Kamis, 04 Juni 2026

Ada ttitik titik diujung Do'a

ADA TITIK-TITIK DI UJUNG DOA SAAT MENUJU MASA

 PENSIUN 

Oleh: Idwik

Malam telah beranjak jauh melewati batas puncaknya, menyisakan desau angin pelan yang mengetuk kisi-kisi jendela ruang kerja. Di atas meja, beberapa tumpukan berkas instrumen supervisi akademik dan draf laporan pendampingan sekolah masih terbuka, bersanding dengan gawai yang sesekali berkedip menampilkan notifikasi kedinasan. Sebagai seorang pengawas sekolah yang telah mengabdikan sebagian besar paruh hidup di dunia pendidikan, ritme kerja administratif seperti ini sudah menjadi bagian dari denyut nadi saya. Namun, malam ini, fokus saya tidak tertuju pada lembaran kertas di hadapan. Pikiran saya justru melayang jauh, mengembara melintasi lorong waktu, menatap bayangan masa depan yang dipenuhi oleh tanda tanya besar yang perlahan mulai mengusik ketenangan batin.

Saya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengurai beban tak kasat mata yang tiba-tiba bergelayut berat di pundak. Di dinding ruang kerja, sebuah kalender digital menunjukkan angka tahun yang kian berjalan cepat, mengalir tanpa bisa ditahan oleh jemari manusia. Enam tahun. Itulah sisa waktu pengabdian formal saya sebagai seorang pengawas sebelum ketukan palu masa pensiun benar-benar tiba. Di satu sisi, ada rasa syukur yang membuncah karena Tuhan telah mengizinkan saya membangun sebuah keluarga yang utuh, hangat, dan begitu harmonis bersama istri tercinta. Kami dianugerahi enam orang buah hati yang menjadi perhiasan hidup paling berharga. Namun, di sisi lain, kenyataan bahwa saya memiliki enam anak dengan rentang kebutuhan hidup yang sangat berbeda, menjadi sebuah ladang pemikiran yang menguras energi kedewasaan saya.

Dua anak tertua kami alhamdulillah sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi dan kini telah mandiri membina keluarga mereka sendiri. Melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab adalah salah satu puncak kebahagiaan terbesar saya sebagai seorang Abi. Namun, pandangan mata saya kerap kali tertahan lama ketika menatap empat anak lainnya yang saat ini masih duduk di bangku sekolah. Anak ketiga sudah lulus dan mengajar di pondok pesantren dan anak ke empat baru saja memasuki semester lima perkuliahan, , yang ke lima masih di SMA, dan si bungsu bahkan masih membutuhkan bimbingan dasar di sekolah dasar. Mereka berempat laksana tunas-tunas muda yang sedang tumbuh dengan subur, membutuhkan pupuk perhatian, kasih sayang, dan tentu saja dukungan finansial yang tidak sedikit di tengah ketidakpastian dunia saat ini.

Godaan pikiran itu sering kali datang dalam bentuk bisikan-bisikan halus yang mengaburkan optimisme. Di tengah situasi ekonomi yang fluktuatif, inflasi yang kian merangkak naik, dan biaya pendidikan tinggi yang semakin mencekik, ego manusiawi saya mulai dirayapi rasa cemas. Apakah dengan sisa waktu enam tahun masa kerja aktif ini, saya masih akan sanggup menghantarkan keempat anak saya menuju gerbang kemandirian mereka? Bagaimana jika fisik ini mendadak rapuh sebelum tugas besar itu usai? Pertanyaan-pertanyaan skeptis itu laksana rangkaian titik-titik misterius yang menggantung tanpa akhir di ujung pikiran saya, menciptakan ketidakpastian yang seolah sengaja menguji sejauh mana kekuatan iman yang selama ini saya agungkan di hadapan orang lain.

Sore tadi, saat suasana rumah begitu hangat oleh riuh rendah tawa anak-anak yang sedang berkumpul di ruang tengah, istri saya datang mendekat membawa secangkir teh hangat. Dia adalah sosok wanita teduh yang selalu tahu kapan suaminya sedang memikul beban pikiran tersembunyi. Dengan kelembutan yang khas, dia duduk di sebelah saya, menatap wajah saya yang mungkin tampak sedikit kusam malam itu. "Abi, ada apa? Sejak pulang dari dinas supervisi tadi, pandangan Abi sering kali kosong. Apakah ada masalah di kantor atau di sekolah binaan?" tanyanya dengan nada suara yang menenangkan, seolah ingin ikut memikul sebagian dari beban yang sedang berputar di kepala saya.

Saya terdiam sejenak, menatap matanya yang masih menyimpan binar ketulusan yang sama seperti puluhan tahun lalu. "Tidak ada masalah di kantor, Umi. Abi hanya sedang menghitung waktu. Enam tahun lagi Abi pensiun dari jabatan pengawas, sementara empat anak kita masih sekolah dan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk masa depan mereka. Abi terkadang merasa cemas, apakah waktu dan kemampuan Abi yang terbatas ini akan cukup untuk mengantarkan mereka semua menjadi orang berhasil seperti kakak-kakak mereka," jawab saya jujur, menumpahkan segala keresahan batin yang selama ini sengaja saya kunci rapat-rapat demi menjaga wibawa sebagai kepala keluarga.

Umi tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh keyakinan religius yang seketika membuat relung hati saya yang sempat tegang menjadi agak mengendur. Dia menggenggam punggung tangan saya yang mulai kasar oleh usia. "Abi, sejak kapan kita yang menjamin rezeki dan masa depan anak-anak kita? Bukankah selama ini Allah yang selalu mencukupkan setiap kebutuhan kita melalui jalan-jalan yang sering kali tidak pernah kita duga sebelumnya? Enam tahun itu adalah hitungan matematika manusia di atas kertas dinas, tetapi kuasa Allah tidak pernah bisa dibatasi oleh masa pensiun seorang pegawai. Tugas kita hanya bergerak, mendidik mereka dengan akhlak yang mulia, dan memanjatkan doa terbaik. Jangan biarkan titik-titik kecemasan itu menghapus tanda seru keyakinan kita pada ketetapan-Nya," ucapnya dengan kalimat yang begitu menghujam sanubari.

Kata-kata istri saya malam itu laksana embun pagi yang jatuh di atas tanah gersang. Astagfirullah... saya tersentak di dalam kesendirian ruang kerja ini. Sebagai seorang pengawas yang setiap hari memberikan arahan dan bimbingan kepada para guru dan kepala sekolah tentang pentingnya visi masa depan, saya justru hampir tergelincir ke dalam jurang pesimisme saat menghadapi masa depan keluarga saya sendiri. Saya menyadari bahwa keresahan yang berlebihan ini timbul karena saya terlalu mengandalkan kekuatan diri yang fana, dan melupakan hakikat bahwa ada Dzat yang Maha Kaya yang menguasai seluruh garis nasib setiap makhluk-Nya.

Saya melangkah menuju kamar mandi, membiarkan aliran air wudhu yang dingin membersihkan sisa-sisa kelelahan fisik dan kegundahan batin yang merajai pikiran. Di atas sajadah yang tergelar rapi di sudut kamar, saya menegakkan shalat malam dalam keheningan sepertiga malam yang sunyi. Setiap takbir, rukuk, dan bacaan shalat saya resapi dengan kepasrahan yang seutuhnya. Ketika tubuh ini luruh dalam posisi sujud terakhir yang berlangsung begitu lama, benteng kesombongan intelektual saya runtuh total. Di hadapan Allah SWT, saya bukan lagi seorang pengawas sekolah yang dihormati di lingkungan dinas, melainkan hanyalah seorang hamba sekaligus seorang Abi yang fakir, yang sedang mengadukan ketidakberdayaannya demi masa depan darah dagingnya.

Dalam doa yang panjang pasca shalat, air mata saya menetes tanpa bisa dibendung lagi. Di ujung untaian kalimat doa yang saya panjatkan, saya melihat kembali rangkaian keinginan-keinginan saya yang masih berupa titik-titik ketidakpastian. Namun kali ini, makna titik-titik itu telah berubah di dalam persepsi keimanan saya. Titik-titik di ujung doa bukanlah simbol dari ketakutan atau keputusasaan, melainkan simbol dari kepasrahan mutlak kepada rencana Allah yang maha indah. Ia adalah ruang bagi keajaiban tawakal, sebuah keyakinan bahwa di mana kemampuan manusia menemui batas akhirnya, di situlah pertolongan Allah akan mulai bekerja menggantikan ketidakberdayaan kita.

"Ya Allah... Ampuni hamba yang sempat meragukan luasnya hamparan rezeki-Mu hanya karena menghitung sisa tahun masa pensiun duniawi hamba. Enam anak yang Engkau titipkan adalah amanah agung yang pasti telah Engkau siapkan pula takdir kebaikannya masing-masing. Kuatkanlah pundak hamba, jagalah kesehatan fisik hamba, dan bimbinglah lisan serta perbuatan hamba agar selalu optimis mendidik mereka di atas jalan akhlak yang mulia. Hamba titipkan masa depan anak-anak hamba yang masih sekolah ke dalam penjagaan-Mu yang Maha Sempurna, karena hamba tahu Engkau tidak akan pernah mengecewakan hamba yang bersujud pasrah kepada-Mu..."

Saya meraba dada ini yang kini terasa sangat lapang dan plong, seolah-olah gumpalan awan hitam kecemasan yang semalam menyumbat aliran napas kini telah menguap hilang ditiup oleh angin keyakinan. Ketika fajar shadiq mulai menyingsing di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menembus celah gorden, saya melangkah keluar dari ruang kerja dengan senyuman yang penuh energi optimisme baru. Tidak ada lagi gundah, tidak ada lagi ragu. Sisa enam tahun masa jabatan sebagai pengawas sekolah akan saya jalani dengan dedikasi tertinggi sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan nikmat kehidupan.

Keluarga kami yang harmonis adalah bahan bakar utama bagi kekuatan batin saya. Empat anak yang masih menempuh jalur pendidikan kini tidak lagi saya pandang sebagai beban masa depan yang menakutkan, melainkan sebagai ladang pahala dan investasi akhirat yang harus saya sirami dengan untaian doa dan usaha terbaik setiap harinya. Saya percaya, selama fondasi iman dan jalinan kasih sayang di dalam rumah tangga ini tetap terjaga dengan utuh, maka badai ekonomi atau tantangan zaman sekeras apa pun di luar sana tidak akan mampu meruntuhkan keteguhan langkah kami.

Kini, di setiap akhir sujud dan untaian dzikir yang saya panjatkan, saya selalu tersenyum tenang ketika melihat ada titik-titik di ujung doa. Saya tahu, di balik titik-titik misteri masa depan anak-anak saya yang belum tertulis itu, Allah SWT telah menyiapkan sebuah akhir cerita yang paling indah, paling berkah, dan paling membahagiakan bagi kami semua. Tugas seorang Abi bukan memastikan jalannya selalu mulus tanpa hambatan, melainkan memastikan bahwa dalam kondisi apa pun, ia tetap tegak berdiri penuh optimis, menggandeng tangan anak-anaknya seraya terus berjalan menuju ridha dan jannah-Nya.

Aku Memohon Ampun Kepadamu

Aku Mohon Ampunan MU

Aku Memohon Ampun Kepadamu
Aku berlutut, merintih penuh rasa.
Tuhan, ampunilah segala salahku,
Kau Yang Maha Pengampun, Kau Maha Suci.
Dalam gelap, aku mencari cahaya-Mu,
Terangi jalan yang penuh kesalahan ku.
Dengan tulus, aku mengakui dosa-dosaku,
Kau peluk erat dalam kasih-Mu.
Ampunan-Mu tiada tara, tiada batas,
Kau limpahkan rahmat, tak henti berkasih.
Aku bersujud, merendahkan diri,
Mohon ampunan, Kau satukan hati.
Kasihanilah hamba yang lemah ini,
Bimbinglah langkah di jalan yang lurus ini.
Aku Mohon AmpunanMu, Tuhan yang Maha Pemurah,
Dengan penuh harap, kuserahkan diriku sepenuhnya.

Ada ttitik titik diujung Do'a

ADA TITIK-TITIK DI UJUNG DOA SAAT MENUJU MASA  PENSIUN  Oleh: Idwik Malam telah beranjak jauh melewati batas puncaknya, menyisakan desau...