Rabu, 03 Juni 2026

Saat Hati Mulai Rapuh

SAAT HATI MULAI RAPUH

Oleh: Idwik

Gue selalu bangga sama label yang ditempel orang-orang ke diri gue: 'Si Paling Strong'. Di tongkrongan, di rumah, sampai di urusan kampus, gue adalah tipe orang yang gak pernah absen buat ketawa paling kencang, ngasih solusi paling logis kalau temen lagi curhat, dan selalu jadi orang pertama yang bilang, 'Tenang, itu masalah kecil, bisa kita kelarin bareng-bareng.' Bagi gue, menunjukkan sisi lemah atau kelihatan sedih di depan orang lain itu adalah sebuah pantangan besar. Gue ngerasa kalau gue sedih, dunia bakal ikut runtuh dan gue bakal kehilangan kendali atas hidup gue sendiri. Alhasil, gue selalu memoles penampilan gue dengan energi positif yang meluap-luap, tersenyum lebar ke setiap orang, dan memastikan kalau vibes gue tetap asyik di mata siapa pun. Gue menikmati peran itu, bener-bener menikmati pujian sebagai sosok yang tegar dan gak pernah punya masalah berat.

Tapi, manusia tetep aja manusia. Kita bukan robot yang didesain dari baja dan gak punya perasaan. Sehebat apa pun gue berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, ada masanya ketika tumpukan masalah datang beruntun tanpa permisi, menghantam dinding pertahanan yang udah gue bangun bertahun-tahun. Semuanya dimulai dari kegagalan beruntun yang gue alami belakangan ini. Proyek idealis yang udah gue rancang berbulan-bulan bareng tim tiba-tiba hancur berantakan karena masalah internal, IPK gue semester ini terjun bebas akibat fokus gue yang terpecah, dan yang paling bikin dada gue sesak adalah kondisi finansial keluarga yang mendadak goyah parah. Di saat yang sama, ekspektasi orang-orang di sekitar gue tetep sama tinggi. Mereka masih memandang gue sebagai tempat bersandar, tanpa pernah ada satu pun yang bertanya, 'Jey, lo sendiri sebenernya baik-baik aja gak?'

Gue mulai ngerasa ada yang aneh di dalam dada gue. Setiap pagi pas gue bangun tidur, ada rasa malas dan berat yang luar biasa cuma buat sekadar menggeser selimut. Jantung gue sering tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan yang jelas, dan pikiran gue langsung overthinking liar ke mana-mana. Gue yang biasanya paling males diam di kamar, sekarang justru lebih suka mengunci diri dalam kegelapan setelah pulang nongkrong. Pas bareng anak-anak di kafe, gue masih bisa ketawa lepas seolah gak ada beban, ngikutin jokes mereka, dan ikutan nge-hype tren terbaru. Tapi ironisnya, pas gue pamit pulang dan mesin motor gue mulai menyala di jalanan malam yang sepi, senyuman di wajah gue langsung luntur seketika. Topeng asyik itu mendadak lepas, menyisakan raut wajah yang bener-bener lelah dan tatapan mata yang kosong.

Puncaknya terjadi pada suatu malam minggu. Di luar sana, jalanan kota lagi ramai-ramainya oleh suara kendaraan dan gelak tawa anak muda yang menikmati malam. Sementara gue? Gue cuma berbaring telentang di atas kasur tanpa menyalakan lampu kamar tunggal. HP gue tergeletak di samping bantal, layarnya terus menyala menampilkan ratusan chat dari grup tongkrongan yang ngajakin keluar malam ini. 'Jey, lo di mana? Kurang lo gak rame nih!', 'Jey, buruan tancap gas ke basecamp, kita tungguin!' Biasanya gue bakal jadi orang pertama yang bales dengan stiker kocak, tapi malam itu, jangankan buat bales chat, buat ngetik satu huruf aja rasanya tangan gue lemas banget. Saat itulah, untuk pertama kalinya dalam hidup, gue ngerasa bener-bener rapuh. Hati gue rasanya kayak gelas kaca yang retak seribu, tinggal nunggu satu senggolan kecil lagi buat hancur berkeping-keping.

Rasa sepi yang mencekam langsung datang menyergap tanpa ampun. Dada gue sesak, seolah-olah ada batu besar yang ditaruh di atasnya sampai gue kesulitan buat narik napas dalam-dalam. Air mata yang selama bertahun-tahun ini selalu gue tahan karena alasan 'gengsi' dan 'cowok gak boleh cengeng', malam itu tumpah ruah begitu aja tanpa bisa gue bendung lagi. Gue nangis sesenggukan sendirian di pojokan kamar yang gelap, meremas bantal erat-erat agar suara tangisan gue gak kedengeran sama orang rumah. Gue ngerasa bener-bener capek. Capek sama keadaan, capek sama kegagalan, dan yang paling utama, capek karena harus selalu kelihatan kuat di depan semua orang. Di titik terendah itu, gue ngerasa kehilangan arah, gak tahu harus cerita ke siapa, karena selama ini gue selalu jadi pendengar, bukan orang yang didengar.

Di tengah keputusasaan yang luar biasa itu, pandangan mata gue yang masih basah oleh air mata gak sengaja tertuju pada sebuah kaligrafi kecil yang terpajang di dinding kamar, pemberian dari kakek gue dulu. Kaligrafi itu bertuliskan potongan ayat dari Surah Al-Baqarah: *'La yukallifullahu nafsan illa wus'aha...'* Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Membaca ayat itu, dada gue rasanya kayak dihantam gada besar, tapi setelahnya ada rasa hangat yang perlahan mengalir. Astagfirullah... seketika itu juga gue sadar akan satu kesalahan besar yang selama ini gue lakukan. Selama ini, saat hati gue mulai rapuh, gue selalu mencari tempat bersandar pada ekspektasi manusia. Gue selalu sibuk mempertahankan image hebat di depan makhluk, tapi gue lupa buat bersandar dan mengadu pada Sang Pencipta yang memiliki hati ini.

Gue bangkit dari kasur dengan sisa-sisa tenaga yang gue punya, menyeka air mata dengan punggung tangan, lalu melangkah ke kamar mandi. Pas air wudhu mengalir membasahi wajah, tangan, dan kepala gue, rasa dinginnya bener-bener meresap sampai ke dalam batin, perlahan menenangkan kepanikan yang sedari tadi merajai pikiran gue. Gue menggelar sejadah di tengah kamar, memakai pakaian terbaik, dan berdiri menghadap kiblat. Pas gue mengangkat kedua tangan dan mengucap *Allahu Akbar*, rasanya seluruh beban dunia yang selama ini menggantung berat di pundak gue mendadak runtuh. Gue shalat dengan sangat pelan, meresapi setiap kalimat yang keluar dari mulut gue, kalimat-kalimat yang selama ini sering gue baca dengan terburu-buru.

Pas gerakan shalat gue sampai pada posisi sujud terakhir, tangisan gue yang sempat reda kembali pecah. Tapi kali ini, tangisannya bukan lagi karena rasa frustrasi atau putus asa yang gelap, melainkan tangisan penyerahan diri yang seutuhnya. Tubuh gue bergetar hebat di atas sejadah, air mata gue menetes membasahi kain tempat sujud gue. Di dalam keheningan malam itu, di hadapan Allah, gue lepaskan semua topeng 'Si Paling Strong' yang selama ini menyiksa batin gue. Gue akui semua kelemahan gue, semua ketakutan gue, dan semua kegagalan gue tanpa ada satu pun yang gue tutup-tutupi lagi dengan ego yang semu.

"Ya Allah... Hati hamba bener-bener rapuh malam ini. Hamba gak sekuat yang orang-orang kira, hamba hanyalah makhluk kecil yang penuh dengan kekurangan. Selama ini hamba sombong, ngerasa bisa nyelesaiin semuanya sendiri dan lupa buat bersandar pada-Mu. Tolong kuatkan kembali hati yang patah ini, Ya Allah... Tenangkan pikiran hamba yang berisik, dan bimbinglah hamba melewati masa-masa sulit ini. Hanya kepada-Mu hamba berserah diri, karena hamba tahu Engkau gak akan pernah ninggalin hamba sebatang kara."

Gue tumpahkan seluruh keluh kesah itu dalam sujud yang sangat lama, mengadu sedetail-detailnya seperti seorang anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya, namun ini jauh lebih agung karena gue sedang mengadu pada Pemilik Semesta Alam. Setelah selesai mengucap salam, gue gak langsung beranjak. Gue duduk bersila di atas sejadah, mengambil tasbih, dan mulai melafalkan dzikir dengan suara lirih. Setiap butir tasbih yang bergeser di jari gue seolah-olah membawa pergi satu per satu beban yang menghimpit dada gue. Rasa damai dan tenang yang luar biasa, yang udah berbulan-bulan gak pernah gue rasain di tongkrongan mana pun, perlahan-lahan kembali mengalir memenuhi ruang kosong di dalam hati gue.

Malam itu, di atas sejadah yang menjadi saksi bisu kerapuhan gue, gue dapet satu pelajaran hidup yang bener-bener mahal dan berharga. Menjadi rapuh itu ternyata gak apa-apa. Menangis dan mengakui bahwa diri kita sedang gak baik-baik saja itu bukan tanda kalau kita lemah atau kalah. Itu adalah pengingat kodrat kita sebagai manusia, bahwa kita bener-bener butuh Allah dalam setiap helaan napas kita. Kesalahan terbesar kita adalah ketika kita merasa rapuh, kita justru lari menjauh dari-Nya dan berpura-pura kuat di depan manusia, padahal satu-satunya obat untuk hati yang patah adalah dengan kembali bersujud pada Sang Memiliki Hati.

Pas fajar mulai menyingsing di ufuk timur, gue membuka jendela kamar gue lebar-lebar, membiarkan udara pagi yang segar masuk menghapus sisa-sisa kesedihan semalam. Gue mengambil HP gue yang sempat gue abaikan. Gue gak membalas chat tongkrongan dengan kepura-puraan lagi, melainkan dengan jujur dan santai: *'Sori semalem gue ketiduran, lagi butuh waktu buat istirahat sejenak, Bro.'* Ternyata respons temen-temen gue tetep baik, mereka memaklumi tanpa menghakimi. Hari itu gue berjanji pada diri sendiri untuk gak akan pernah lagi membebani diri gue dengan topeng kesempurnaan. Saat hati gue mulai rapuh di masa depan nanti, gue tahu persis ke mana gue harus melangkah pulang: bukan ke tempat tongkrongan yang bising, bukan ke validasi media sosial yang semu, melainkan kembali bersujud di atas sejadah, merendahkan diri sedalam-dalamnya di hadapan Tuhan, karena di sanalah kekuatan yang sesungguhnya berada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolong kasih komentar ya ?

Ada ttitik titik diujung Do'a

ADA TITIK-TITIK DI UJUNG DOA SAAT MENUJU MASA  PENSIUN  Oleh: Idwik Malam telah beranjak jauh melewati batas puncaknya, menyisakan desau...