Rabu, 03 Juni 2026

Sedia Payung Sebelum Hujan

SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN

Oleh: Idwik

Gue selalu ngerasa kalau umur dua puluhan itu adalah zona bebas hambatan di mana gue bisa lari sekencang-kencangnya tanpa perlu mikirin rem. Di mata gue, masa muda itu waktu buat foya-foya, nyari relasi sebanyak mungkin, nongkrong dari satu kafe ke kafe lain sampai pagi, dan numpuk pencapaian duniawi biar kelihatan keren di medsos. Masalah akhirat? Ah, itu urusan nanti pas rambut gue udah mulai memutih atau pas gue udah pensiun kerja. Konsep 'sedia payung sebelum hujan' cuma gue pake buat urusan finansial atau karier, di mana gue sibuk investasi saham dan crypto biar masa depan aman. Tapi gue bener-bener buta kalau ada 'hujan' lain yang bisa datang kapan aja tanpa nunggu mendung, sebuah hujan takdir yang gak bakal bisa ditahan cuma pakai tumpukan harta atau status sosial.

Teguran itu datang lewat sosok Abi. Abi itu tipe orang yang gak banyak omong, tapi tatapan matanya selalu teduh. Belakangan ini, setiap kali gue pulang subuh dengan baju yang bau asap rokok tempat nongkrong, gue selalu nemuin Abilagi duduk di atas sajadahnya di pojok ruang tengah, bibirnya komat-kamit melafalkan dzikir dalam keheningan sepertiga malam. Gue biasanya cuma lewat gitu aja, pura-pura gak lihat atau cuma negur sekadarnya, 'Pak, tidur udah malam.' Abi cuma bakal senyum lembut banget sambil bilang, 'Iya, Jey. Kamu cepet bersih-bersih, terus shalat subuh ya, Nak. Siapkan bekalmu, kita gak pernah tahu kapan hujan lebat bakal turun.' Saat itu, gue bener-bener gak mudeng sama maksud ucapan Abi. Gue pikir Abi cuma sekadar ngingetin masalah cuaca atau urusan kerjaan gue yang makin padat. Gue bener-bener abai.

Sampai pada suatu hari, langkah Abi mulai melambat. Gue lihat Abi sering megangin dadanya sambil terbatuk-batuk kecil, tapi setiap kali gue tanya, Abi selalu jawab, 'Cuma capek biasa kok, Jey.' Karena gue lagi sibuk-sibuknya ngejar deadline proyek besar di kantor yang katanya bisa bikin karier gue naik tingkat, gue gak terlalu ambil pusing. Gue tenggelam lagi dalam ambisi gue. Gue merasa waktu gue bareng Abimasih sangat panjang. Gue lupa kalau raga Abi yang makin hari makin membungkuk itu adalah sebuah tanda kalau waktu terus berjalan maju tanpa pernah bisa di-pause, dan tanda kalau persediaan waktu yang kami miliki bersama di dunia ini perlahan-lahan mulai menipis menuju batas akhirnya.

Sore itu, langit Jakarta bener-bener gelap, mendung tebal menggantung rendah memayungi kota, persis kayak gambaran hati gue yang mendadak gak tenang dari siang. Pas gue lagi meeting penting bareng klien, HP gue yang ada di atas meja bergetar hebat. Ada belasan panggilan tak terjawab dari nomor Umi. Jantung gue langsung berdegup kencang gak keruan, insting gue ngerasa ada sesuatu yang salah. Pas gue angkat, suara Umi terdengar pecah oleh tangisan yang sangat histeris. 'Jey... Abi, Nak... Abi kolaps di ruang tengah pas lagi nungguin kamu pulang.' Detik itu juga, seluruh fokus kerjaan yang seharian ini gue agung-agungkan langsung lenyap menguap. Dunia gue rasanya runtuh seketika, dan rasa penyesalan yang teramat sangat mulai merayap naik mencekik tenggorokan gue.

Gue tancap gas motor gue membelah kemacetan di bawah guyuran hujan lebat yang akhirnya tumpah. Air hujan dan air mata gue bercampur aduk di balik kaca helm. Pikiran gue bener-bener kacau, memori-memori lama langsung berputar otomatis di kepala gue. Gue inget betapa seringnya gue nolak diajak jamaah sama Abi dengan alasan tanggung lagi ngegame. Gue inget betapa seringnya gue memotong ucapan Abi pas beliau lagi berusaha nasehatin gue soal agama. Sepanjang jalan, dada gue rasanya mau meledak oleh sebuah kesadaran yang sangat telat: gue udah terlalu banyak membuang waktu untuk hal-hal yang fana, dan gue udah menyia-nyiakan sosok yang selama ini menjadi tameng doa dalam hidup gue.

Pas gue sampai di rumah sakit, semuanya udah terlambat. Di dalam ruang instalasi darurat, gue nemuin tubuh Abi udah membujur kaku di atas bangkar, ditutupi selembar kain jarik putih sampai ke kepala. Umi lagi memeluk kaki Abi sambil menangis lirih dalam kepasrahan. Langkah kaki gue mendadak lumpuh, gue jatuh berlutut di samping bangkar Abi. Gue buka kain penutup wajah Abi yang kelihatan sangat putih, bersih, dan tersenyum sangat damai seolah beliau cuma lagi tertidur lelap setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Gue pegang tangan Abi yang biasanya hangat, tapi sore itu rasanya bener-bener dingin, sekaku es.

"Pak... bangun, Pak. Ini Jey udah pulang. Jey udah gak sibuk lagi sekarang, Abi. Tolong jangan tinggalin Jey dulu..." bisik gue parau di telinga Abi, air mata gue tumpah membasahi pipi dingin beliau. Tapi gak ada jawaban. Sunyi. Hanya ada suara detak jam dinding rumah sakit yang seolah mengejek keterlambatan gue. Di momen kehancuran batin itu, Umi berjalan mendekat, merangkul pundak gue yang bergetar hebat, lalu menyerahkan selembar kertas yang udah agak lecek dan sebuah buku yasin kecil milik Abi. 'Ini dari Abi, Jey. Abi tulis ini semalam pas nungguin kamu pulang subuh,' kata Umi dengan suara yang masih serak.

Dengan tangan yang gemetar parah, gue buka lipatan kertas itu. Di dalamnya ada tulisan tangan Abiyang sangat gue kenal, bunyinya: *'Untuk anakku, Jey. Abi tahu kamu sibuk mengejar dunia, dan Abi gak pernah melarang itu. Tapi ingat, Nak, dunia ini cuma persinggahan sementara. Siapkan dirimu sebersih mungkin sebelum ajal menjemput. Sedia akumu sebelum datangnya hujan takdir yang gak bisa kamu hindari. Abi selalu mendoakanmu di setiap sujud malam Abi, agar kelak kita bisa berkumpul lagi di jannah-Nya tanpa ada lagi rasa lelah.'* Membaca tulisan itu, batin gue bener-bener remuk redam. Kalimat 'Sedia aku sebelum hujan' itu ternyata maksudnya adalah mempersiapkan diri, iman, dan amal shalih sebelum kematian datang menjemput tanpa permisi.

Malam itu, setelah proses pemakaman Abi selesai, gue gak langsung pulang ke rumah. Gue duduk sendirian di samping gundukan tanah makam Abi yang masih basah dan wangi bunga selasih, di bawah sisa-sisa gerimis malam yang dingin. Temen-temen tongkrongan gue berdatangan, ngasih ucapan bela sungkawa, tapi semua kehadiran mereka gak bisa sedikit pun mengurangi rasa hampa dan sesak yang memenuhi dada gue. Validasi dari mereka, jabatan gue di kantor, atau uang di rekening gue bener-bener berasa kayak sampah yang gak ada gunanya sama sekali di depan sebuah kematian. Jiwa gue bener-bener kosong melongpong, menyadari betapa miskinnya bekal akhirat yang gue punya selama ini.

Di tengah kegelapan pemakaman itu, gue menatap langit malam yang mulai bersih dari awan mendung. Gue tersungkur di samping makam Abi, menyentuh tanahnya yang basah, dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, gue berdoa dengan hati yang bener-bener hancur, tulus, dan tanpa kepalsuan sedikit pun. Gue sadar, Abi udah selesai menyiapkan 'payung' amalnya sebelum hujan kematian menjemputnya, makanya wajah Abi tersenyum sangat damai. Sementara gue? Gue masih berdiri telanjang di tengah lapangan, tanpa persiapan apa pun, menantang badai takdir dengan kesombongan masa muda yang fana.

"Ya Allah... Ampuni hamba-Mu yang buta ini. Hamba terlalu sibuk ngejar bayangan dunia sampai lupa pada-Mu, lupa pada Abiyang selalu ngetuk pintu langit buat hamba. Malam ini, di depan makam Abi, hamba bertobat, Ya Allah... Tolong terima sisa umur hamba yang gak seberapa ini. Izinkan hamba menata kembali hati yang hancur ini, membersihkan diri dari segala dosa, dan jadikan hamba anak yang shalih agar doa hamba bisa sampai dan menerangi kubur Abi..."

Gue tumpahkan segala penyesalan dan janji tobat itu dalam keheningan malam makam. Rasa sesak yang sedari tadi mencekik dada perlahan-lahan menguap, berganti dengan sebuah tekad baru yang sangat kuat di dalam batin. Gue sadar kalau menangisi kepergian Abi secara berlebihan gak bakal bisa muter balik waktu. Satu-satunya hal berharga yang bisa gue lakuin sekarang adalah mewujudkan impian Abi: menjadi anak yang shalih dan mulai mempersiapkan diri gue sendiri sebelum 'hujan' itu datang menjemput gue pula.

Keesokan harinya, kehidupan berjalan seperti biasa bagi orang luar, tapi bagi gue, semuanya udah berubah total. Gue tetep bekerja keras di kantor, tapi jam kerja gue gak lagi menjajah waktu ibadah gue. Begitu adzan berkumandang, HP langsung gue silent, kerjaan gue tinggal, dan gue langsung melangkah paling depan menuju mushola untuk shalat jamaah. Setiap sepertiga malam, kini giliran gue yang menggelar sejadah di ruang tengah, menggantikan posisi yang dulu selalu diisi oleh Abi, melafalkan dzikir dan mengirimkan untaian doa terbaik untuk Abi di alam barzah.

Gue udah gak peduli lagi kalau dibilang gak asyik atau kuper karena sering absen dari tongkrongan malam yang gak jelas fungsinya. Gue udah nemuin ketenangan yang hakiki di atas sejadah, sebuah kedamaian yang gak pernah bisa dibeli pakai harta duniawi. Di setiap rintik hujan yang turun membasahi bumi, gue selalu diingatkan pada pesan terakhir Abi. Kini, prioritas hidup gue cuma satu: mempersiapkan diri, membersihkan hati, dan memupuk amal shalih sebanyak mungkin. Karena gue tahu, ajal gak nunggu kita siap, tapi kitalah yang harus selalu siap sedia sebelum hujan takdir itu datang menjemput dan membawa kita kembali pulang ke hadapan Sang Pencipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolong kasih komentar ya ?

Ada ttitik titik diujung Do'a

ADA TITIK-TITIK DI UJUNG DOA SAAT MENUJU MASA  PENSIUN  Oleh: Idwik Malam telah beranjak jauh melewati batas puncaknya, menyisakan desau...