BERAKHIR DI AKU
Oleh:
Idwik
Gue, Gibran, dan tawa lepas di atas atap kosan adalah sebuah
paket lengkap yang gak pernah absen nemenin malam-malam minggu selama tiga
tahun belakangan ini. Sejak semester satu kuliah, Gibran bukan cuma sekadar
temen satu jurusan buat gue, tapi dia udah kayak saudara kandung tempat gue
berbagi segalanya. Mulai dari urusan tugas kampus yang bikin mumet, patungan
beli mi instan di akhir bulan, sampai mimpi-mimpi gila kita berdua tentang masa
depan. Malam itu, langit di atas kota bener-bener bersih. Kita berdua telentang
beralaskan tikar usang, menatap gugusan bintang yang bertaburan di atas sana
sambil dengerin lagu indie dari speaker HP yang cempreng. Vibes-nya bener-bener
dapet, santai, penuh tawa, dan bikin kita ngerasa kalau dunia malam ini
sepenuhnya milik kita berdua.
"Jey, lo pernah mikir gak
sih, kalau semua kebersamaan kita ini bakalan ada tanggal kedaluwarsanya?"
Tiba-tiba Gibran nanya sambil tangannya menunjuk ke arah rasi bintang Orion di
atas kita. Gue yang lagi asyik scrolling media sosial langsung menoleh,
mengernyitkan dahi karena heran. Gak biasanya anak segokil Gibran ngomong
bernada puitis dan agak melow begini. "Maksud lo gimana, Bran? Ya elah,
tumben banget lo overthinking malam-malam begini. Kita kan masih semester
akhir, jalan kita masih panjang kali," jawab gue santai, mencoba
mengembalikan suasana tongkrongan biar gak terlalu serius.
Gibran tersenyum tipis, tatapan matanya masih lurus menatap
langit malam yang luas. "Gak apa-apa, Jey. Gue cuma lagi mikir aja. Di
dunia ini, segala hal yang punya awal pasti bakal nemuin titik akhirnya. Lo
lihat bintang-bintang yang kelihatan bersinar terang di atas sana? Secara sains
pun, bintang-bintang itu ada umurnya. Pada masanya, mereka bakal kehabisan
bahan bakar, meredup, hancur, dan mati. Alam semesta aja bakalan berakhir,
dunia ini pasti pada akhirnya, apalagi cuma persahabatan dan raga kita yang
lemah begini. Makanya, kalau nanti semua ini berakhir, gue pengen mastiin kalau
kenangan indah ini berakhir di aku, dalam arti gue bakal bawa persahabatan
tulus kita ini sampai mati, sampai kita dibangunin lagi di hadapan-Nya."
Gue diem. Kata-kata Gibran malam itu bener-bener menghujam batin
gue dengan telak. Selama ini, gue selalu menganggap kebersamaan, masa muda, dan
kesenangan bareng sahabat-sahabat gue itu sifatnya abadi. Gue terlalu asyik
menikmati dunia, tertawa lepas, mengejar ambisi materiil, sampai lupa kalau
dunia ini hanyalah panggung sandiwara yang fana. Kita sering lupa kalau waktu
terus berputar maju dan batas usia kita terus berkurang setiap detiknya.
Kalimat Gibran soal kefanaan dunia dan bintang-bintang yang ada umurnya itu
mendadak ngasih sudut pandang baru yang religius di kepala gue, sesuatu yang
selama ini jarang banget gue pikirin di tengah gemerlapnya kehidupan anak muda.
Takdir emang gak pernah ketebak, dan peringatan dari ucapan
Gibran malam itu ternyata menjadi sebuah firasat nyata yang paling memilukan
dalam hidup gue. Hanya berselang dua bulan setelah obrolan di atas atap kosan
itu, sebuah kabar buruk datang meremukkan jantung gue. Gibran didiagnosis
mengidap penyakit bawaan di bagian otaknya yang selama ini dia sembunyikan
rapat-rapat dari gue demi gak mau bikin gue khawatir. Saat gue menjenguknya di
ruang perawatan rumah sakit, badannya yang dulu tegap dan selalu penuh energi,
kini kelihatan sangat kurus dan lemah. Tapi anehnya, senyuman teduh dan sorot
mata penuh persahabatan itu sama sekali gak hilang dari wajahnya.
Gue duduk di samping ranjangnya, menggenggam erat tangan sahabat
terbaik gue itu. Air mata gue yang coba gue tahan di depan dia akhirnya runtuh
juga. "Bran... lo harus kuat, ya. Kita belum wisuda bareng, lo belum
nepatin janji kita buat rintis usaha bareng-bareng," ucap gue terbata-bata
oleh rasa sesak yang menghimpit dada. Gibran cuma membalas genggaman tangan gue
dengan sisa tenaga yang dia punya. "Jey, inget obrolan kita soal
bintang-bintang di atas atap dulu? Umur gue mungkin bener-bener udah di ujung
tanduk, tapi iman kita gak boleh ikut meredup. Jagain ibu gue ya, Jey, kalau
gue udah gak ada. Dan yang paling penting... jangan pernah tinggalin shalat.
Gue pengen kita bersahabat gak cuma di dunia yang fana ini, tapi sampai di
surga-Nya nanti."
Sore harinya, tepat saat adzan maghrib berkumandang dengan
syahdu dari masjid rumah sakit, Gibran menghembuskan napas terakhirnya dengan
sangat tenang setelah membimbing lidahnya mengucapkan kalimat tauhid. Di momen
kepergiannya, batin gue bener-bener hancur, rasa haru dan sedih bercampur aduk
gak keruan. Persahabatan indah kami di dunia resmi berakhir hari itu. Dunia
luar mungkin masih berjalan sibuk seperti biasa, tapi bagi gue, salah satu
bintang paling terang dalam hidup gue baru saja padam untuk selamanya.
Kehilangan sahabat sejati di usia muda bener-bener memberikan tamparan religius
yang luar biasa keras buat kesadaran gue.
Malam setelah pemakaman Gibran, gue kembali berdiri sendirian di
atas atap kosan, tempat di mana kami biasa tertawa bersama. Langit malam itu
kembali bersih, menampilkan jutaan bintang yang bersinar terang, persis seperti
malam minggu dua bulan yang lalu. Tapi kali ini, gak ada lagi suara tawa
Gibran, gak ada lagi musik indie yang cempreng, yang ada cuma kesunyian malam
yang mencekam. Rasa hampa dan kekosongan jiwa langsung menyergap gue tanpa
ampun. Di titik itulah, gue memandang ke langit dan menyadari kebenaran mutlak
dari ucapan almarhum sahabat gue: dunia ini bener-bener fana, semuanya pasti
pada akhirnya, dan gak ada satu pun makhluk yang abadi.
Gue langsung menggelar sajadah di atas atap kosan itu, di bawah
kesaksian bintang-bintang langit yang ada umurnya. Gue takbiratul ihram dengan
tubuh yang gemetar, memulai ibadah shalat maghrib yang selama ini sering gue
tunda dan sepelekan demi urusan nongkrong. Pas air mata gue menetes membasahi
tempat sujud, dada gue rasanya longgar. Di dalam sujud yang khusyuk dan lama
itu, gue meluapkan semua rasa sedih, penyesalan, dan kerinduan gue kepada Allah
SWT. Gue sadar, kematian Gibran adalah sebuah khutbah bisu yang sangat nyata
bagi gue yang masih hidup, sebuah pengingat bahwa maut bisa datang kapan saja
tanpa pandang usia.
"Ya
Allah... Ampuni dosa-dosa sahabat hamba, Gibran. Lapangkanlah kuburnya dan
tempatkanlah dia di tempat terbaik di sisi-Mu. Dan Ya Allah, ampuni juga
hamba-Mu yang lalai ini. Kematian sahabat hamba telah membukakan mata hati
hamba yang selama ini buta oleh gemerlap dunia yang menipu. Mulai malam ini,
hamba bertobat. Izinkan kenangan persahabatan tulus kami berakhir di aku dalam
bentuk amal shalih, di mana hamba berjanji akan menjadi manusia yang lebih
baik, menjaga amanahnya, dan selalu bersujud kepada-Mu sebelum waktu hamba
sendiri yang habis."
Setelah selesai shalat dan berdoa, rasa damai yang luar biasa
sejuk perlahan-lahan mengalir memenuhi ruang kosong di dalam dada gue. Rasa
hampa yang tadi mencekik, kini berganti menjadi sebuah kekuatan batin dan tekad
yang baru. Gue memandang langit malam sekali lagi dengan senyuman tipis yang
tulus. Gue tahu persahabatan fisik kami di dunia emang udah selesai, tapi
ikatan doa di antara kami gak akan pernah bisa diputus oleh kematian. Kenangan
indah, nasehat baik, dan ketulusan Gibran bener-bener berakhir di aku—tersimpan
rapi di dalam hati gue dan bertransformasi menjadi bahan bakar buat gue untuk
terus melangkah di jalan yang diridhai-Nya.
Sejak malam itu, kehidupan gue berubah arah seratus delapan
puluh derajat. Gue tetep jadi anak muda yang aktif di kampus, tapi orientasi
hidup gue udah gak lagi cuma sebatas hal duniawi. Setiap kali gue ngelihat
temen-temen di tongkrongan mulai lalai atau sibuk ngejar kesenangan fana, gue
selalu berusaha ngingetin mereka dengan cara yang halus dan penuh kasih sayang,
persis seperti yang dulu Gibran lakuin ke gue. Gue sadar, tugas gue sekarang
adalah meneruskan kebaikan-kebaikan yang dulu belum sempat Gibran selesaikan di
dunia ini.
Kini, setiap sepertiga malam, gue selalu meluangkan waktu buat
bersujud dan mengirimkan untaian doa serta surat Al-Fatihah khusus untuk
almarhum Gibran. Gue gak pernah lagi ngerasa sepi atau sendirian saat menatap
bintang-bintang di langit malam, karena gue tahu, di balik keindahan langit
yang ada umurnya itu, ada janji Allah yang maha pasti tentang sebuah tempat
kembali yang abadi di akhirat nanti. Persahabatan sejati itu gak diukur dari
seberapa lama kita bisa nongkrong bareng di dunia, tapi dari seberapa besar
usaha kita untuk saling menggandeng tangan menuju jannah-Nya. Dan gue
bener-bener berharap, kelak saat giliran 'bintang' gue yang padam dan waktu gue
habis, Allah bakalan mempertemukan gue kembali dengan Gibran di dalam
surga-Nya, tempat di mana kebersamaan kami gak bakalan pernah nemuin titik
akhir lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong kasih komentar ya ?