Senin, 06 Juli 2026
Sepatu
Senin, 29 Juni 2026
Ketika Doa Belum Menjelma Nyata
Ketika Doa Belum Menjelma Nyata
Jika inginmu hari ini masih tertahan di batas langit, Dan asamu patah sebelum sempat engkau genggam, Tetaplah bersabar, meski dada terasa sedikit sempit, Jangan biarkan prasangka membuat hatimu legam.
Allah lebih tahu apa yang paling kau butuh, Bukan sekadar apa yang sedang kau ingini. Rancangan-Nya sempurna, takkan membuatmu runtuh, Dia menenun yang terbaik untukmu di esok hari.
Rezeki dan takdir tak pernah salah alamat, Sabar adalah kunci, ikhlas adalah jalan pulang. Percayalah pada Sang Pencipta dengan penuh khidmat, Sebab di balik penundaan-Nya, ada bahagia yang sedang menjelang
Sujud Pasrah di Batas Keinginan
Sujud Pasrah di Batas Keinginan
Ketika jemari menggenggam harap pada sesama, Seringkali yang pulang hanyalah kecewa yang membiru. Manusia itu rapuh, sama-sama menengadah dada, Tak layak jadi sandaran tempat mengadukan rindu.
Maka palingkan wajahmu, wahai jiwa yang lelah, Tataplah langit, tempat Sang Pemilik Semesta bertahta. Berharaplah hanya pada Dia, Sang Maha Penggubah, Yang menciptakan jemari, jantung, dan helai nafas kita
Jumat, 26 Juni 2026
Di Balik Riuh Lapangan Hijau
Di Balik Riuh Lapangan Hijau
Peluit ditiup, layar kaca pun menyala, Dunia terhipnotis dalam satu lingkaran bola. Sorak-sorai bergemuruh, jaring gawang bergetar, Menatap sang bintang dengan decak kagum yang pendar.
Sembilan puluh menit waktu bergulir begitu cepat, Menahan napas, menanti gol yang paling tepat. Namun di sela drama taktik dan adu gengsi, Jangan biarkan hatimu lupa akan esensi.
Ketika adzan berkumandang membelah malam, Lebih nyaring dari sorak suporter yang menghantam. Tinggalkan sejenak layar yang memikat mata, Sujudlah pada-Nya, Pemilik seisi semesta.
Skor pertandingan bisa berubah dalam sekejap mata, Namun catatan amalmu abadi tak pernah dusta. Juara dunia akan berganti setiap masa, Namun rida Tuhanmu adalah kemenangan yang nyata.
Nonton piala dunia boleh-boleh saja, Menikmati indahnya permainan kaum manusia. Asal lima waktu tak kau biarkan terlewat, Sebab di akhirat nanti, itulah tiket keselamatan yang hebat.
Jumat, 19 Juni 2026
Meski Adoh Rogo
Meski Adoh Rogo Namung Atiku Tetep Cedak
Jarak lan wektu dadi sekat ing raga
Misahne jangkah, nguji kuate rasa
Sliramu ing kono, aku neng kene
Mung iso nyawang liwat sepi ing wengi sing seje
Nanging, amba samudera ora bakal dadi pambeng
Mripat iki pancen ora iso nyawang langsung
Nanging rasa tresna iki ora bakal dadi ambyar
Mung siji jenengmu sing gawe ati dadi padhang
Rogo oleh adoh, nanging rasa ora kena pisah
Saben angin sumilir, tak titipne tresna sing bungah
Sliramu tetep dadi detak ing njeron dodo
Ora bakal luntur, senajan adoh dadi kahanan utama
Cukupen kangenmu liwat donga sing tak puji
Mergo neng kene, atiku tetep cedak lan dadi siji
Ngenteni wektu sing endah bakal nemokake
Rogo lan ati, nyawiji saklawase
Tresnoku Marang Sliramu
Tresnoku Marang Sliramu
Krasa perih nalika nyawang netramu
Ana rasa sing tulus, nanging kehalang wektu
Garis pepesthen wis gawe crito sing bedo
Mung iso nyawang, ora iso nyanding slira
Aku ngerti, tangan iki ora bakal iso nggandheng
Langkahmu lan langkahku wis ra sapanunggalan
Nanging rasa ing ati ora bakal dadi peteng
Jenengmu tetep tak ugo dadi kembange angen-angen
Tresnoku marang sliramu iku dudu ukara kepeksa
Senajan raga iki ora bakal bisa ngrasa
Sliramu tetep dadi bagean sing paling endah
Ing njeron donga, jenengmu ora bakal owah
Ikhlas... senajan abot tak lakoni
Nresnani sliramu ora kudu nduweni
Saklawase rasa iki bakal tetep dadi siji
Kadhung jeru ing ati, ra bakal ilang nganti mati
Gusti Alloh seng Nentokno
GUSTI ALLOH SENG NENTOKNO
Saben esuk jangkah sikil diwiwiti
Ngoyak impen lan reroncen donga ing ati
Kringet tumetes, raga ngrasakne sayah
Golek upo, ngupoyo urip sing berkah
Menungso mung iso ngrancang lan ngreko
Muter utek, ngetokne kabeh doyo linuwih
Nanging asring dalan urip ora podo
Gela lan kuciwa ngebaki dodo sing perih
Nanging elinga, kabeh kuwi dudu pungkasan
Urip iki dudu mung babagan menang lan kalah
Ana tangan sing kuwasa, ngatur jagad lan kahanan
Kang paring pepadhang ing pepetenge jangkah
Pasrahno kabeh lara lan kuciwamu
Gusti Alloh seng nentokno pungkasan ceritamu
Pilihan-Ne ora bakal salah, ora bakal kleru
Mesti endah ing wektu sing wis tinentu
Rinduku Padamu
Rinduku Padamu
Oleh : Idwik
Di hamparan sajadah aku terpaku, Menatap langit malam yang membisu. Kau yang biasanya ada di sisiku, Kini melangkah jauh, meniti rindu.
Di sana, di bawah langit Makkah yang mulia, Kau bersujud mengagungkan nama-Nya. Mengenakan kain ihram yang suci putih, Membawa segenap doa yang lirih.
Labaikallahumma labaik... Gema talbiyahmu terasa sampai ke sini. Menggetarkan hati yang sedang didera sepi, Menitipkan namaku dalam setiap sujudmu yang suci.
Aku di sini memeluk erat rindumu, Mendoakan setiap langkah ibadahmu. Pergilah, kekasihku, penuhilah panggilan-Nya, Bawalah pulang berkah dan cinta yang makin mulia.
Rinduku ini biar menjadi tasbih yang berputar, Sabar menanti hingga engkau kembali terdampar. Di pelukan rumah, di sisi hatiku, Menyatukan kembali dua jiwa yang sempat merindu.
Senin, 15 Juni 2026
Indahnya pantai Kertasari
Indahnya Pantai Kertasari
Di pelukan hangat tanah Sumbawa,
Tersembunyi surga yang tenangkan jiwa.
Kertasari namanya, permata yang sunyi,
Menyambut semesta dengan nyanyian bumi.
Hamparan pasirnya membentang bagai sutra,
Dibelai ombak yang menari gembira.
Gradasi biru lautnya memikat mata,
Seolah Tuhan sedang melukis asa.
Angin berhembus membawa pesan damai,
Menyapa pesisir dan ladang rumput laut yang landai.
Di sini waktu seakan berjalan perlahan,
Menghapus lelah, membawa keteduhan.
Kala senja turun di batas cakrawala,
Langit Kertasari memancarkan pesona.
Lukisan jingga berpadu dalam diam,
Menyimpan rindu di balik teduhnya malam.
Jumat, 12 Juni 2026
Godaan Duniawi
Godaan Duniawi
Ia datang bagai fatamorgana yang jelita,
Menawarkan kilau emas dan megahnya tahta,
Membisikkan janji manis tentang bahagia fana,
Membuat mata terpana, hingga jiwa terlena.
Begitu halus ia merayap masuk ke dalam dada,
Mengubah rasa cukup menjadi serakah yang menggoda,
Membuat yang haram tampak begitu indah menawan,
Hingga batas iman perlahan runtuh terlewatkan.
Lari mengejar dunia bagai meminum air lautan,
Semakin diteguk, semakin haus tak keruan,
Waktu habis dalam pacuan yang tiada ujungnya,
Sementara bekal pulang terlupa begitu saja.
Ya Rabb, sadarkan kami dari mimpi yang melalaikan,
Sebelum kain kafan menjadi pakaian yang merapatkan,
Jangan biarkan hati ini tertawan pesona bumi,
Hingga melupakan tempat kembali yang abadi.
Kutepis perlahan segala riuh yang semu ini,
Kuputuskan rantai angan yang mengikat diri,
Sebab sejuta megah dunia takkan pernah sebanding,
Dengan sebaris rida-Mu tempat jiwa bersanding.
Cahaya Kesabaran
Cahaya Kesabaran
Ketika mendung ujian datang menggelayut,
Dan angin cobaan berembus membuat ciut,
Ada satu lentera yang tak boleh padam,
Penyuluh langkah di kala malam teramat kelam.
Itulah sabar... yang sinarnya tak pernah redup,
Menjadi kekuatan di setiap helai napas hidup,
Ia bukan pasrah yang kalah dan menyerah,
Melainkan bertahan dengan senyum yang tabah.
Saat lisan terjaga dari mengeluh,
Dan hati memilih untuk tetap bersimpuh,
Di sanalah cahaya itu mulai berpendar,
Mengubah sesak dada menjadi lapang dan tegar.
Sebab janji-Mu nyata, ya Rabb yang Maha Pengasih,
Bagi jiwa-jiwa yang ridha dalam perih,
Bahwa badai pasti kan berganti pelangi,
Dan setiap sabar bersanding bersama kemudahan yang pasti.
Biar waktu menguji seberapa kuat ku bertahan,
Kan kujadikan sabar sebagai pakaian dan hiasan,
Hingga cahaya itu menuntun langkahku pulang,
Menuju jannah-Mu dengan hati yang tenang.
Taubatku kepada Mu
Taubatku kepada-Mu
Gemetar jemari ini tengadah ke langit-Mu,
Membawa beban dosa yang menggunung bisu,
Hari-hari yang lalu habis dalam kelalaian,
Mengejar bayang dunia yang penuh kepalsuan.
Ya Rabbi...
Kini datang hamba-Mu yang fakir dan hina,
Yang kapok akan nikmat dunia yang fana,
Membawa hati yang remuk redam oleh sesal,
Menangisi waktu yang terbuang tanpa amal.
Di atas sajadah ini, kuakui segala noda,
Setiap khilaf yang sengaja maupun tak diduga,
Tak ada lagi tempatku berlari dan bersembunyi,
Hanya pada ampunan-Mu, asaku digantungkan tinggi.
Basuhlah jiwa yang kotor ini dengan rida-Mu,
Terimalah taubat yang terbit dari lubuk kalbuku,
Gantikan kelamnya masa lalu dengan cahaya taat,
Agar sisa umur ini menjadi bekal yang selamat.
Sebelum waktu benar-benar habis di dunia,
Sebelum napas terhenti di tenggorokan dada,
Kusandarkan seluruh hidup dan matiku,
Terimalah, ya Allah... taubatku kepada-Mu.
Saat hati ingin kembali
Ada masanya riuh dunia terasa sunyi,
Ketika megah dan puji tak lagi berarti,
Jiwa yang lelah bersembunyi di balik penat,
Tiba-tiba merindukan sebuah jalan bertobat.
Saat hati ini ingin kembali...
Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam,
Membawa sebongkah sesal yang teramat dalam,
Mengakui langkah yang sempat tersesat jauh,
Di hadapan-Mu, ego yang tinggi kini runtuh.
Air mata jatuh bukan karena nestapa,
Melainkan rasa syukur yang tak terkira,
Sebab meski hamba-Mu sering melupa,
Pintu rindu-Mu selalu terbuka tanpa jeda.
Kuhamparkan sujud yang paling pasrah,
Membasuh kepingan hati yang sempat patah,
Merasakan damai mengalir perlahan di dada,
Menyadari sejauh apa pun pergi, rumahku adalah Dia.
Kini biarlah sisa waktu yang bergulir,
Hanya berisi taat yang tulus mengalir,
Tuk menjaga rasa yang kini telah pulih,
Saat hati kembali memilih Jalan yang Terpilih.
Ku akan selalu di jalan Mu
Ku Akan Selalu di Jalan-Mu
Oleh : Idwik
Di persimpangan waktu yang penuh fatamorgana,
Langkah kaki ini kadang tertatih dan lena,
Namun cahaya-Mu memanggilku pulang,
Menuntun jiwa dari kegelapan yang panjang.
Biar badai dunia datang menguji,
Takkan kubiarkan arah ini berganti,
Telah kutautkan janji di dalam kalbu,
Bahwa ku akan selalu berada di jalan-Mu.
Dalam setiap helai napas yang Kau beri,
Kucoba merajut ikhlas di sanubari,
Meski kerikil tajam kerap menyapa,
Rahmat-Mu cukup tuk menghapus segala nestapa.
Ketika dunia menawarkan megah yang fana,
Kutepis perlahan demi damai yang nyata,
Sebab kutahu di ujung jalan-Mu yang suci,
Ada rida dan pelukan abadi yang menanti.
Bimbinglah aku, ya Rabb, pemilik semesta,
Agar kaki ini tak goyah digoda rasa,
Hingga akhir waktu menjemput ragaku,
Kan kupastikan... ku selalu di jalan-Mu.
Lembut Hati dengan Dzikir
Lembut Hati dengan Dzikr
Di riuh dunia yang kerap menderu,
Jiwa seringkali lelah dan tersesat kaku,
Hati menjelma batu yang mengeras buntu,
Terjebak dalam amarah dan ego yang semu.
Namun ada penawar di keheningan malam,
Saat bibir mulai mengeja asma-Mu yang dalam,
Subhanallah... runtuh segala angkuh yang mencengkam,
Alhamdulillah... sirna segala gundah yang kelam.
Setiap untaian dzikir yang mengalir lirih,
Bagai tetesan embun menyiram tanah yang perih,
Membasuh luka, mengikis duka yang pedih,
Membuat hati yang keras kembali pulih.
Allahu Akbar... jiwa kembali merunduk pasrah,
Mengakui diri yang penuh dengan khilaf dan salah,
Dalam ruku' dan sujud yang penuh berserah,
Menemukan damai yang tak lagi goyah.
Maka lembutlah hati dalam balutan dzikir,
Menepis benci, mengundang damai mengalir,
Hingga napas terakhir nanti berakhir,
Hanya nama-Mu yang di lisan terukir.
Kamis, 11 Juni 2026
Berpura-pura suci
BERPURA-PURA SUCI
Oleh: Idwik
Gemerincing notifikasi berbunyi bertubi-tubi,
Namun saat layar gawai mati dan terkunci,
Shalat lima waktu kurapel di ujung masa,
Puncaknya di sunyinya malam Ramadhan yang syahdu,
Teringat ancaman ngeri bagi alim yang riya,
Tanpa lampu sorot, tanpa kamera yang membingkai,
Kutumpahkan kebusukan hati tanpa ada yang tersembunyi,
Biarlah kini ku kembali jadi hamba yang biasa,
Saat Hati Mulai Ra[uh
SAAT HATI MULAI RAPUH
Oleh: Idwik
Dunia mengenalku sebagai karang yang perkasa, Si paling tegar, si paling asyik dalam tawa. Tempat bersandar bagi mereka yang luka, Peneduh bagi kawan yang dirundung duka, Tanpa mereka tahu, di balik topengku ada jiwa yang dahaga.
Namun, raga ini hanyalah tanah yang fana, Bukan baja yang tak bisa binasa. Gagal demi gagal datang menerjang tanpa jeda, Ekonomi yang goyah, impian yang luruh ke dada, Hingga dinding pertahananku retak, kehilangan daya.
Malam minggu yang riuh di luar sana, Terasa sunyi dan asing dalam kamar yang buta. Gawai berkedip, pesan kawan memanggil ceria, Namun jemariku kaku, batin ini lelah bersandiwara, "Si Paling Strong" ini ternyata rapuh, tak berdaya.
Dalam gelap, air mata yang bertahun kutahan pun pecah, Mengalir deras, membasahi bantal yang pasrah. Lelah berpura-pura, capek terlihat tanpa celah, Hingga pandanganku tertumbuk pada dinding yang indah, “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha”—Allah tak membebani di luar lelah.
Kalimat suci itu menghantam ego yang tinggi, Menyadarkanku betapa jauh aku melangkah pergi. Aku mencari pundak manusia untuk berbagi, Padahal Allah menungguku bersujud di malam yang sunyi, Untuk mengadu rasa, untuk kembali rendah hati.
Kubasuh wajah dengan air wudu yang dingin meresap, Menenangkan pikiran yang bising dan gelap. Di atas sajadah, takbirku lirih namun mantap, Melepas beban dunia yang selama ini kudekap, Biarlah kerapuhan ini menjadi doa yang merayap.
Dalam sujud yang lama, aku lepaskan semua kasta, Bukan lagi pemberi solusi atau pemimpin semesta. Hanya hamba kecil yang mengakui segala dosa dan nista, "Ya Allah, kuatkan hati yang patah karena dunia, Ternyata hanya pada-Mu, aku menemukan rumah yang nyata."
Kini langkahku ringan, fajar membawa damai yang utuh, Tak ada lagi topeng, tak ada lagi rasa angkuh. Menjadi rapuh ternyata tak membuatku luluh, Sebab di titik itulah, aku kembali bersimpuh, Menemukan kekuatan baru di hadapan Allah yang Maha Tangguh.
Sepatu
Sepasang Langkah, Satu Tujuan Mereka terlahir dari rahim yang sama, Namun ditakdirkan berdiri di ruang yang berbeda. Yang satu melengkung ke...
-
Setelah dapat saran dari mas Ahmad Faisol ana sempatkan cari makalah tentang puisi dan seluk beluknya, mudah-mudahan dengan tulisan di bawah...
-
KAU BUKAN RUMAH Oleh: Idwik Malam itu, gerimis membungkus kota dengan aroma tanah basah yang pekat dan dingin. Di dalam ruang kerja yang...


