KAU BUKAN RUMAH
Oleh: Idwik
Malam itu, gerimis membungkus kota dengan aroma tanah basah yang pekat dan dingin. Di dalam ruang kerja yang hanya diterangi oleh pendar lampu meja yang temaram, gemerisik lembaran kertas dan ketukan ritmis jemari pada papan tik komputer berkejaran dengan sunyinya waktu yang merayap menuju larut. Di hadapanku, tumpukan berkas evaluasi program pembinaan, laporan tahunan institusi, dan rencana kerja digitalisasi sekolah tampak seperti monumen kecil dari sebuah pencapaian karier yang dibangun selama berpuluh-puluh tahun. Semua tersusun sangat rapi, terstruktur, dan tampak begitu kokoh di mata siapa pun yang memandangnya. Namun, tepat di kedalaman dada ini, ada sesuatu yang terasa sangat ringkih dan bergetar hebat. Ada sebuah ruang kosong tak kasat mata yang tidak akan pernah bisa dipahat oleh aplikasi secanggih apa pun, atau diisi oleh status struktural sosial yang selama ini dihormati oleh orang-orang di luar sana.
Gue menyandarkan punggung pada sandaran kursi kayu yang kaku, membiarkan kedua mata gue menembus beningnya jendela kaca yang mulai berembun. Sayup-sayup dari pengeras suara sebuah masjid tua di ujung jalan, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an mengalir dengan begitu syahdu, membelah kesunyian malam yang kian pekat. Suara qari itu bergetar lambat, membawa sebuah pesan kuno yang selalu terasa baru dan segar bagi telinga yang mau mendengar: bahwa dunia ini tak lebih dari tempat persinggahan sekejap mata, sebuah fatamorgana indah yang menipu orang-orang yang terlena. Seketika itu juga, judul sebuah lagu yang tak sengaja gue denger lewat radio sore tadi kembali terngiang di dalam benak gue, berputar-putar seperti sebuah gema di dalam lorong yang sepi dan gelap: "Kau Bukan Rumah."
Sebuah kalimat pendek, sederhana, namun entah kenapa malam ini menghantam kesadaran dewasaku dengan kekuatan yang begitu telak. Gue memandangi punggung jemari gue sendiri di bawah sinaran lampu meja, garis-garis halus dan kerutan tanda usia yang kian menua mulai tercetak jelas di sana. Selama puluhan tahun menjalani kehidupan, ego manusiawiku rupanya sering kali mengalami salah sangka yang teramat fatal. Gue pernah mengira dengan sangat percaya diri bahwa yang disebut rumah adalah kenyamanan materi serta kemapanan finansial yang berhasil gue kumpulkan dengan susah payah. Gue pernah mengira bahwa rumah adalah pengakuan publik, jabatan mentereng yang dihormati, atau lembar-lembar aset portofolio digital yang grafiknya naik turun di layar gawai, menjanjikan rasa aman yang semu di masa tua nanti. Gue bahkan pernah mengira bahwa kestabilan duniawi yang gue bangun dengan peluh, air mata, dan waktu tidur yang terpangkas habis ini adalah sebuah benteng abadi yang akan selalu melindungi jiwa gue dari rasa hampa.
"Kau bukan rumah," bisik gue lirih pada keheningan malam, sambil menatap tumpukan tugas kedinasan dan simbol-simbol pencapaian materi di atas meja kerja. Semua ini—dunia dengan segala pernak-pernik digitalnya yang berkilauan, penghormatan manusia yang datang dan pergi, hingga ambisi-ambisi masa muda yang belum usai—hanyalah sebuah halte kecil yang riuh. Sering kali, manusia terjebak di dalamnya; mereka sibuk menata halte tersebut dengan karpet beledu yang mewah, mengecat dindingnya dengan tinta emas, seolah-olah mereka akan menetap di sana selamanya tanpa akan pernah beranjak pergi. Mereka benar-benar lupa bahwa ada sebuah kereta takdir yang jadwal keberangkatannya tidak akan pernah bisa digeser atau ditunda, walau hanya untuk satu detik saja.
Rasa lelah yang merayapi pundak dan leher gue malam ini bukan lagi sekadar lelah fisik biasa akibat berjam-jam memeriksa dokumen digital. Ini adalah sebuah kelelahan spiritual yang teramat sangat dari seorang hamba yang baru saja disadarkan, betapa seringnya ia mengetuk pintu-pintu yang salah hanya untuk mencari sebuah rasa kedamaian batin. Dunia ini terlalu kecil, terlalu fana, dan terlalu rapuh untuk dijadikan tempat bersandar dan menaruh harapan hidup. Ia bisa retak dan hancur kapan saja oleh ketetapan waktu, oleh datangnya penyakit, atau sekadar oleh usia fisik yang terus merambat menua menuju tanah. Menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup tak ubahnya seperti seseorang yang mencoba membangun istana megah di atas hamparan pasir hisap yang siap menelan apa saja di atasnya.
Gue bangkit berdiri dari kursi kerja, melangkah dengan helaan napas panjang menuju sudut ruangan tempat selembar sejadah putih terhampar dengan tenang menghadap kiblat. Ketika air wudhu yang dingin mulai membasuh kulit wajah, tangan, dan menyeka kepala gue, ada sebuah rasa sejuk yang luar biasa yang langsung meresap menembus pori-pori batin gue, menenangkan gemuruh kecemasan yang sejak sore tadi berkecamuk di dalam kepala. Di atas kain sejadah itu, dalam takbiratul ihram yang gue angkat dengan sisa tenaga, gue perlahan-lahan melepaskan seluruh belenggu keduniawian, ego jabatan, dan segala kecemasan masa depan yang selama ini menggantung berat di atas pundak gue.
Saat dahi gue menyentuh lantai dalam posisi sujud terakhir yang berlangsung sangat lama, di situlah kesadaran dewasaku bener-bener luruh dan hancur total di hadapan Sang Pencipta. Air mata yang keluar malam itu bukan lagi air mata meratapi nasib atau kegagalan duniawi, melainkan air mata haru dari seorang pengembara yang akhirnya menemukan jalan pulang yang sebenarnya. Kehangatan dan ketenangan yang merayap perlahan mengisi rongga-rongga dada gue saat berdialog dalam senyap dengan Allah SWT adalah sebuah kepastian mutlak yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh gemerlap dunia sekaya apa pun. Di sinilah, dalam ketundukan mutlak kepada Sang Khalik, jiwa yang sempat tersesat dan lelah berkelana akhirnya mendapati muara kedamaian yang hakiki.
Gue menyadari satu hal penting malam itu: dunia dengan segala keindahan, kesibukan, dan tanggung jawabnya memang harus diselesaikan dengan performa terbaik sebagai bentuk manifestasi ibadah kita kepada-Nya. Namun, hati dan cinta kita tidak boleh sekali-kali tertinggal atau melekat di sana. Dunia boleh berada di dalam genggaman tangan untuk dikelola dengan bijak, tetapi ia tidak boleh dibiarkan masuk dan merajai takhta di dalam hati kita. Karena ketika dunia sudah menguasai hati, maka setiap kehilangan kecil di dunia akan terasa seperti kiamat besar bagi jiwa kita.
Gue bangkit dari sujud dengan perasaan yang jauh lebih ringan, seolah-olah beban berat tak kasat mata yang semalam menyiksa dada gue kini telah diangkat pergi tanpa bekas. Sambil melipat kembali kain sejadah, gue menatap sisa gerimis di luar jendela dengan sebuah senyuman tipis yang sangat tulus yang sudah lama tidak terukir di wajah gue. Gue tahu pasti ke mana arah kiblat dan langkah kaki gue harus pulang ketika badai kehidupan kembali datang menerpa ke depannya. Karena pada akhirnya, dunia ini telah berbisik jujur kepada setiap jiwa dewasa yang mau merenung: bahwa ia hanyalah sebuah jembatan penyeberangan yang rapuh, dan sejauh apa pun kamu melangkah mencarinya, kamu harus selalu ingat bahwa dunia ini bukan rumah tempatmu tinggal abadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong kasih komentar ya ?