SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN
Oleh:
Idwik
Gue selalu ngerasa kalau umur dua puluhan itu adalah zona bebas
hambatan di mana gue bisa lari sekencang-kencangnya tanpa perlu mikirin rem. Di
mata gue, masa muda itu waktu buat foya-foya, nyari relasi sebanyak mungkin,
nongkrong dari satu kafe ke kafe lain sampai pagi, dan numpuk pencapaian
duniawi biar kelihatan keren di medsos. Masalah akhirat? Ah, itu urusan nanti
pas rambut gue udah mulai memutih atau pas gue udah pensiun kerja. Konsep
'sedia payung sebelum hujan' cuma gue pake buat urusan finansial atau karier,
di mana gue sibuk investasi saham dan crypto biar masa depan aman. Tapi gue
bener-bener buta kalau ada 'hujan' lain yang bisa datang kapan aja tanpa nunggu
mendung, sebuah hujan takdir yang gak bakal bisa ditahan cuma pakai tumpukan
harta atau status sosial.
Teguran itu datang lewat sosok Abi. Abi itu tipe orang yang gak
banyak omong, tapi tatapan matanya selalu teduh. Belakangan ini, setiap kali
gue pulang subuh dengan baju yang bau asap rokok tempat nongkrong, gue selalu
nemuin Abilagi duduk di atas sajadahnya di pojok ruang tengah, bibirnya
komat-kamit melafalkan dzikir dalam keheningan sepertiga malam. Gue biasanya
cuma lewat gitu aja, pura-pura gak lihat atau cuma negur sekadarnya, 'Pak, tidur
udah malam.' Abi cuma bakal senyum lembut banget sambil bilang, 'Iya, Jey. Kamu
cepet bersih-bersih, terus shalat subuh ya, Nak. Siapkan bekalmu, kita gak
pernah tahu kapan hujan lebat bakal turun.' Saat itu, gue bener-bener gak
mudeng sama maksud ucapan Abi. Gue pikir Abi cuma sekadar ngingetin masalah
cuaca atau urusan kerjaan gue yang makin padat. Gue bener-bener abai.
Sampai pada suatu hari, langkah Abi mulai melambat. Gue lihat Abi
sering megangin dadanya sambil terbatuk-batuk kecil, tapi setiap kali gue
tanya, Abi selalu jawab, 'Cuma capek biasa kok, Jey.' Karena gue lagi sibuk-sibuknya
ngejar deadline proyek besar di kantor yang katanya bisa bikin karier gue naik
tingkat, gue gak terlalu ambil pusing. Gue tenggelam lagi dalam ambisi gue. Gue
merasa waktu gue bareng Abimasih sangat panjang. Gue lupa kalau raga Abi yang
makin hari makin membungkuk itu adalah sebuah tanda kalau waktu terus berjalan
maju tanpa pernah bisa di-pause, dan tanda kalau persediaan waktu yang kami
miliki bersama di dunia ini perlahan-lahan mulai menipis menuju batas akhirnya.
Sore itu, langit Jakarta bener-bener gelap, mendung tebal
menggantung rendah memayungi kota, persis kayak gambaran hati gue yang mendadak
gak tenang dari siang. Pas gue lagi meeting penting bareng klien, HP gue yang
ada di atas meja bergetar hebat. Ada belasan panggilan tak terjawab dari nomor Umi.
Jantung gue langsung berdegup kencang gak keruan, insting gue ngerasa ada
sesuatu yang salah. Pas gue angkat, suara Umi terdengar pecah oleh tangisan
yang sangat histeris. 'Jey... Abi, Nak... Abi kolaps di ruang tengah pas lagi
nungguin kamu pulang.' Detik itu juga, seluruh fokus kerjaan yang seharian ini
gue agung-agungkan langsung lenyap menguap. Dunia gue rasanya runtuh seketika,
dan rasa penyesalan yang teramat sangat mulai merayap naik mencekik tenggorokan
gue.
Gue tancap gas motor gue membelah kemacetan di bawah guyuran
hujan lebat yang akhirnya tumpah. Air hujan dan air mata gue bercampur aduk di
balik kaca helm. Pikiran gue bener-bener kacau, memori-memori lama langsung
berputar otomatis di kepala gue. Gue inget betapa seringnya gue nolak diajak
jamaah sama Abi dengan alasan tanggung lagi ngegame. Gue inget betapa seringnya
gue memotong ucapan Abi pas beliau lagi berusaha nasehatin gue soal agama.
Sepanjang jalan, dada gue rasanya mau meledak oleh sebuah kesadaran yang sangat
telat: gue udah terlalu banyak membuang waktu untuk hal-hal yang fana, dan gue
udah menyia-nyiakan sosok yang selama ini menjadi tameng doa dalam hidup gue.
Pas gue sampai di rumah sakit, semuanya udah terlambat. Di dalam
ruang instalasi darurat, gue nemuin tubuh Abi udah membujur kaku di atas
bangkar, ditutupi selembar kain jarik putih sampai ke kepala. Umi lagi memeluk
kaki Abi sambil menangis lirih dalam kepasrahan. Langkah kaki gue mendadak
lumpuh, gue jatuh berlutut di samping bangkar Abi. Gue buka kain penutup wajah Abi
yang kelihatan sangat putih, bersih, dan tersenyum sangat damai seolah beliau
cuma lagi tertidur lelap setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan
melelahkan. Gue pegang tangan Abi yang biasanya hangat, tapi sore itu rasanya
bener-bener dingin, sekaku es.
"Pak... bangun, Pak. Ini Jey udah pulang. Jey udah gak sibuk
lagi sekarang, Abi. Tolong jangan tinggalin Jey dulu..." bisik gue parau
di telinga Abi, air mata gue tumpah membasahi pipi dingin beliau. Tapi gak ada
jawaban. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding rumah sakit yang seolah
mengejek keterlambatan gue. Di momen kehancuran batin itu, Umi berjalan
mendekat, merangkul pundak gue yang bergetar hebat, lalu menyerahkan selembar
kertas yang udah agak lecek dan sebuah buku yasin kecil milik Abi. 'Ini dari Abi,
Jey. Abi tulis ini semalam pas nungguin kamu pulang subuh,' kata Umi dengan
suara yang masih serak.
Dengan tangan yang gemetar parah, gue buka lipatan kertas itu.
Di dalamnya ada tulisan tangan Abiyang sangat gue kenal, bunyinya: *'Untuk
anakku, Jey. Abi tahu kamu sibuk mengejar dunia, dan Abi gak pernah melarang
itu. Tapi ingat, Nak, dunia ini cuma persinggahan sementara. Siapkan dirimu
sebersih mungkin sebelum ajal menjemput. Sedia akumu sebelum datangnya hujan
takdir yang gak bisa kamu hindari. Abi selalu mendoakanmu di setiap sujud malam
Abi, agar kelak kita bisa berkumpul lagi di jannah-Nya tanpa ada lagi rasa
lelah.'* Membaca tulisan itu, batin gue bener-bener remuk redam. Kalimat 'Sedia
aku sebelum hujan' itu ternyata maksudnya adalah mempersiapkan diri, iman, dan
amal shalih sebelum kematian datang menjemput tanpa permisi.
Malam itu, setelah proses pemakaman Abi selesai, gue gak
langsung pulang ke rumah. Gue duduk sendirian di samping gundukan tanah makam Abi
yang masih basah dan wangi bunga selasih, di bawah sisa-sisa gerimis malam yang
dingin. Temen-temen tongkrongan gue berdatangan, ngasih ucapan bela sungkawa,
tapi semua kehadiran mereka gak bisa sedikit pun mengurangi rasa hampa dan
sesak yang memenuhi dada gue. Validasi dari mereka, jabatan gue di kantor, atau
uang di rekening gue bener-bener berasa kayak sampah yang gak ada gunanya sama
sekali di depan sebuah kematian. Jiwa gue bener-bener kosong melongpong,
menyadari betapa miskinnya bekal akhirat yang gue punya selama ini.
Di tengah kegelapan pemakaman itu, gue menatap langit malam yang
mulai bersih dari awan mendung. Gue tersungkur di samping makam Abi, menyentuh
tanahnya yang basah, dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, gue berdoa
dengan hati yang bener-bener hancur, tulus, dan tanpa kepalsuan sedikit pun.
Gue sadar, Abi udah selesai menyiapkan 'payung' amalnya sebelum hujan kematian
menjemputnya, makanya wajah Abi tersenyum sangat damai. Sementara gue? Gue
masih berdiri telanjang di tengah lapangan, tanpa persiapan apa pun, menantang
badai takdir dengan kesombongan masa muda yang fana.
"Ya
Allah... Ampuni hamba-Mu yang buta ini. Hamba terlalu sibuk ngejar bayangan
dunia sampai lupa pada-Mu, lupa pada Abiyang selalu ngetuk pintu langit buat
hamba. Malam ini, di depan makam Abi, hamba bertobat, Ya Allah... Tolong terima
sisa umur hamba yang gak seberapa ini. Izinkan hamba menata kembali hati yang
hancur ini, membersihkan diri dari segala dosa, dan jadikan hamba anak yang
shalih agar doa hamba bisa sampai dan menerangi kubur Abi..."
Gue tumpahkan segala penyesalan dan janji tobat itu dalam
keheningan malam makam. Rasa sesak yang sedari tadi mencekik dada
perlahan-lahan menguap, berganti dengan sebuah tekad baru yang sangat kuat di
dalam batin. Gue sadar kalau menangisi kepergian Abi secara berlebihan gak
bakal bisa muter balik waktu. Satu-satunya hal berharga yang bisa gue lakuin
sekarang adalah mewujudkan impian Abi: menjadi anak yang shalih dan mulai
mempersiapkan diri gue sendiri sebelum 'hujan' itu datang menjemput gue pula.
Keesokan harinya, kehidupan berjalan seperti biasa bagi orang
luar, tapi bagi gue, semuanya udah berubah total. Gue tetep bekerja keras di
kantor, tapi jam kerja gue gak lagi menjajah waktu ibadah gue. Begitu adzan
berkumandang, HP langsung gue silent, kerjaan gue tinggal, dan gue langsung
melangkah paling depan menuju mushola untuk shalat jamaah. Setiap sepertiga
malam, kini giliran gue yang menggelar sejadah di ruang tengah, menggantikan
posisi yang dulu selalu diisi oleh Abi, melafalkan dzikir dan mengirimkan
untaian doa terbaik untuk Abi di alam barzah.
Gue udah gak peduli lagi kalau dibilang gak asyik atau kuper
karena sering absen dari tongkrongan malam yang gak jelas fungsinya. Gue udah
nemuin ketenangan yang hakiki di atas sejadah, sebuah kedamaian yang gak pernah
bisa dibeli pakai harta duniawi. Di setiap rintik hujan yang turun membasahi
bumi, gue selalu diingatkan pada pesan terakhir Abi. Kini, prioritas hidup gue
cuma satu: mempersiapkan diri, membersihkan hati, dan memupuk amal shalih
sebanyak mungkin. Karena gue tahu, ajal gak nunggu kita siap, tapi kitalah yang
harus selalu siap sedia sebelum hujan takdir itu datang menjemput dan membawa
kita kembali pulang ke hadapan Sang Pencipta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong kasih komentar ya ?