SAAT HATI MULAI RAPUH
Oleh:
Idwik
Gue selalu bangga sama label yang ditempel orang-orang ke diri
gue: 'Si Paling Strong'. Di tongkrongan, di rumah, sampai di urusan kampus, gue
adalah tipe orang yang gak pernah absen buat ketawa paling kencang, ngasih
solusi paling logis kalau temen lagi curhat, dan selalu jadi orang pertama yang
bilang, 'Tenang, itu masalah kecil, bisa kita kelarin bareng-bareng.' Bagi gue,
menunjukkan sisi lemah atau kelihatan sedih di depan orang lain itu adalah
sebuah pantangan besar. Gue ngerasa kalau gue sedih, dunia bakal ikut runtuh
dan gue bakal kehilangan kendali atas hidup gue sendiri. Alhasil, gue selalu
memoles penampilan gue dengan energi positif yang meluap-luap, tersenyum lebar
ke setiap orang, dan memastikan kalau vibes gue tetap asyik di mata siapa pun.
Gue menikmati peran itu, bener-bener menikmati pujian sebagai sosok yang tegar
dan gak pernah punya masalah berat.
Tapi, manusia tetep aja manusia. Kita bukan robot yang didesain
dari baja dan gak punya perasaan. Sehebat apa pun gue berpura-pura bahwa
semuanya baik-baik saja, ada masanya ketika tumpukan masalah datang beruntun
tanpa permisi, menghantam dinding pertahanan yang udah gue bangun
bertahun-tahun. Semuanya dimulai dari kegagalan beruntun yang gue alami belakangan
ini. Proyek idealis yang udah gue rancang berbulan-bulan bareng tim tiba-tiba
hancur berantakan karena masalah internal, IPK gue semester ini terjun bebas
akibat fokus gue yang terpecah, dan yang paling bikin dada gue sesak adalah
kondisi finansial keluarga yang mendadak goyah parah. Di saat yang sama,
ekspektasi orang-orang di sekitar gue tetep sama tinggi. Mereka masih memandang
gue sebagai tempat bersandar, tanpa pernah ada satu pun yang bertanya, 'Jey, lo
sendiri sebenernya baik-baik aja gak?'
Gue mulai ngerasa ada yang aneh di dalam dada gue. Setiap pagi
pas gue bangun tidur, ada rasa malas dan berat yang luar biasa cuma buat
sekadar menggeser selimut. Jantung gue sering tiba-tiba berdegup kencang tanpa
alasan yang jelas, dan pikiran gue langsung overthinking liar ke mana-mana. Gue
yang biasanya paling males diam di kamar, sekarang justru lebih suka mengunci
diri dalam kegelapan setelah pulang nongkrong. Pas bareng anak-anak di kafe,
gue masih bisa ketawa lepas seolah gak ada beban, ngikutin jokes mereka, dan
ikutan nge-hype tren terbaru. Tapi ironisnya, pas gue pamit pulang dan mesin
motor gue mulai menyala di jalanan malam yang sepi, senyuman di wajah gue
langsung luntur seketika. Topeng asyik itu mendadak lepas, menyisakan raut
wajah yang bener-bener lelah dan tatapan mata yang kosong.
Puncaknya terjadi pada suatu malam minggu. Di luar sana, jalanan
kota lagi ramai-ramainya oleh suara kendaraan dan gelak tawa anak muda yang
menikmati malam. Sementara gue? Gue cuma berbaring telentang di atas kasur
tanpa menyalakan lampu kamar tunggal. HP gue tergeletak di samping bantal,
layarnya terus menyala menampilkan ratusan chat dari grup tongkrongan yang
ngajakin keluar malam ini. 'Jey, lo di mana? Kurang lo gak rame nih!', 'Jey,
buruan tancap gas ke basecamp, kita tungguin!' Biasanya gue bakal jadi orang
pertama yang bales dengan stiker kocak, tapi malam itu, jangankan buat bales
chat, buat ngetik satu huruf aja rasanya tangan gue lemas banget. Saat itulah,
untuk pertama kalinya dalam hidup, gue ngerasa bener-bener rapuh. Hati gue
rasanya kayak gelas kaca yang retak seribu, tinggal nunggu satu senggolan kecil
lagi buat hancur berkeping-keping.
Rasa sepi yang mencekam langsung datang menyergap tanpa ampun.
Dada gue sesak, seolah-olah ada batu besar yang ditaruh di atasnya sampai gue
kesulitan buat narik napas dalam-dalam. Air mata yang selama bertahun-tahun ini
selalu gue tahan karena alasan 'gengsi' dan 'cowok gak boleh cengeng', malam
itu tumpah ruah begitu aja tanpa bisa gue bendung lagi. Gue nangis sesenggukan
sendirian di pojokan kamar yang gelap, meremas bantal erat-erat agar suara
tangisan gue gak kedengeran sama orang rumah. Gue ngerasa bener-bener capek.
Capek sama keadaan, capek sama kegagalan, dan yang paling utama, capek karena
harus selalu kelihatan kuat di depan semua orang. Di titik terendah itu, gue
ngerasa kehilangan arah, gak tahu harus cerita ke siapa, karena selama ini gue
selalu jadi pendengar, bukan orang yang didengar.
Di tengah keputusasaan yang luar biasa itu, pandangan mata gue
yang masih basah oleh air mata gak sengaja tertuju pada sebuah kaligrafi kecil
yang terpajang di dinding kamar, pemberian dari kakek gue dulu. Kaligrafi itu
bertuliskan potongan ayat dari Surah Al-Baqarah: *'La yukallifullahu nafsan
illa wus'aha...'* Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Membaca ayat itu, dada gue rasanya kayak dihantam gada besar,
tapi setelahnya ada rasa hangat yang perlahan mengalir. Astagfirullah...
seketika itu juga gue sadar akan satu kesalahan besar yang selama ini gue
lakukan. Selama ini, saat hati gue mulai rapuh, gue selalu mencari tempat
bersandar pada ekspektasi manusia. Gue selalu sibuk mempertahankan image hebat
di depan makhluk, tapi gue lupa buat bersandar dan mengadu pada Sang Pencipta
yang memiliki hati ini.
Gue bangkit dari kasur dengan sisa-sisa tenaga yang gue punya,
menyeka air mata dengan punggung tangan, lalu melangkah ke kamar mandi. Pas air
wudhu mengalir membasahi wajah, tangan, dan kepala gue, rasa dinginnya
bener-bener meresap sampai ke dalam batin, perlahan menenangkan kepanikan yang
sedari tadi merajai pikiran gue. Gue menggelar sejadah di tengah kamar, memakai
pakaian terbaik, dan berdiri menghadap kiblat. Pas gue mengangkat kedua tangan
dan mengucap *Allahu Akbar*, rasanya seluruh beban dunia yang selama ini
menggantung berat di pundak gue mendadak runtuh. Gue shalat dengan sangat
pelan, meresapi setiap kalimat yang keluar dari mulut gue, kalimat-kalimat yang
selama ini sering gue baca dengan terburu-buru.
Pas gerakan shalat gue sampai pada posisi sujud terakhir,
tangisan gue yang sempat reda kembali pecah. Tapi kali ini, tangisannya bukan
lagi karena rasa frustrasi atau putus asa yang gelap, melainkan tangisan
penyerahan diri yang seutuhnya. Tubuh gue bergetar hebat di atas sejadah, air
mata gue menetes membasahi kain tempat sujud gue. Di dalam keheningan malam
itu, di hadapan Allah, gue lepaskan semua topeng 'Si Paling Strong' yang selama
ini menyiksa batin gue. Gue akui semua kelemahan gue, semua ketakutan gue, dan
semua kegagalan gue tanpa ada satu pun yang gue tutup-tutupi lagi dengan ego
yang semu.
"Ya
Allah... Hati hamba bener-bener rapuh malam ini. Hamba gak sekuat yang
orang-orang kira, hamba hanyalah makhluk kecil yang penuh dengan kekurangan.
Selama ini hamba sombong, ngerasa bisa nyelesaiin semuanya sendiri dan lupa
buat bersandar pada-Mu. Tolong kuatkan kembali hati yang patah ini, Ya Allah...
Tenangkan pikiran hamba yang berisik, dan bimbinglah hamba melewati masa-masa
sulit ini. Hanya kepada-Mu hamba berserah diri, karena hamba tahu Engkau gak
akan pernah ninggalin hamba sebatang kara."
Gue tumpahkan seluruh keluh kesah itu dalam sujud yang sangat
lama, mengadu sedetail-detailnya seperti seorang anak kecil yang sedang mengadu
pada ibunya, namun ini jauh lebih agung karena gue sedang mengadu pada Pemilik
Semesta Alam. Setelah selesai mengucap salam, gue gak langsung beranjak. Gue
duduk bersila di atas sejadah, mengambil tasbih, dan mulai melafalkan dzikir
dengan suara lirih. Setiap butir tasbih yang bergeser di jari gue seolah-olah
membawa pergi satu per satu beban yang menghimpit dada gue. Rasa damai dan
tenang yang luar biasa, yang udah berbulan-bulan gak pernah gue rasain di
tongkrongan mana pun, perlahan-lahan kembali mengalir memenuhi ruang kosong di
dalam hati gue.
Malam itu, di atas sejadah yang menjadi saksi bisu kerapuhan
gue, gue dapet satu pelajaran hidup yang bener-bener mahal dan berharga.
Menjadi rapuh itu ternyata gak apa-apa. Menangis dan mengakui bahwa diri kita
sedang gak baik-baik saja itu bukan tanda kalau kita lemah atau kalah. Itu
adalah pengingat kodrat kita sebagai manusia, bahwa kita bener-bener butuh
Allah dalam setiap helaan napas kita. Kesalahan terbesar kita adalah ketika
kita merasa rapuh, kita justru lari menjauh dari-Nya dan berpura-pura kuat di depan
manusia, padahal satu-satunya obat untuk hati yang patah adalah dengan kembali
bersujud pada Sang Memiliki Hati.
Pas fajar mulai menyingsing di ufuk timur, gue membuka jendela
kamar gue lebar-lebar, membiarkan udara pagi yang segar masuk menghapus sisa-sisa
kesedihan semalam. Gue mengambil HP gue yang sempat gue abaikan. Gue gak
membalas chat tongkrongan dengan kepura-puraan lagi, melainkan dengan jujur dan
santai: *'Sori semalem gue ketiduran, lagi butuh waktu buat istirahat sejenak,
Bro.'* Ternyata respons temen-temen gue tetep baik, mereka memaklumi tanpa
menghakimi. Hari itu gue berjanji pada diri sendiri untuk gak akan pernah lagi
membebani diri gue dengan topeng kesempurnaan. Saat hati gue mulai rapuh di
masa depan nanti, gue tahu persis ke mana gue harus melangkah pulang: bukan ke
tempat tongkrongan yang bising, bukan ke validasi media sosial yang semu,
melainkan kembali bersujud di atas sejadah, merendahkan diri sedalam-dalamnya
di hadapan Tuhan, karena di sanalah kekuatan yang sesungguhnya berada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong kasih komentar ya ?