menjamin rezeki dan masa depan anak-anak kita? Bukankah selama ini Allah yang selalu mencukupkan setiap kebutuhan kita melalui jalan-jalan yang sering kali tidak pernah kita duga sebelumnya? Enam tahun itu adalah hitungan matematika manusia di atas kertas dinas, tetapi kuasa Allah tidak pernah bisa dibatasi oleh masa pensiun seorang pegawai. Tugas kita hanya bergerak, mendidik mereka dengan akhlak yang mulia, dan memanjatkan doa terbaik. Jangan biarkan titik-titik kecemasan itu menghapus tanda seru keyakinan kita pada ketetapan-Nya," ucapnya dengan kalimat yang begitu menghujam sanubari.

Kata-kata istri saya malam itu laksana embun pagi yang jatuh di atas tanah gersang. Astagfirullah... saya tersentak di dalam kesendirian ruang kerja ini. Sebagai seorang pengawas yang setiap hari memberikan arahan dan bimbingan kepada para guru dan kepala sekolah tentang pentingnya visi masa depan, saya justru hampir tergelincir ke dalam jurang pesimisme saat menghadapi masa depan keluarga saya sendiri. Saya menyadari bahwa keresahan yang berlebihan ini timbul karena saya terlalu mengandalkan kekuatan diri yang fana, dan melupakan hakikat bahwa ada Dzat yang Maha Kaya yang menguasai seluruh garis nasib setiap makhluk-Nya.

Saya melangkah menuju kamar mandi, membiarkan aliran air wudhu yang dingin membersihkan sisa-sisa kelelahan fisik dan kegundahan batin yang merajai pikiran. Di atas sajadah yang tergelar rapi di sudut kamar, saya menegakkan shalat malam dalam keheningan sepertiga malam yang sunyi. Setiap takbir, rukuk, dan bacaan shalat saya resapi dengan kepasrahan yang seutuhnya. Ketika tubuh ini luruh dalam posisi sujud terakhir yang berlangsung begitu lama, benteng kesombongan intelektual saya runtuh total. Di hadapan Allah SWT, saya bukan lagi seorang pengawas sekolah yang dihormati di lingkungan dinas, melainkan hanyalah seorang hamba sekaligus seorang Abi yang fakir, yang sedang mengadukan ketidakberdayaannya demi masa depan darah dagingnya.

Dalam doa yang panjang pasca shalat, air mata saya menetes tanpa bisa dibendung lagi. Di ujung untaian kalimat doa yang saya panjatkan, saya melihat kembali rangkaian keinginan-keinginan saya yang masih berupa titik-titik ketidakpastian. Namun kali ini, makna titik-titik itu telah berubah di dalam persepsi keimanan saya. Titik-titik di ujung doa bukanlah simbol dari ketakutan atau keputusasaan, melainkan simbol dari kepasrahan mutlak kepada rencana Allah yang maha indah. Ia adalah ruang bagi keajaiban tawakal, sebuah keyakinan bahwa di mana kemampuan manusia menemui batas akhirnya, di situlah pertolongan Allah akan mulai bekerja menggantikan ketidakberdayaan kita.

"Ya Allah... Ampuni hamba yang sempat meragukan luasnya hamparan rezeki-Mu hanya karena menghitung sisa tahun masa pensiun duniawi hamba. Enam anak yang Engkau titipkan adalah amanah agung yang pasti telah Engkau siapkan pula takdir kebaikannya masing-masing. Kuatkanlah pundak hamba, jagalah kesehatan fisik hamba, dan bimbinglah lisan serta perbuatan hamba agar selalu optimis mendidik mereka di atas jalan akhlak yang mulia. Hamba titipkan masa depan anak-anak hamba yang masih sekolah ke dalam penjagaan-Mu yang Maha Sempurna, karena hamba tahu Engkau tidak akan pernah mengecewakan hamba yang bersujud pasrah kepada-Mu..."

Saya meraba dada ini yang kini terasa sangat lapang dan plong, seolah-olah gumpalan awan hitam kecemasan yang semalam menyumbat aliran napas kini telah menguap hilang ditiup oleh angin keyakinan. Ketika fajar shadiq mulai menyingsing di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menembus celah gorden, saya melangkah keluar dari ruang kerja dengan senyuman yang penuh energi optimisme baru. Tidak ada lagi gundah, tidak ada lagi ragu. Sisa enam tahun masa jabatan sebagai pengawas sekolah akan saya jalani dengan dedikasi tertinggi sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan nikmat kehidupan.

Keluarga kami yang harmonis adalah bahan bakar utama bagi kekuatan batin saya. Empat anak yang masih menempuh jalur pendidikan kini tidak lagi saya pandang sebagai beban masa depan yang menakutkan, melainkan sebagai ladang pahala dan investasi akhirat yang harus saya sirami dengan untaian doa dan usaha terbaik setiap harinya. Saya percaya, selama fondasi iman dan jalinan kasih sayang di dalam rumah tangga ini tetap terjaga dengan utuh, maka badai ekonomi atau tantangan zaman sekeras apa pun di luar sana tidak akan mampu meruntuhkan keteguhan langkah kami.

Kini, di setiap akhir sujud dan untaian dzikir yang saya panjatkan, saya selalu tersenyum tenang ketika melihat ada titik-titik di ujung doa. Saya tahu, di balik titik-titik misteri masa depan anak-anak saya yang belum tertulis itu, Allah SWT telah menyiapkan sebuah akhir cerita yang paling indah, paling berkah, dan paling membahagiakan bagi kami semua. Tugas seorang Abi bukan memastikan jalannya selalu mulus tanpa hambatan, melainkan memastikan bahwa dalam kondisi apa pun, ia tetap tegak berdiri penuh optimis, menggandeng tangan anak-anaknya seraya terus berjalan menuju ridha dan jannah-Nya.

Aku Memohon Ampun Kepadamu

Aku Mohon Ampunan MU

Aku Memohon Ampun Kepadamu
Aku berlutut, merintih penuh rasa.
Tuhan, ampunilah segala salahku,
Kau Yang Maha Pengampun, Kau Maha Suci.
Dalam gelap, aku mencari cahaya-Mu,
Terangi jalan yang penuh kesalahan ku.
Dengan tulus, aku mengakui dosa-dosaku,
Kau peluk erat dalam kasih-Mu.
Ampunan-Mu tiada tara, tiada batas,
Kau limpahkan rahmat, tak henti berkasih.
Aku bersujud, merendahkan diri,
Mohon ampunan, Kau satukan hati.
Kasihanilah hamba yang lemah ini,
Bimbinglah langkah di jalan yang lurus ini.
Aku Mohon AmpunanMu, Tuhan yang Maha Pemurah,
Dengan penuh harap, kuserahkan diriku sepenuhnya.

Kau Bukan Rumah

KAU BUKAN RUMAH

Oleh: Idwik

Malam itu, gerimis membungkus kota dengan aroma tanah basah yang pekat dan dingin. Di dalam ruang kerja yang hanya diterangi oleh pendar lampu meja yang temaram, gemerisik lembaran kertas dan ketukan ritmis jemari pada papan tik komputer berkejaran dengan sunyinya waktu yang merayap menuju larut. Di hadapanku, tumpukan berkas evaluasi program pembinaan, laporan tahunan institusi, dan rencana kerja digitalisasi sekolah tampak seperti monumen kecil dari sebuah pencapaian karier yang dibangun selama berpuluh-puluh tahun. Semua tersusun sangat rapi, terstruktur, dan tampak begitu kokoh di mata siapa pun yang memandangnya. Namun, tepat di kedalaman dada ini, ada sesuatu yang terasa sangat ringkih dan bergetar hebat. Ada sebuah ruang kosong tak kasat mata yang tidak akan pernah bisa dipahat oleh aplikasi secanggih apa pun, atau diisi oleh status struktural sosial yang selama ini dihormati oleh orang-orang di luar sana.

Gue menyandarkan punggung pada sandaran kursi kayu yang kaku, membiarkan kedua mata gue menembus beningnya jendela kaca yang mulai berembun. Sayup-sayup dari pengeras suara sebuah masjid tua di ujung jalan, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an mengalir dengan begitu syahdu, membelah kesunyian malam yang kian pekat. Suara qari itu bergetar lambat, membawa sebuah pesan kuno yang selalu terasa baru dan segar bagi telinga yang mau mendengar: bahwa dunia ini tak lebih dari tempat persinggahan sekejap mata, sebuah fatamorgana indah yang menipu orang-orang yang terlena. Seketika itu juga, judul sebuah lagu yang tak sengaja gue denger lewat radio sore tadi kembali terngiang di dalam benak gue, berputar-putar seperti sebuah gema di dalam lorong yang sepi dan gelap: "Kau Bukan Rumah."

Sebuah kalimat pendek, sederhana, namun entah kenapa malam ini menghantam kesadaran dewasaku dengan kekuatan yang begitu telak. Gue memandangi punggung jemari gue sendiri di bawah sinaran lampu meja, garis-garis halus dan kerutan tanda usia yang kian menua mulai tercetak jelas di sana. Selama puluhan tahun menjalani kehidupan, ego manusiawiku rupanya sering kali mengalami salah sangka yang teramat fatal. Gue pernah mengira dengan sangat percaya diri bahwa yang disebut rumah adalah kenyamanan materi serta kemapanan finansial yang berhasil gue kumpulkan dengan susah payah. Gue pernah mengira bahwa rumah adalah pengakuan publik, jabatan mentereng yang dihormati, atau lembar-lembar aset portofolio digital yang grafiknya naik turun di layar gawai, menjanjikan rasa aman yang semu di masa tua nanti. Gue bahkan pernah mengira bahwa kestabilan duniawi yang gue bangun dengan peluh, air mata, dan waktu tidur yang terpangkas habis ini adalah sebuah benteng abadi yang akan selalu melindungi jiwa gue dari rasa hampa.

"Kau bukan rumah," bisik gue lirih pada keheningan malam, sambil menatap tumpukan tugas kedinasan dan simbol-simbol pencapaian materi di atas meja kerja. Semua ini—dunia dengan segala pernak-pernik digitalnya yang berkilauan, penghormatan manusia yang datang dan pergi, hingga ambisi-ambisi masa muda yang belum usai—hanyalah sebuah halte kecil yang riuh. Sering kali, manusia terjebak di dalamnya; mereka sibuk menata halte tersebut dengan karpet beledu yang mewah, mengecat dindingnya dengan tinta emas, seolah-olah mereka akan menetap di sana selamanya tanpa akan pernah beranjak pergi. Mereka benar-benar lupa bahwa ada sebuah kereta takdir yang jadwal keberangkatannya tidak akan pernah bisa digeser atau ditunda, walau hanya untuk satu detik saja.

Rasa lelah yang merayapi pundak dan leher gue malam ini bukan lagi sekadar lelah fisik biasa akibat berjam-jam memeriksa dokumen digital. Ini adalah sebuah kelelahan spiritual yang teramat sangat dari seorang hamba yang baru saja disadarkan, betapa seringnya ia mengetuk pintu-pintu yang salah hanya untuk mencari sebuah rasa kedamaian batin. Dunia ini terlalu kecil, terlalu fana, dan terlalu rapuh untuk dijadikan tempat bersandar dan menaruh harapan hidup. Ia bisa retak dan hancur kapan saja oleh ketetapan waktu, oleh datangnya penyakit, atau sekadar oleh usia fisik yang terus merambat menua menuju tanah. Menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup tak ubahnya seperti seseorang yang mencoba membangun istana megah di atas hamparan pasir hisap yang siap menelan apa saja di atasnya.

Gue bangkit berdiri dari kursi kerja, melangkah dengan helaan napas panjang menuju sudut ruangan tempat selembar sejadah putih terhampar dengan tenang menghadap kiblat. Ketika air wudhu yang dingin mulai membasuh kulit wajah, tangan, dan menyeka kepala gue, ada sebuah rasa sejuk yang luar biasa yang langsung meresap menembus pori-pori batin gue, menenangkan gemuruh kecemasan yang sejak sore tadi berkecamuk di dalam kepala. Di atas kain sejadah itu, dalam takbiratul ihram yang gue angkat dengan sisa tenaga, gue perlahan-lahan melepaskan seluruh belenggu keduniawian, ego jabatan, dan segala kecemasan masa depan yang selama ini menggantung berat di atas pundak gue.

Saat dahi gue menyentuh lantai dalam posisi sujud terakhir yang berlangsung sangat lama, di situlah kesadaran dewasaku bener-bener luruh dan hancur total di hadapan Sang Pencipta. Air mata yang keluar malam itu bukan lagi air mata meratapi nasib atau kegagalan duniawi, melainkan air mata haru dari seorang pengembara yang akhirnya menemukan jalan pulang yang sebenarnya. Kehangatan dan ketenangan yang merayap perlahan mengisi rongga-rongga dada gue saat berdialog dalam senyap dengan Allah SWT adalah sebuah kepastian mutlak yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh gemerlap dunia sekaya apa pun. Di sinilah, dalam ketundukan mutlak kepada Sang Khalik, jiwa yang sempat tersesat dan lelah berkelana akhirnya mendapati muara kedamaian yang hakiki.

Gue menyadari satu hal penting malam itu: dunia dengan segala keindahan, kesibukan, dan tanggung jawabnya memang harus diselesaikan dengan performa terbaik sebagai bentuk manifestasi ibadah kita kepada-Nya. Namun, hati dan cinta kita tidak boleh sekali-kali tertinggal atau melekat di sana. Dunia boleh berada di dalam genggaman tangan untuk dikelola dengan bijak, tetapi ia tidak boleh dibiarkan masuk dan merajai takhta di dalam hati kita. Karena ketika dunia sudah menguasai hati, maka setiap kehilangan kecil di dunia akan terasa seperti kiamat besar bagi jiwa kita.

Gue bangkit dari sujud dengan perasaan yang jauh lebih ringan, seolah-olah beban berat tak kasat mata yang semalam menyiksa dada gue kini telah diangkat pergi tanpa bekas. Sambil melipat kembali kain sejadah, gue menatap sisa gerimis di luar jendela dengan sebuah senyuman tipis yang sangat tulus yang sudah lama tidak terukir di wajah gue. Gue tahu pasti ke mana arah kiblat dan langkah kaki gue harus pulang ketika badai kehidupan kembali datang menerpa ke depannya. Karena pada akhirnya, dunia ini telah berbisik jujur kepada setiap jiwa dewasa yang mau merenung: bahwa ia hanyalah sebuah jembatan penyeberangan yang rapuh, dan sejauh apa pun kamu melangkah mencarinya, kamu harus selalu ingat bahwa dunia ini bukan rumah tempatmu tinggal abadi.

Rabu, 03 Juni 2026

Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja


BAGAIMANA KALAU AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA

Oleh: Idwik

Gue duduk di pojok kelas dekat jendela, mengabaikan suara bising temen-temen yang lagi asyik ngegosip soal tren fashion terbaru atau mabar game online di jam istirahat. Pandangan gue lurus tertuju pada layar HP yang lagi nampilin rentetan berita di linimasa media sosial. Gak tahu kenapa, algoritma medsos gue belakangan ini bener-bener bikin overthinking. Di bagian atas ada video reels tentang krisis kemanusiaan akibat perang di luar negeri yang gak kunjung selesai, bangunan hancur, dan tangisan anak-anak seumuran gue yang kehilangan masa depannya. Begitu gue scroll ke bawah, beritanya gak kalah bikin pusing: nilai tukar rupiah yang semakin melemah, inflasi meroket, dan biaya hidup yang katanya bakal makin mencekik. Semua berita buruk itu rasanya tumpah ruah ke kepala gue, bikin dada gue mendadak sesak oleh kecemasan yang luar biasa.

Sebagai seorang anak muda yang statusnya masih pelajar sekolah menengah, ngelihat situasi dunia yang lagi carut-marut begini bener-bener bikin mental gue kena down. Pertanyaan-pertanyaan miring mulai bermunculan di kepala gue secara liar. Nanti pas gue lulus, keadaan bakalan kayak gimana ya? Apakah nyari kerja bakal sekeras dan semustahil yang orang-orang bilang di Twitter? Gimana kalau nanti gue gak bisa ngebahagiain orang tua? Pertanyaan paling krusial yang terus muter di otak gue adalah: *'Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja di masa depan nanti?'* Rasanya bener-bener berat dan ironis, di saat gue masih harus mikirin tugas matematika dan ujian sekolah, di saat yang sama batin gue dipaksa memikul beban kecemasan global yang rasanya terlalu jauh buat kapasitas umur gue sekarang.

"Woi, Jey! Bengong aja lo dari tadi, kesambon baru tahu rasa lo!" Suara tepukan keras di pundak dari Dimas langsung membuyarkan lamunan gelap gue. Gue cuma bisa memaksakan senyum tipis, buru-buru mengunci layar HP dan memasukkannya ke dalam saku seragam. "Gak apa-apa, Bro. Cuma agak pusing aja mikirin materi ujian besok," bohong gue, karena gak mungkin juga gue curhat soal keresahan geopolitik dunia dan pelemahan makroekonomi ke Dimas yang isi kepalanya cuma seputar skuter matic dan coretan grafiti.

Rasa cemas itu terus ngekorin gue sampai gue melangkah pulang ke rumah. Sore itu langit mendung tipis, sekadar nambah kelam suasana hati gue. Pas gue buka pintu rumah, bau harum masakan rumahan langsung menyambut indra penciuman gue. Di dapur, gue ngelihat Umi lagi sUmik memotong sayuran dengan gerakan yang sangat telaten. Meskipun wajah Umi mulai dihiasi garis-garis halus tanda usia yang menua, tapi sorot mata Umi selalu memancarkan energi yang luar biasa positif, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat sama gue yang mukanya udah ditekuk kusut kayak cucian kotor.

Gue naruh tas sekolah di kursi makan, lalu duduk bersandar sambil memperhatikan punggung Umi. "Mi... Umi pernah ngerasa takut gak sih kalau ngelihat berita di TV atau HP sekarang? Perang di mana-mana gak selesai-selesai, harga barang makin mahal, rupiah melemah terus. Jey rasanya takut banget mikirin masa depan Jey nanti, Mi. Gimana kalau dunia bener-bener hancur pas Jey udah lulus sekolah nanti?" kata gue numpahin unek-unek yang sejujurnya udah bikin kepala gue cenat-cenut seharian.

Umi menghentikan aktivitas memasaknya, mengelap tangannya dengan kain bersih, lalu berjalan mendekat ke arah gue. Umi duduk di kursi sebelah gue, mengusap rambut gue dengan penuh kasih sayang yang seketika bikin ketegangan di pundak gue agak mengendur. "Jey, anakku... kalau kamu nanya apakah dunia luar sana sedang baik-baik saja, jawabannya mungkin memang sedang tidak. Tapi, apakah itu artinya kamu harus menyerah dan kalah sebelum berperang? Gak boleh begitu, Nak. Tugas kamu sekarang itu bukan meramal masa depan atau mencemaskan hal-hal makro yang ada di luar kendali jemari kamu. Tugas kamu adalah bersiap," ucap Umi dengan nada suara yang sangat lembut namun sarat akan ketegasan.

Umi menatap mata gue dalam-dalam, menyalurkan energi kekuatan yang biasa beliau miliki. "Inget nasehat Umi ya, Jey. Kamu harus selalu optimis dalam setiap langkah perjuangan kamu, sekecil apa pun itu. Jangan biarkan berita buruk dari luar merusak harapan yang ada di dalam hati kamu. Dan yang paling krusial, di tengah kondisi dunia yang sekacau apa pun nanti, kamu harus tetep teguh menjaga akhlak dan iman kamu. Harta bisa habis, mata uang bisa melemah, tapi anak yang punya akhlak mulia dan kedekatan sama Allah, dia gak akan pernah tersesat dan bakal selalu punya jalan keluar dalam kondisi sesulit apa pun di masa depan."

Kata-kata Umi sore itu bener-bener kayak air es yang disiram ke kepala gue yang lagi kepanasan karena overthinking. Astagfirullah... selama ini gue terlalu fokus ngelihat ke arah luar, ngelihat badai yang lagi mengamuk di belahan dunia lain, sampai gue lupa kalau jangkar kekuatan yang sesungguhnya itu ada di dalam diri gue sendiri, yaitu iman dan akhlak. Gue terlalu sUmik bertanya *'bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja'*, sampai gue lupa kalau Allah adalah dzat yang Maha Mengatur segala urusan makhluk-Nya, termasuk masa depan gue yang masih misteri.

Malamnya, setelah selesai menunaikan ibadah shalat isya berjamaah bareng Umi di ruang tengah, gue gak langsung tidur. Gue ambil air wudhu lagi, lalu duduk bersila di atas sejadah, membuka mushaf Al-Qur'an kecil yang biasa ditaruh di meja belajar. Gue mulai membaca lembar demi lembar ayat suci dengan perlahan, mencoba mencari ketenangan yang gak pernah bisa gue dapetin dari aplikasi berita atau medsos. Pas membaca Surah At-Talaq, mata gue tertuju pada ayat yang artinya: *'Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.'* Detik itu juga, batin gue bener-bener ngerasa haru, air mata gue menetes pelan mengenai permukaan halaman mushaf.

Gue tersungkur dalam posisi sujud syukur yang dalam di atas sejadah. Rasa cemas, takut, dan pesimis yang seharian ini menghimpit dada gue, perlahan-lahan runtuh dan mencair digantikan oleh rasa tenang dan keyakinan yang luar biasa kuat. Gue menyadari kalau mengkhawatirkan masa depan secara berlebihan adalah salah satu bentuk ketidakpencapaian iman kita pada takdir Allah. Selama gue tetep memegang teguh nasehat Umi buat selalu optimis, belajar dengan giat, dan yang paling utama menjaga akhlak serta ibadah gue, maka masa depan itu gak perlu lagi ditakuti secara berlebihan.

"Ya Allah... Ampuni hamba yang sempat ragu akan jaminan-Mu atas masa depan hamba. Di tengah dunia yang sedang penuh dengan ketidakpastian dan ujian ini, tolong tanamkan rasa optimis yang kuat di dalam dada hamba. Bimbinglah hamba agar selalu bisa menjaga akhlak, lisan, dan perbuatan hamba sesuai dengan syariat-Mu. Jauhkan hamba dari sifat putus asa, dan jadikan hamba anak muda yang kuat yang bisa menghadapi kondisi apa pun di masa depan nanti karena selalu mengandalkan-Mu..."

Gue tumpahkan segala pengakuan kelemahan batin itu ke hadapan-Nya sampai perasaan gue bener-bener plong tanpa beban lagi. Begitu gue mengangkat kepala dari sujud, gue ngerasa kayak dilahirkan kembali menjadi pribadi yang baru. Ketakutan yang tadi pagi mencekik leher gue di sekolah, sekarang udah berubah menjadi sebuah energi motivasi yang membara buat gue membuktikan kalau anak muda muslim itu gak gampang loyo cuma karena dihantam isu krisis global.

Keesokan harinya di sekolah, vibes gue bener-bener udah beda seratus delapan puluh derajat. Gue gak lagi duduk murung meratapi layar HP di pojokan kelas dekat jendela. Begitu jam istirahat tiba, gue langsung ngajakin Dimas dan temen-temen kelas lainnya buat bareng-bareng melangkah menuju mushola kampus buat shalat dzuhur berjamaah. Gue pengen nularin energi positif dan kebiasaan baik ini ke lingkungan sekitar gue. Gue pengen nunjukin kalau cara terbaik menghadapi masa depan yang gak pasti adalah dengan mendekatkan diri pada Dzat yang Maha Pasti.

Gue tahu kalau tantangan hidup ke depannya pas gue lulus sekolah nanti gak bakal makin mudah. Perang mungkin masih ada, rupiah mungkin fluktuatif, dan persaingan dunia kerja bakal makin ketat. Tapi sekarang gue udah gak peduli dan gak takut lagi sama semua monster fana itu. Selama nasehat Umi terpatri kuat di dalam dada gue untuk selalu optimis dan menjaga akhlak mulia, gue yakin gue bakal baik-baik saja. Biarlah dunia luar sana berguncang sekencang apa pun, asalkan fondasi iman di dalam hati gue tetep berdiri kokoh tak tergoyahkan. Karena pada akhirnya, masa depan yang sukses bukan milik mereka yang sekadar mencemaskannya, melainkan milik mereka yang berani melangkah penuh optimis dan bersujud dengan tulus di hadapan Sang Pencipta dalam kondisi apa pun.


Berakhir di aku

BERAKHIR DI AKU

Oleh: Idwik

Gue, Gibran, dan tawa lepas di atas atap kosan adalah sebuah paket lengkap yang gak pernah absen nemenin malam-malam minggu selama tiga tahun belakangan ini. Sejak semester satu kuliah, Gibran bukan cuma sekadar temen satu jurusan buat gue, tapi dia udah kayak saudara kandung tempat gue berbagi segalanya. Mulai dari urusan tugas kampus yang bikin mumet, patungan beli mi instan di akhir bulan, sampai mimpi-mimpi gila kita berdua tentang masa depan. Malam itu, langit di atas kota bener-bener bersih. Kita berdua telentang beralaskan tikar usang, menatap gugusan bintang yang bertaburan di atas sana sambil dengerin lagu indie dari speaker HP yang cempreng. Vibes-nya bener-bener dapet, santai, penuh tawa, dan bikin kita ngerasa kalau dunia malam ini sepenuhnya milik kita berdua.

"Jey, lo pernah mikir gak sih, kalau semua kebersamaan kita ini bakalan ada tanggal kedaluwarsanya?" Tiba-tiba Gibran nanya sambil tangannya menunjuk ke arah rasi bintang Orion di atas kita. Gue yang lagi asyik scrolling media sosial langsung menoleh, mengernyitkan dahi karena heran. Gak biasanya anak segokil Gibran ngomong bernada puitis dan agak melow begini. "Maksud lo gimana, Bran? Ya elah, tumben banget lo overthinking malam-malam begini. Kita kan masih semester akhir, jalan kita masih panjang kali," jawab gue santai, mencoba mengembalikan suasana tongkrongan biar gak terlalu serius.

Gibran tersenyum tipis, tatapan matanya masih lurus menatap langit malam yang luas. "Gak apa-apa, Jey. Gue cuma lagi mikir aja. Di dunia ini, segala hal yang punya awal pasti bakal nemuin titik akhirnya. Lo lihat bintang-bintang yang kelihatan bersinar terang di atas sana? Secara sains pun, bintang-bintang itu ada umurnya. Pada masanya, mereka bakal kehabisan bahan bakar, meredup, hancur, dan mati. Alam semesta aja bakalan berakhir, dunia ini pasti pada akhirnya, apalagi cuma persahabatan dan raga kita yang lemah begini. Makanya, kalau nanti semua ini berakhir, gue pengen mastiin kalau kenangan indah ini berakhir di aku, dalam arti gue bakal bawa persahabatan tulus kita ini sampai mati, sampai kita dibangunin lagi di hadapan-Nya."

Gue diem. Kata-kata Gibran malam itu bener-bener menghujam batin gue dengan telak. Selama ini, gue selalu menganggap kebersamaan, masa muda, dan kesenangan bareng sahabat-sahabat gue itu sifatnya abadi. Gue terlalu asyik menikmati dunia, tertawa lepas, mengejar ambisi materiil, sampai lupa kalau dunia ini hanyalah panggung sandiwara yang fana. Kita sering lupa kalau waktu terus berputar maju dan batas usia kita terus berkurang setiap detiknya. Kalimat Gibran soal kefanaan dunia dan bintang-bintang yang ada umurnya itu mendadak ngasih sudut pandang baru yang religius di kepala gue, sesuatu yang selama ini jarang banget gue pikirin di tengah gemerlapnya kehidupan anak muda.

Takdir emang gak pernah ketebak, dan peringatan dari ucapan Gibran malam itu ternyata menjadi sebuah firasat nyata yang paling memilukan dalam hidup gue. Hanya berselang dua bulan setelah obrolan di atas atap kosan itu, sebuah kabar buruk datang meremukkan jantung gue. Gibran didiagnosis mengidap penyakit bawaan di bagian otaknya yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat dari gue demi gak mau bikin gue khawatir. Saat gue menjenguknya di ruang perawatan rumah sakit, badannya yang dulu tegap dan selalu penuh energi, kini kelihatan sangat kurus dan lemah. Tapi anehnya, senyuman teduh dan sorot mata penuh persahabatan itu sama sekali gak hilang dari wajahnya.

Gue duduk di samping ranjangnya, menggenggam erat tangan sahabat terbaik gue itu. Air mata gue yang coba gue tahan di depan dia akhirnya runtuh juga. "Bran... lo harus kuat, ya. Kita belum wisuda bareng, lo belum nepatin janji kita buat rintis usaha bareng-bareng," ucap gue terbata-bata oleh rasa sesak yang menghimpit dada. Gibran cuma membalas genggaman tangan gue dengan sisa tenaga yang dia punya. "Jey, inget obrolan kita soal bintang-bintang di atas atap dulu? Umur gue mungkin bener-bener udah di ujung tanduk, tapi iman kita gak boleh ikut meredup. Jagain ibu gue ya, Jey, kalau gue udah gak ada. Dan yang paling penting... jangan pernah tinggalin shalat. Gue pengen kita bersahabat gak cuma di dunia yang fana ini, tapi sampai di surga-Nya nanti."

Sore harinya, tepat saat adzan maghrib berkumandang dengan syahdu dari masjid rumah sakit, Gibran menghembuskan napas terakhirnya dengan sangat tenang setelah membimbing lidahnya mengucapkan kalimat tauhid. Di momen kepergiannya, batin gue bener-bener hancur, rasa haru dan sedih bercampur aduk gak keruan. Persahabatan indah kami di dunia resmi berakhir hari itu. Dunia luar mungkin masih berjalan sibuk seperti biasa, tapi bagi gue, salah satu bintang paling terang dalam hidup gue baru saja padam untuk selamanya. Kehilangan sahabat sejati di usia muda bener-bener memberikan tamparan religius yang luar biasa keras buat kesadaran gue.

Malam setelah pemakaman Gibran, gue kembali berdiri sendirian di atas atap kosan, tempat di mana kami biasa tertawa bersama. Langit malam itu kembali bersih, menampilkan jutaan bintang yang bersinar terang, persis seperti malam minggu dua bulan yang lalu. Tapi kali ini, gak ada lagi suara tawa Gibran, gak ada lagi musik indie yang cempreng, yang ada cuma kesunyian malam yang mencekam. Rasa hampa dan kekosongan jiwa langsung menyergap gue tanpa ampun. Di titik itulah, gue memandang ke langit dan menyadari kebenaran mutlak dari ucapan almarhum sahabat gue: dunia ini bener-bener fana, semuanya pasti pada akhirnya, dan gak ada satu pun makhluk yang abadi.

Gue langsung menggelar sajadah di atas atap kosan itu, di bawah kesaksian bintang-bintang langit yang ada umurnya. Gue takbiratul ihram dengan tubuh yang gemetar, memulai ibadah shalat maghrib yang selama ini sering gue tunda dan sepelekan demi urusan nongkrong. Pas air mata gue menetes membasahi tempat sujud, dada gue rasanya longgar. Di dalam sujud yang khusyuk dan lama itu, gue meluapkan semua rasa sedih, penyesalan, dan kerinduan gue kepada Allah SWT. Gue sadar, kematian Gibran adalah sebuah khutbah bisu yang sangat nyata bagi gue yang masih hidup, sebuah pengingat bahwa maut bisa datang kapan saja tanpa pandang usia.

"Ya Allah... Ampuni dosa-dosa sahabat hamba, Gibran. Lapangkanlah kuburnya dan tempatkanlah dia di tempat terbaik di sisi-Mu. Dan Ya Allah, ampuni juga hamba-Mu yang lalai ini. Kematian sahabat hamba telah membukakan mata hati hamba yang selama ini buta oleh gemerlap dunia yang menipu. Mulai malam ini, hamba bertobat. Izinkan kenangan persahabatan tulus kami berakhir di aku dalam bentuk amal shalih, di mana hamba berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik, menjaga amanahnya, dan selalu bersujud kepada-Mu sebelum waktu hamba sendiri yang habis."

Setelah selesai shalat dan berdoa, rasa damai yang luar biasa sejuk perlahan-lahan mengalir memenuhi ruang kosong di dalam dada gue. Rasa hampa yang tadi mencekik, kini berganti menjadi sebuah kekuatan batin dan tekad yang baru. Gue memandang langit malam sekali lagi dengan senyuman tipis yang tulus. Gue tahu persahabatan fisik kami di dunia emang udah selesai, tapi ikatan doa di antara kami gak akan pernah bisa diputus oleh kematian. Kenangan indah, nasehat baik, dan ketulusan Gibran bener-bener berakhir di aku—tersimpan rapi di dalam hati gue dan bertransformasi menjadi bahan bakar buat gue untuk terus melangkah di jalan yang diridhai-Nya.

Sejak malam itu, kehidupan gue berubah arah seratus delapan puluh derajat. Gue tetep jadi anak muda yang aktif di kampus, tapi orientasi hidup gue udah gak lagi cuma sebatas hal duniawi. Setiap kali gue ngelihat temen-temen di tongkrongan mulai lalai atau sibuk ngejar kesenangan fana, gue selalu berusaha ngingetin mereka dengan cara yang halus dan penuh kasih sayang, persis seperti yang dulu Gibran lakuin ke gue. Gue sadar, tugas gue sekarang adalah meneruskan kebaikan-kebaikan yang dulu belum sempat Gibran selesaikan di dunia ini.

Kini, setiap sepertiga malam, gue selalu meluangkan waktu buat bersujud dan mengirimkan untaian doa serta surat Al-Fatihah khusus untuk almarhum Gibran. Gue gak pernah lagi ngerasa sepi atau sendirian saat menatap bintang-bintang di langit malam, karena gue tahu, di balik keindahan langit yang ada umurnya itu, ada janji Allah yang maha pasti tentang sebuah tempat kembali yang abadi di akhirat nanti. Persahabatan sejati itu gak diukur dari seberapa lama kita bisa nongkrong bareng di dunia, tapi dari seberapa besar usaha kita untuk saling menggandeng tangan menuju jannah-Nya. Dan gue bener-bener berharap, kelak saat giliran 'bintang' gue yang padam dan waktu gue habis, Allah bakalan mempertemukan gue kembali dengan Gibran di dalam surga-Nya, tempat di mana kebersamaan kami gak bakalan pernah nemuin titik akhir lagi.

Sedia Payung Sebelum Hujan

SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN

Oleh: Idwik

Gue selalu ngerasa kalau umur dua puluhan itu adalah zona bebas hambatan di mana gue bisa lari sekencang-kencangnya tanpa perlu mikirin rem. Di mata gue, masa muda itu waktu buat foya-foya, nyari relasi sebanyak mungkin, nongkrong dari satu kafe ke kafe lain sampai pagi, dan numpuk pencapaian duniawi biar kelihatan keren di medsos. Masalah akhirat? Ah, itu urusan nanti pas rambut gue udah mulai memutih atau pas gue udah pensiun kerja. Konsep 'sedia payung sebelum hujan' cuma gue pake buat urusan finansial atau karier, di mana gue sibuk investasi saham dan crypto biar masa depan aman. Tapi gue bener-bener buta kalau ada 'hujan' lain yang bisa datang kapan aja tanpa nunggu mendung, sebuah hujan takdir yang gak bakal bisa ditahan cuma pakai tumpukan harta atau status sosial.

Teguran itu datang lewat sosok Abi. Abi itu tipe orang yang gak banyak omong, tapi tatapan matanya selalu teduh. Belakangan ini, setiap kali gue pulang subuh dengan baju yang bau asap rokok tempat nongkrong, gue selalu nemuin Abilagi duduk di atas sajadahnya di pojok ruang tengah, bibirnya komat-kamit melafalkan dzikir dalam keheningan sepertiga malam. Gue biasanya cuma lewat gitu aja, pura-pura gak lihat atau cuma negur sekadarnya, 'Pak, tidur udah malam.' Abi cuma bakal senyum lembut banget sambil bilang, 'Iya, Jey. Kamu cepet bersih-bersih, terus shalat subuh ya, Nak. Siapkan bekalmu, kita gak pernah tahu kapan hujan lebat bakal turun.' Saat itu, gue bener-bener gak mudeng sama maksud ucapan Abi. Gue pikir Abi cuma sekadar ngingetin masalah cuaca atau urusan kerjaan gue yang makin padat. Gue bener-bener abai.

Sampai pada suatu hari, langkah Abi mulai melambat. Gue lihat Abi sering megangin dadanya sambil terbatuk-batuk kecil, tapi setiap kali gue tanya, Abi selalu jawab, 'Cuma capek biasa kok, Jey.' Karena gue lagi sibuk-sibuknya ngejar deadline proyek besar di kantor yang katanya bisa bikin karier gue naik tingkat, gue gak terlalu ambil pusing. Gue tenggelam lagi dalam ambisi gue. Gue merasa waktu gue bareng Abimasih sangat panjang. Gue lupa kalau raga Abi yang makin hari makin membungkuk itu adalah sebuah tanda kalau waktu terus berjalan maju tanpa pernah bisa di-pause, dan tanda kalau persediaan waktu yang kami miliki bersama di dunia ini perlahan-lahan mulai menipis menuju batas akhirnya.

Sore itu, langit Jakarta bener-bener gelap, mendung tebal menggantung rendah memayungi kota, persis kayak gambaran hati gue yang mendadak gak tenang dari siang. Pas gue lagi meeting penting bareng klien, HP gue yang ada di atas meja bergetar hebat. Ada belasan panggilan tak terjawab dari nomor Umi. Jantung gue langsung berdegup kencang gak keruan, insting gue ngerasa ada sesuatu yang salah. Pas gue angkat, suara Umi terdengar pecah oleh tangisan yang sangat histeris. 'Jey... Abi, Nak... Abi kolaps di ruang tengah pas lagi nungguin kamu pulang.' Detik itu juga, seluruh fokus kerjaan yang seharian ini gue agung-agungkan langsung lenyap menguap. Dunia gue rasanya runtuh seketika, dan rasa penyesalan yang teramat sangat mulai merayap naik mencekik tenggorokan gue.

Gue tancap gas motor gue membelah kemacetan di bawah guyuran hujan lebat yang akhirnya tumpah. Air hujan dan air mata gue bercampur aduk di balik kaca helm. Pikiran gue bener-bener kacau, memori-memori lama langsung berputar otomatis di kepala gue. Gue inget betapa seringnya gue nolak diajak jamaah sama Abi dengan alasan tanggung lagi ngegame. Gue inget betapa seringnya gue memotong ucapan Abi pas beliau lagi berusaha nasehatin gue soal agama. Sepanjang jalan, dada gue rasanya mau meledak oleh sebuah kesadaran yang sangat telat: gue udah terlalu banyak membuang waktu untuk hal-hal yang fana, dan gue udah menyia-nyiakan sosok yang selama ini menjadi tameng doa dalam hidup gue.

Pas gue sampai di rumah sakit, semuanya udah terlambat. Di dalam ruang instalasi darurat, gue nemuin tubuh Abi udah membujur kaku di atas bangkar, ditutupi selembar kain jarik putih sampai ke kepala. Umi lagi memeluk kaki Abi sambil menangis lirih dalam kepasrahan. Langkah kaki gue mendadak lumpuh, gue jatuh berlutut di samping bangkar Abi. Gue buka kain penutup wajah Abi yang kelihatan sangat putih, bersih, dan tersenyum sangat damai seolah beliau cuma lagi tertidur lelap setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Gue pegang tangan Abi yang biasanya hangat, tapi sore itu rasanya bener-bener dingin, sekaku es.

"Pak... bangun, Pak. Ini Jey udah pulang. Jey udah gak sibuk lagi sekarang, Abi. Tolong jangan tinggalin Jey dulu..." bisik gue parau di telinga Abi, air mata gue tumpah membasahi pipi dingin beliau. Tapi gak ada jawaban. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding rumah sakit yang seolah mengejek keterlambatan gue. Di momen kehancuran batin itu, Umi berjalan mendekat, merangkul pundak gue yang bergetar hebat, lalu menyerahkan selembar kertas yang udah agak lecek dan sebuah buku yasin kecil milik Abi. 'Ini dari Abi, Jey. Abi tulis ini semalam pas nungguin kamu pulang subuh,' kata Umi dengan suara yang masih serak.

Dengan tangan yang gemetar parah, gue buka lipatan kertas itu. Di dalamnya ada tulisan tangan Abiyang sangat gue kenal, bunyinya: *'Untuk anakku, Jey. Abi tahu kamu sibuk mengejar dunia, dan Abi gak pernah melarang itu. Tapi ingat, Nak, dunia ini cuma persinggahan sementara. Siapkan dirimu sebersih mungkin sebelum ajal menjemput. Sedia akumu sebelum datangnya hujan takdir yang gak bisa kamu hindari. Abi selalu mendoakanmu di setiap sujud malam Abi, agar kelak kita bisa berkumpul lagi di jannah-Nya tanpa ada lagi rasa lelah.'* Membaca tulisan itu, batin gue bener-bener remuk redam. Kalimat 'Sedia aku sebelum hujan' itu ternyata maksudnya adalah mempersiapkan diri, iman, dan amal shalih sebelum kematian datang menjemput tanpa permisi.

Malam itu, setelah proses pemakaman Abi selesai, gue gak langsung pulang ke rumah. Gue duduk sendirian di samping gundukan tanah makam Abi yang masih basah dan wangi bunga selasih, di bawah sisa-sisa gerimis malam yang dingin. Temen-temen tongkrongan gue berdatangan, ngasih ucapan bela sungkawa, tapi semua kehadiran mereka gak bisa sedikit pun mengurangi rasa hampa dan sesak yang memenuhi dada gue. Validasi dari mereka, jabatan gue di kantor, atau uang di rekening gue bener-bener berasa kayak sampah yang gak ada gunanya sama sekali di depan sebuah kematian. Jiwa gue bener-bener kosong melongpong, menyadari betapa miskinnya bekal akhirat yang gue punya selama ini.

Di tengah kegelapan pemakaman itu, gue menatap langit malam yang mulai bersih dari awan mendung. Gue tersungkur di samping makam Abi, menyentuh tanahnya yang basah, dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, gue berdoa dengan hati yang bener-bener hancur, tulus, dan tanpa kepalsuan sedikit pun. Gue sadar, Abi udah selesai menyiapkan 'payung' amalnya sebelum hujan kematian menjemputnya, makanya wajah Abi tersenyum sangat damai. Sementara gue? Gue masih berdiri telanjang di tengah lapangan, tanpa persiapan apa pun, menantang badai takdir dengan kesombongan masa muda yang fana.

"Ya Allah... Ampuni hamba-Mu yang buta ini. Hamba terlalu sibuk ngejar bayangan dunia sampai lupa pada-Mu, lupa pada Abiyang selalu ngetuk pintu langit buat hamba. Malam ini, di depan makam Abi, hamba bertobat, Ya Allah... Tolong terima sisa umur hamba yang gak seberapa ini. Izinkan hamba menata kembali hati yang hancur ini, membersihkan diri dari segala dosa, dan jadikan hamba anak yang shalih agar doa hamba bisa sampai dan menerangi kubur Abi..."

Gue tumpahkan segala penyesalan dan janji tobat itu dalam keheningan malam makam. Rasa sesak yang sedari tadi mencekik dada perlahan-lahan menguap, berganti dengan sebuah tekad baru yang sangat kuat di dalam batin. Gue sadar kalau menangisi kepergian Abi secara berlebihan gak bakal bisa muter balik waktu. Satu-satunya hal berharga yang bisa gue lakuin sekarang adalah mewujudkan impian Abi: menjadi anak yang shalih dan mulai mempersiapkan diri gue sendiri sebelum 'hujan' itu datang menjemput gue pula.

Keesokan harinya, kehidupan berjalan seperti biasa bagi orang luar, tapi bagi gue, semuanya udah berubah total. Gue tetep bekerja keras di kantor, tapi jam kerja gue gak lagi menjajah waktu ibadah gue. Begitu adzan berkumandang, HP langsung gue silent, kerjaan gue tinggal, dan gue langsung melangkah paling depan menuju mushola untuk shalat jamaah. Setiap sepertiga malam, kini giliran gue yang menggelar sejadah di ruang tengah, menggantikan posisi yang dulu selalu diisi oleh Abi, melafalkan dzikir dan mengirimkan untaian doa terbaik untuk Abi di alam barzah.

Gue udah gak peduli lagi kalau dibilang gak asyik atau kuper karena sering absen dari tongkrongan malam yang gak jelas fungsinya. Gue udah nemuin ketenangan yang hakiki di atas sejadah, sebuah kedamaian yang gak pernah bisa dibeli pakai harta duniawi. Di setiap rintik hujan yang turun membasahi bumi, gue selalu diingatkan pada pesan terakhir Abi. Kini, prioritas hidup gue cuma satu: mempersiapkan diri, membersihkan hati, dan memupuk amal shalih sebanyak mungkin. Karena gue tahu, ajal gak nunggu kita siap, tapi kitalah yang harus selalu siap sedia sebelum hujan takdir itu datang menjemput dan membawa kita kembali pulang ke hadapan Sang Pencipta.

Saat Hati Mulai Rapuh

SAAT HATI MULAI RAPUH

Oleh: Idwik

Gue selalu bangga sama label yang ditempel orang-orang ke diri gue: 'Si Paling Strong'. Di tongkrongan, di rumah, sampai di urusan kampus, gue adalah tipe orang yang gak pernah absen buat ketawa paling kencang, ngasih solusi paling logis kalau temen lagi curhat, dan selalu jadi orang pertama yang bilang, 'Tenang, itu masalah kecil, bisa kita kelarin bareng-bareng.' Bagi gue, menunjukkan sisi lemah atau kelihatan sedih di depan orang lain itu adalah sebuah pantangan besar. Gue ngerasa kalau gue sedih, dunia bakal ikut runtuh dan gue bakal kehilangan kendali atas hidup gue sendiri. Alhasil, gue selalu memoles penampilan gue dengan energi positif yang meluap-luap, tersenyum lebar ke setiap orang, dan memastikan kalau vibes gue tetap asyik di mata siapa pun. Gue menikmati peran itu, bener-bener menikmati pujian sebagai sosok yang tegar dan gak pernah punya masalah berat.

Tapi, manusia tetep aja manusia. Kita bukan robot yang didesain dari baja dan gak punya perasaan. Sehebat apa pun gue berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, ada masanya ketika tumpukan masalah datang beruntun tanpa permisi, menghantam dinding pertahanan yang udah gue bangun bertahun-tahun. Semuanya dimulai dari kegagalan beruntun yang gue alami belakangan ini. Proyek idealis yang udah gue rancang berbulan-bulan bareng tim tiba-tiba hancur berantakan karena masalah internal, IPK gue semester ini terjun bebas akibat fokus gue yang terpecah, dan yang paling bikin dada gue sesak adalah kondisi finansial keluarga yang mendadak goyah parah. Di saat yang sama, ekspektasi orang-orang di sekitar gue tetep sama tinggi. Mereka masih memandang gue sebagai tempat bersandar, tanpa pernah ada satu pun yang bertanya, 'Jey, lo sendiri sebenernya baik-baik aja gak?'

Gue mulai ngerasa ada yang aneh di dalam dada gue. Setiap pagi pas gue bangun tidur, ada rasa malas dan berat yang luar biasa cuma buat sekadar menggeser selimut. Jantung gue sering tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan yang jelas, dan pikiran gue langsung overthinking liar ke mana-mana. Gue yang biasanya paling males diam di kamar, sekarang justru lebih suka mengunci diri dalam kegelapan setelah pulang nongkrong. Pas bareng anak-anak di kafe, gue masih bisa ketawa lepas seolah gak ada beban, ngikutin jokes mereka, dan ikutan nge-hype tren terbaru. Tapi ironisnya, pas gue pamit pulang dan mesin motor gue mulai menyala di jalanan malam yang sepi, senyuman di wajah gue langsung luntur seketika. Topeng asyik itu mendadak lepas, menyisakan raut wajah yang bener-bener lelah dan tatapan mata yang kosong.

Puncaknya terjadi pada suatu malam minggu. Di luar sana, jalanan kota lagi ramai-ramainya oleh suara kendaraan dan gelak tawa anak muda yang menikmati malam. Sementara gue? Gue cuma berbaring telentang di atas kasur tanpa menyalakan lampu kamar tunggal. HP gue tergeletak di samping bantal, layarnya terus menyala menampilkan ratusan chat dari grup tongkrongan yang ngajakin keluar malam ini. 'Jey, lo di mana? Kurang lo gak rame nih!', 'Jey, buruan tancap gas ke basecamp, kita tungguin!' Biasanya gue bakal jadi orang pertama yang bales dengan stiker kocak, tapi malam itu, jangankan buat bales chat, buat ngetik satu huruf aja rasanya tangan gue lemas banget. Saat itulah, untuk pertama kalinya dalam hidup, gue ngerasa bener-bener rapuh. Hati gue rasanya kayak gelas kaca yang retak seribu, tinggal nunggu satu senggolan kecil lagi buat hancur berkeping-keping.

Rasa sepi yang mencekam langsung datang menyergap tanpa ampun. Dada gue sesak, seolah-olah ada batu besar yang ditaruh di atasnya sampai gue kesulitan buat narik napas dalam-dalam. Air mata yang selama bertahun-tahun ini selalu gue tahan karena alasan 'gengsi' dan 'cowok gak boleh cengeng', malam itu tumpah ruah begitu aja tanpa bisa gue bendung lagi. Gue nangis sesenggukan sendirian di pojokan kamar yang gelap, meremas bantal erat-erat agar suara tangisan gue gak kedengeran sama orang rumah. Gue ngerasa bener-bener capek. Capek sama keadaan, capek sama kegagalan, dan yang paling utama, capek karena harus selalu kelihatan kuat di depan semua orang. Di titik terendah itu, gue ngerasa kehilangan arah, gak tahu harus cerita ke siapa, karena selama ini gue selalu jadi pendengar, bukan orang yang didengar.

Di tengah keputusasaan yang luar biasa itu, pandangan mata gue yang masih basah oleh air mata gak sengaja tertuju pada sebuah kaligrafi kecil yang terpajang di dinding kamar, pemberian dari kakek gue dulu. Kaligrafi itu bertuliskan potongan ayat dari Surah Al-Baqarah: *'La yukallifullahu nafsan illa wus'aha...'* Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Membaca ayat itu, dada gue rasanya kayak dihantam gada besar, tapi setelahnya ada rasa hangat yang perlahan mengalir. Astagfirullah... seketika itu juga gue sadar akan satu kesalahan besar yang selama ini gue lakukan. Selama ini, saat hati gue mulai rapuh, gue selalu mencari tempat bersandar pada ekspektasi manusia. Gue selalu sibuk mempertahankan image hebat di depan makhluk, tapi gue lupa buat bersandar dan mengadu pada Sang Pencipta yang memiliki hati ini.

Gue bangkit dari kasur dengan sisa-sisa tenaga yang gue punya, menyeka air mata dengan punggung tangan, lalu melangkah ke kamar mandi. Pas air wudhu mengalir membasahi wajah, tangan, dan kepala gue, rasa dinginnya bener-bener meresap sampai ke dalam batin, perlahan menenangkan kepanikan yang sedari tadi merajai pikiran gue. Gue menggelar sejadah di tengah kamar, memakai pakaian terbaik, dan berdiri menghadap kiblat. Pas gue mengangkat kedua tangan dan mengucap *Allahu Akbar*, rasanya seluruh beban dunia yang selama ini menggantung berat di pundak gue mendadak runtuh. Gue shalat dengan sangat pelan, meresapi setiap kalimat yang keluar dari mulut gue, kalimat-kalimat yang selama ini sering gue baca dengan terburu-buru.

Pas gerakan shalat gue sampai pada posisi sujud terakhir, tangisan gue yang sempat reda kembali pecah. Tapi kali ini, tangisannya bukan lagi karena rasa frustrasi atau putus asa yang gelap, melainkan tangisan penyerahan diri yang seutuhnya. Tubuh gue bergetar hebat di atas sejadah, air mata gue menetes membasahi kain tempat sujud gue. Di dalam keheningan malam itu, di hadapan Allah, gue lepaskan semua topeng 'Si Paling Strong' yang selama ini menyiksa batin gue. Gue akui semua kelemahan gue, semua ketakutan gue, dan semua kegagalan gue tanpa ada satu pun yang gue tutup-tutupi lagi dengan ego yang semu.

"Ya Allah... Hati hamba bener-bener rapuh malam ini. Hamba gak sekuat yang orang-orang kira, hamba hanyalah makhluk kecil yang penuh dengan kekurangan. Selama ini hamba sombong, ngerasa bisa nyelesaiin semuanya sendiri dan lupa buat bersandar pada-Mu. Tolong kuatkan kembali hati yang patah ini, Ya Allah... Tenangkan pikiran hamba yang berisik, dan bimbinglah hamba melewati masa-masa sulit ini. Hanya kepada-Mu hamba berserah diri, karena hamba tahu Engkau gak akan pernah ninggalin hamba sebatang kara."

Gue tumpahkan seluruh keluh kesah itu dalam sujud yang sangat lama, mengadu sedetail-detailnya seperti seorang anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya, namun ini jauh lebih agung karena gue sedang mengadu pada Pemilik Semesta Alam. Setelah selesai mengucap salam, gue gak langsung beranjak. Gue duduk bersila di atas sejadah, mengambil tasbih, dan mulai melafalkan dzikir dengan suara lirih. Setiap butir tasbih yang bergeser di jari gue seolah-olah membawa pergi satu per satu beban yang menghimpit dada gue. Rasa damai dan tenang yang luar biasa, yang udah berbulan-bulan gak pernah gue rasain di tongkrongan mana pun, perlahan-lahan kembali mengalir memenuhi ruang kosong di dalam hati gue.

Malam itu, di atas sejadah yang menjadi saksi bisu kerapuhan gue, gue dapet satu pelajaran hidup yang bener-bener mahal dan berharga. Menjadi rapuh itu ternyata gak apa-apa. Menangis dan mengakui bahwa diri kita sedang gak baik-baik saja itu bukan tanda kalau kita lemah atau kalah. Itu adalah pengingat kodrat kita sebagai manusia, bahwa kita bener-bener butuh Allah dalam setiap helaan napas kita. Kesalahan terbesar kita adalah ketika kita merasa rapuh, kita justru lari menjauh dari-Nya dan berpura-pura kuat di depan manusia, padahal satu-satunya obat untuk hati yang patah adalah dengan kembali bersujud pada Sang Memiliki Hati.

Pas fajar mulai menyingsing di ufuk timur, gue membuka jendela kamar gue lebar-lebar, membiarkan udara pagi yang segar masuk menghapus sisa-sisa kesedihan semalam. Gue mengambil HP gue yang sempat gue abaikan. Gue gak membalas chat tongkrongan dengan kepura-puraan lagi, melainkan dengan jujur dan santai: *'Sori semalem gue ketiduran, lagi butuh waktu buat istirahat sejenak, Bro.'* Ternyata respons temen-temen gue tetep baik, mereka memaklumi tanpa menghakimi. Hari itu gue berjanji pada diri sendiri untuk gak akan pernah lagi membebani diri gue dengan topeng kesempurnaan. Saat hati gue mulai rapuh di masa depan nanti, gue tahu persis ke mana gue harus melangkah pulang: bukan ke tempat tongkrongan yang bising, bukan ke validasi media sosial yang semu, melainkan kembali bersujud di atas sejadah, merendahkan diri sedalam-dalamnya di hadapan Tuhan, karena di sanalah kekuatan yang sesungguhnya berada.

Berpura-pura Suci

BERPURA-PURA SUCI

Oleh: Idwik

Gue selalu suka sensasi pas notifikasi HP gue bunyi bertubi-tubi tanpa henti. Setiap kali gue membuka layar kunci, angka di ikon aplikasi media sosial gue selalu menunjukkan grafik yang menanjak tajam. Like masuk berhamburan bagaikan air bah, komentar pujian mengalir deras di setiap postingan, dan angka followers di akun pribadi gue merangkak naik ratusan hingga ribuan setiap harinya. Di dunia maya yang serba fana itu, gue dikenal sebagai sosok cowok berwajah adem, kalem, yang rajin banget nge-share konten-konten dakwah visual, potongan ayat Al-Qur'an dengan latar estetis, dan untaian hadits penyejuk kalbu. Semua orang di kolom komentar memuja gue dengan sebutan "Akhi", "Adem banget ngelihat vibes-nya", atau "Ini sih cowok idaman dunia akhirat banget, Kak". Jujur, semua pujian dan atensi itu bener-bener bikin kecanduan. Rasanya kayak dapet suntikan dopamin dosis tinggi yang langsung menerbangkan ego gue tinggi-tinggi ke langit ketujuh, membuat gue merasa menjadi manusia yang paling istimewa dan terpilih di antara yang lain.

Tapi, kalau lo semua punya kekuatan buat ngintip kehidupan asli gue pas layar HP itu mati dan terkunci, lo bakal nemuin sebuah realita yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Di balik akun ber-vibes islami dan religius itu, gue hanyalah seorang cowok biasa yang luar biasa hampa. Konten-konten rohani yang gue unggah tiap subuh itu sama sekali bukan lahir dari ketulusan hati yang rindu pada Tuhan atau keinginan murni untuk menyebarkan kebaikan, melainkan hasil dari riset algoritma yang matang. Gue tahu persis jam-jam berapa aja netizen bakal ramai memegang HP, gue tahu potongan audio religius atau sholawat mana yang lagi tren dan berpotensi viral, dan gue tahu banget sudut pengambilan video serta pencahayaan yang bisa bikin wajah gue kelihatan paling khusyuk sekaligus estetik pas lagi pura-pura membaca mushaf Al-Qur'an di pojokan kamar. Semuanya murni demi angka statistik, demi metrik engagement, dan demi sebuah validasi semu dari orang-orang yang bahkan gak mengenal nama asli gue.

Setiap kali selesai memproduksi atau mengunggah konten dakwah, gue bakal langsung balik ke setelan pabrik gue yang asli. Shalat lima waktu yang di video gue sebut sebagai tiang agama dan pelipur lara, kenyataannya sering banget gue rapel di ujung waktu, bahkan gak jarang terlewat begitu aja kalau gue udah keasyikan mabar game online atau nongkrong sampai larut subuh bareng anak-anak tongkrongan. Mulut gue yang di dalam video bisa ngomong manis banget soal pentingnya menjaga pandangan, menjauhi maksiat, dan menjaga hati, pada realitanya malah sering banget dipake buat ghibah, nge-judge orang lain, atau scrolling akun-akun medsos yang gak semestinya sampai mata gue lelah. Gue hidup di dalam sebuah topeng tebal nan indah yang gue desain sendiri dengan sangat rapi dan penuh perhitungan, sampai-sampai lingkaran pertemanan gue di kampus bener-bener percaya kalau gue adalah sosok yang suci, lurus, tanpa cela, dan sangat dekat dengan Tuhan.

"Gila, Jey, lo bener-bener panutan banget buat anak muda zaman sekarang, deh. Kemarin ceramah singkat lo di Reels soal memaafkan diri sendiri bikin sepupu gue bener-bener dapet hidayah dan nangis, tahu gak," kata Dimas, salah satu temen kampus gue pas kita lagi santai nongkrong di kantin siang itu. Mendengar itu, gue cuma tersenyum tipis, memasang wajah rendah hati dan penuh wibawa yang sejujurnya sudah gue latih berkali-kali di depan cermin kamar. "Ah, biasa aja, Bro. Itu semua cuma titipan dan titisan hidayah dari Allah, gue pribadi juga masih banyak kekurangan dan masih harus banyak belajar," jawab gue dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan agar terdengar sangat bijaksana. Di dalam hati? Gue tertawa puas. Gue merasa sangat hebat karena berhasil menaklukkan ekspektasi orang-orang di sekitar gue. Gue bangga bisa menyetir cara orang lain menilai diri gue, meskipun jauh di dalam lubuk hati kecil yang paling dalam, ada sesuatu yang perlahan-lahan mulai terkikis dan hancur.

Lambat laun, topeng kesucian ini rasanya menjadi semakin berat dan menyesakkan buat dipakai sehari-hari. Hidup dalam dua kepribadian yang saling bertolak belakang secara ekstrem itu ternyata bener-bener menguras energi batin gue. Di satu sisi gue dituntut untuk tetap menjaga reputasi serta citra sebagai "anak shalih ideal" di depan publik dan kamera, tapi di sisi lain, jiwa asli gue bener-bener garing, kehausan, dan kelaparan akan ketenangan yang nyata. Gue mulai merasakan ada keanehan yang mendalam tiap kali gue selesai mengunggah video dakwah terbaru yang berhasil menembus puluhan ribu views. Alih-alih merasa senang, tenang, atau damai karena habis membagikan ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak, yang gue rasain justru malah sebaliknya. Ada sebuah ruang kosong yang sangat besar di dalam dada gue, sebuah lubang hitam tak berdasar yang perlahan-lahan menyedot seluruh ketenangan hidup gue dan menyisakan kehampaan yang aneh.

Puncaknya terjadi pada suatu malam di pertengahan bulan Ramadhan yang lalu. Jalanan di luar rumah sepi banget, hanya ada suara lolongan anjing sayup-sayup dan desau angin malam di kejauhan. Kamar tidur gue bener-bener senyap. Beberapa menit yang lalu, gue baru aja membagikan sebuah video refleksi diri yang mendalam tentang kemuliaan malam Lailatul Qadar yang gue edit sedemikian rupa menggunakan aplikasi kekinian, lengkap dengan latar musik instrumen yang menyayat hati dan filter visual yang dramatis. Video itu langsung meledak dalam hitungan menit. Ribuan orang memberikan tanda suka, puluhan orang membagikan ulang konten itu ke cerita Instagram mereka, dan kolom komentar dipenuhi kalimat-kalimat penuh kekaguman dan doa. Tapi anehnya, malam itu, suntikan dopamin dari internet yang biasanya sangat ampuh bikin gue langsung bahagia, tiba-tiba gak bekerja sama sekali di tubuh gue.

Gue meletakkan HP di atas kasur dengan posisi layar menghadap ke bawah, seolah-olah muak melihat angka-angka yang terus berputar. Gue berjalan pelan ke arah jendela kamar, menatap langit malam yang mendung kelam tanpa ada satu pun bintang yang bersinar. Di momen itulah, sebuah rasa sunyi dan sepi yang amat sangat luar biasa langsung menyergap dan mencekik gue tanpa ampun. Rasanya bener-bener menakutkan dan asing. Gue merasa dikelilingi oleh ratusan ribu orang di dunia maya yang memuja-muja nama gue, tapi di dalam ruangan ini, gue ngerasa bener-bener sendirian, terisolasi, hampa, dan tak berarti. Dada gue rasanya sesak banget, seolah-olah pasokan oksigen di kamar itu mendadak habis menguap. Kekosongan jiwa yang selama berbulan-bulan ini coba gue abaikan dengan cara berburu angka likes dan pujian, malam itu tumpah ruah menuntut untuk diakui keberadaannya.

Gue membalikkan badan dan menatap bayangan diri gue sendiri di kaca lemari yang besar. Di sana berdiri seorang cowok yang penampilannya kelihatan sangat asing bagi gue sendiri. "Siapa sih lo sebenernya? Cowok shalih di video itu atau bajingan munafik yang berdiri di sini?" bisik gue lirih pada bayangan itu. Air mata yang udah bertahun-tahun gak pernah keluar, tiba-tiba aja menetes deras membasahi pipi gue. Malam itu, gue bener-bener ngerasa jijik dan muak sama diri gue sendiri. Gue merasa kayak seorang penipu ulung yang paling hina karena tega mempermainkan simbol-simbol agama demi sebuah popularitas murahan dan demi gengsi di hadapan manusia. Orang-orang mengira gue lagi berjalan mendekatkan diri pada Tuhan, padahal kenyataannya gue cuma lagi merangkak mendekatkan diri pada pujian manusia. Jiwa gue bener-bener kosong melongpong, gak ada isinya sama sekali. Semua konten itu kosong, semua pujian itu hambar, dan semua reputasi itu gak lebih dari sekadar fatamorgana yang menipu batin.

Gue terduduk lemas di atas lantai kamar yang dingin dengan lutut ditekuk. Di tengah rasa frustrasi, ketakutan, dan kekosongan yang membakar dada, ingatan gue tiba-tiba melayang pada sebuah hadits yang dulu pernah gue baca sekilas saat sibuk mencari bahan mentah untuk dijadikan konten medsos—hadits yang menceritakan tentang orang-orang yang pertama kali diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka, yang salah satunya adalah seorang alim yang menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain hanya agar disebut sebagai orang yang hebat dan alim oleh manusia. Seketika itu juga, seluruh tubuh gue langsung gemetar hebat seolah tersengat listrik. Jantung gue berdegup kencang karena rasa takut yang teramat sangat bergejolak di dalam dada. Selama ini gue merasa aman-aman aja dan terlindungi dengan kepura-puraan ini, tanpa pernah gue sadari kalau gue sedang berjalan pelan-pelan dengan mata tertutup menuju jurang kehancuran yang hakiki di akhirat nanti.

Malam itu juga, di sepertiga malam yang sunyi dan dingin, gue memaksakan diri yang lemas untuk bangkit berdiri. Dengan langkah kaki yang terasa sangat berat dan tubuh yang masih gemetar, gue berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Pas air dingin itu menyentuh dan membasahi kulit wajah gue, rasanya kayak ada beban berat yang luruh dari kepala gue. Gue berjalan kembali ke kamar lalu menggelar selembar kain sejadah di pojok ruangan, tempat yang biasanya cuma gue pakai sebagai properti atau latar belakang estetis saat mengambil foto atau video konten. Tapi kali ini bener-bener berbeda. Gak ada lampu ring light yang menyala terang, gak ada kamera HP yang siap merekam setiap gerakan gue, dan gak ada skrip kalimat bijak yang harus gue hafalkan di luar kepala. Hanya ada gue yang hina, selembar kain sejadah, dan kegelapan sepertiga malam yang sunyi.

Gue mengangkat kedua tangan gue ke atas untuk memulai gerakan takbiratul ihram. Pas lidah dan bibir gue mengucap kalimat Allahu Akbar, dada gue langsung bergetar hebat menahan gejolak rasa yang membuncah. Jalannya shalat kali ini rasanya menjadi sangat panjang, melelahkan, dan berat banget, karena setiap bait bacaan shalat yang gue ucapkan langsung menghujam tajam ke dalam kesadaran jiwa gue yang paling dalam. Pas gerakan gue sampai di posisi sujud terakhir, seluruh benteng pertahanan ego dan kesombongan gue bener-bener runtuh total tak tersisa. Gue gak bisa lagi membendung suara tangisan yang sedari tadi sudah menyumbat di tenggorokan gue. Tubuh gue terguncang hebat di atas lantai sejadah. Gue menangis sejadi-jadinya di keheningan malam itu, meluapkan semua rasa sesak, kehampaan, kehinaan, dan rasa bersalah yang selama ini gue sembunyikan rapat-rapat di balik topeng kesucian.

"Ya Allah... Ampuni hamba. Hamba adalah makhluk-Mu yang paling palsu, yang paling munafik, dan paling hina. Selama ini hamba tega menjual nama-Mu yang agung hanya demi mendapatkan pujian dari manusia yang sejatinya gak ada harganya dan gak ada gunanya sama sekali. Hamba selalu berpura-pura suci dan bersih di hadapan makhluk-Mu, padahal jiwa hamba sangat busuk, kotor, dan penuh dosa di hadapan-Mu. Tolong isi kembali hati hamba yang kosong dan mati ini dengan sepercik ketulusan iman yang nyata, Ya Allah... Tolong jangan campakkan hamba ke dalam golongan orang-orang yang merugi."

Gue tumpahkan dan adukan semua pengakuan dosa serta kebusukan hati itu tanpa ada satu pun yang gue tutup-tutupi lagi di hadapan-Nya. Gue bener-bener berserah diri sepasrah-pasrahnya, memohon dengan sangat agar Allah yang Maha Pengampun sudi menerima kembali hamba-Nya yang penuh dengan kepalsuan ini. Di dalam sujud yang berlangsung sangat lama dan basah oleh air mata itu, gue akhirnya sadar sesadar-sadarnya kalau berpura-pura suci itu sama sekali gak ada gunanya dan hanya melelahkan batin. Pujian dari jutaan manusia di internet gak bakal pernah bisa memberikan ketenangan atau kedamaian sedikit pun ke dalam jiwa jika Allah murka dan berpaling dari kita. Validasi dari netizen itu gak bakal bisa menyelamatkan atau menemani gue pas tubuh gue sudah terbujur kaku di dalam liang kubur yang gelap nanti. Kepalsuan hanya akan melahirkan kekosongan, dan satu-satunya cara untuk mengisi kekosongan itu adalah dengan kembali pada-Nya secara jujur, tulus, dan apa adanya tanpa embel-embel pencitraan.

Pas gue mengakhiri shalat dengan mengucapkan salam ke arah kanan dan ke kiri, sebuah perasaan lega yang luar biasa yang belum pernah gue rasakan seumur hidup langsung merayap dan memenuhi dada gue. Rasa sesak, cemas, dan hampa yang tadi sempat mencekik leher gue, perlahan-lahan menguap hilang digantikan oleh sebuah kedamaian yang sangat sejuk, tenang, dan tulus—sesuatu yang gak pernah bisa gue dapetin dari jutaan likes atau viewers di media sosial mana pun. Gue mengambil HP gue yang masih tergeletak bisu di atas kasur. Tanpa ada keraguan atau ketakutan sedikit pun di hati, gue membuka aplikasi media sosial gue dan langsung menghapus permanen beberapa video terakhir yang gue bikin dengan niat terselubung untuk pamer kesalihan. Gue juga mengubah bio profil akun gue yang semula penuh dengan kalimat-kalimat dakwah sok bijak, menjadi satu kalimat sederhana yang lahir dari kejujuran hati: Hanya seorang pendosa yang sedang mengetuk pintu ampunan-Nya.

Gue tahu persis bahwa proses untuk menyembuhkan hati yang sempat rusak dan sakit karena penyakit riya, ujub, dan gila pujian ini gak bakal mudah dijalani ke depannya. Bakal butuh perjuangan keras dan waktu yang lama untuk bener-bener bisa membersihkan niat di setiap amalan ibadah gue agar murni karena-Nya. Tapi malam itu, gue udah mengambil keputusan yang bulat dan final. Gue gak mau lagi hidup sengsara demi penilaian mata manusia. Gue gak mau lagi menjadi budak konten yang rela menukar kesucian iman demi angka statistik digital yang fana dan menipu. Biarlah ke depannya gue kelihatan sebagai cowok biasa saja, bahkan gak dikenal atau dilupakan sama sekali oleh orang-orang di dunia maya, asalkan nama gue gak asing di hadapan para malaikat langit-Mu. Karena pada akhirnya, harta yang paling berharga dan menenangkan jiwa di dunia ini adalah ketika kita berani jujur pada diri sendiri, mengakui segala kekurangan, dan bener-bener tulus bersujud dengan khusyuk di hadapan Sang Pencipta, tanpa ada kepalsuan, tanpa ada kamera, dan tanpa perlu berpura-pura menjadi suci lagi.

Ada ttitik titik diujung Do'a

ADA TITIK-TITIK DI UJUNG DOA SAAT MENUJU MASA  PENSIUN  Oleh: Idwik Malam telah beranjak jauh melewati batas puncaknya, menyisakan desau...