Rabu, 03 Juni 2026

Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja


BAGAIMANA KALAU AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA

Oleh: Idwik

Gue duduk di pojok kelas dekat jendela, mengabaikan suara bising temen-temen yang lagi asyik ngegosip soal tren fashion terbaru atau mabar game online di jam istirahat. Pandangan gue lurus tertuju pada layar HP yang lagi nampilin rentetan berita di linimasa media sosial. Gak tahu kenapa, algoritma medsos gue belakangan ini bener-bener bikin overthinking. Di bagian atas ada video reels tentang krisis kemanusiaan akibat perang di luar negeri yang gak kunjung selesai, bangunan hancur, dan tangisan anak-anak seumuran gue yang kehilangan masa depannya. Begitu gue scroll ke bawah, beritanya gak kalah bikin pusing: nilai tukar rupiah yang semakin melemah, inflasi meroket, dan biaya hidup yang katanya bakal makin mencekik. Semua berita buruk itu rasanya tumpah ruah ke kepala gue, bikin dada gue mendadak sesak oleh kecemasan yang luar biasa.

Sebagai seorang anak muda yang statusnya masih pelajar sekolah menengah, ngelihat situasi dunia yang lagi carut-marut begini bener-bener bikin mental gue kena down. Pertanyaan-pertanyaan miring mulai bermunculan di kepala gue secara liar. Nanti pas gue lulus, keadaan bakalan kayak gimana ya? Apakah nyari kerja bakal sekeras dan semustahil yang orang-orang bilang di Twitter? Gimana kalau nanti gue gak bisa ngebahagiain orang tua? Pertanyaan paling krusial yang terus muter di otak gue adalah: *'Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja di masa depan nanti?'* Rasanya bener-bener berat dan ironis, di saat gue masih harus mikirin tugas matematika dan ujian sekolah, di saat yang sama batin gue dipaksa memikul beban kecemasan global yang rasanya terlalu jauh buat kapasitas umur gue sekarang.

"Woi, Jey! Bengong aja lo dari tadi, kesambon baru tahu rasa lo!" Suara tepukan keras di pundak dari Dimas langsung membuyarkan lamunan gelap gue. Gue cuma bisa memaksakan senyum tipis, buru-buru mengunci layar HP dan memasukkannya ke dalam saku seragam. "Gak apa-apa, Bro. Cuma agak pusing aja mikirin materi ujian besok," bohong gue, karena gak mungkin juga gue curhat soal keresahan geopolitik dunia dan pelemahan makroekonomi ke Dimas yang isi kepalanya cuma seputar skuter matic dan coretan grafiti.

Rasa cemas itu terus ngekorin gue sampai gue melangkah pulang ke rumah. Sore itu langit mendung tipis, sekadar nambah kelam suasana hati gue. Pas gue buka pintu rumah, bau harum masakan rumahan langsung menyambut indra penciuman gue. Di dapur, gue ngelihat Umi lagi sUmik memotong sayuran dengan gerakan yang sangat telaten. Meskipun wajah Umi mulai dihiasi garis-garis halus tanda usia yang menua, tapi sorot mata Umi selalu memancarkan energi yang luar biasa positif, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat sama gue yang mukanya udah ditekuk kusut kayak cucian kotor.

Gue naruh tas sekolah di kursi makan, lalu duduk bersandar sambil memperhatikan punggung Umi. "Mi... Umi pernah ngerasa takut gak sih kalau ngelihat berita di TV atau HP sekarang? Perang di mana-mana gak selesai-selesai, harga barang makin mahal, rupiah melemah terus. Jey rasanya takut banget mikirin masa depan Jey nanti, Mi. Gimana kalau dunia bener-bener hancur pas Jey udah lulus sekolah nanti?" kata gue numpahin unek-unek yang sejujurnya udah bikin kepala gue cenat-cenut seharian.

Umi menghentikan aktivitas memasaknya, mengelap tangannya dengan kain bersih, lalu berjalan mendekat ke arah gue. Umi duduk di kursi sebelah gue, mengusap rambut gue dengan penuh kasih sayang yang seketika bikin ketegangan di pundak gue agak mengendur. "Jey, anakku... kalau kamu nanya apakah dunia luar sana sedang baik-baik saja, jawabannya mungkin memang sedang tidak. Tapi, apakah itu artinya kamu harus menyerah dan kalah sebelum berperang? Gak boleh begitu, Nak. Tugas kamu sekarang itu bukan meramal masa depan atau mencemaskan hal-hal makro yang ada di luar kendali jemari kamu. Tugas kamu adalah bersiap," ucap Umi dengan nada suara yang sangat lembut namun sarat akan ketegasan.

Umi menatap mata gue dalam-dalam, menyalurkan energi kekuatan yang biasa beliau miliki. "Inget nasehat Umi ya, Jey. Kamu harus selalu optimis dalam setiap langkah perjuangan kamu, sekecil apa pun itu. Jangan biarkan berita buruk dari luar merusak harapan yang ada di dalam hati kamu. Dan yang paling krusial, di tengah kondisi dunia yang sekacau apa pun nanti, kamu harus tetep teguh menjaga akhlak dan iman kamu. Harta bisa habis, mata uang bisa melemah, tapi anak yang punya akhlak mulia dan kedekatan sama Allah, dia gak akan pernah tersesat dan bakal selalu punya jalan keluar dalam kondisi sesulit apa pun di masa depan."

Kata-kata Umi sore itu bener-bener kayak air es yang disiram ke kepala gue yang lagi kepanasan karena overthinking. Astagfirullah... selama ini gue terlalu fokus ngelihat ke arah luar, ngelihat badai yang lagi mengamuk di belahan dunia lain, sampai gue lupa kalau jangkar kekuatan yang sesungguhnya itu ada di dalam diri gue sendiri, yaitu iman dan akhlak. Gue terlalu sUmik bertanya *'bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja'*, sampai gue lupa kalau Allah adalah dzat yang Maha Mengatur segala urusan makhluk-Nya, termasuk masa depan gue yang masih misteri.

Malamnya, setelah selesai menunaikan ibadah shalat isya berjamaah bareng Umi di ruang tengah, gue gak langsung tidur. Gue ambil air wudhu lagi, lalu duduk bersila di atas sejadah, membuka mushaf Al-Qur'an kecil yang biasa ditaruh di meja belajar. Gue mulai membaca lembar demi lembar ayat suci dengan perlahan, mencoba mencari ketenangan yang gak pernah bisa gue dapetin dari aplikasi berita atau medsos. Pas membaca Surah At-Talaq, mata gue tertuju pada ayat yang artinya: *'Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.'* Detik itu juga, batin gue bener-bener ngerasa haru, air mata gue menetes pelan mengenai permukaan halaman mushaf.

Gue tersungkur dalam posisi sujud syukur yang dalam di atas sejadah. Rasa cemas, takut, dan pesimis yang seharian ini menghimpit dada gue, perlahan-lahan runtuh dan mencair digantikan oleh rasa tenang dan keyakinan yang luar biasa kuat. Gue menyadari kalau mengkhawatirkan masa depan secara berlebihan adalah salah satu bentuk ketidakpencapaian iman kita pada takdir Allah. Selama gue tetep memegang teguh nasehat Umi buat selalu optimis, belajar dengan giat, dan yang paling utama menjaga akhlak serta ibadah gue, maka masa depan itu gak perlu lagi ditakuti secara berlebihan.

"Ya Allah... Ampuni hamba yang sempat ragu akan jaminan-Mu atas masa depan hamba. Di tengah dunia yang sedang penuh dengan ketidakpastian dan ujian ini, tolong tanamkan rasa optimis yang kuat di dalam dada hamba. Bimbinglah hamba agar selalu bisa menjaga akhlak, lisan, dan perbuatan hamba sesuai dengan syariat-Mu. Jauhkan hamba dari sifat putus asa, dan jadikan hamba anak muda yang kuat yang bisa menghadapi kondisi apa pun di masa depan nanti karena selalu mengandalkan-Mu..."

Gue tumpahkan segala pengakuan kelemahan batin itu ke hadapan-Nya sampai perasaan gue bener-bener plong tanpa beban lagi. Begitu gue mengangkat kepala dari sujud, gue ngerasa kayak dilahirkan kembali menjadi pribadi yang baru. Ketakutan yang tadi pagi mencekik leher gue di sekolah, sekarang udah berubah menjadi sebuah energi motivasi yang membara buat gue membuktikan kalau anak muda muslim itu gak gampang loyo cuma karena dihantam isu krisis global.

Keesokan harinya di sekolah, vibes gue bener-bener udah beda seratus delapan puluh derajat. Gue gak lagi duduk murung meratapi layar HP di pojokan kelas dekat jendela. Begitu jam istirahat tiba, gue langsung ngajakin Dimas dan temen-temen kelas lainnya buat bareng-bareng melangkah menuju mushola kampus buat shalat dzuhur berjamaah. Gue pengen nularin energi positif dan kebiasaan baik ini ke lingkungan sekitar gue. Gue pengen nunjukin kalau cara terbaik menghadapi masa depan yang gak pasti adalah dengan mendekatkan diri pada Dzat yang Maha Pasti.

Gue tahu kalau tantangan hidup ke depannya pas gue lulus sekolah nanti gak bakal makin mudah. Perang mungkin masih ada, rupiah mungkin fluktuatif, dan persaingan dunia kerja bakal makin ketat. Tapi sekarang gue udah gak peduli dan gak takut lagi sama semua monster fana itu. Selama nasehat Umi terpatri kuat di dalam dada gue untuk selalu optimis dan menjaga akhlak mulia, gue yakin gue bakal baik-baik saja. Biarlah dunia luar sana berguncang sekencang apa pun, asalkan fondasi iman di dalam hati gue tetep berdiri kokoh tak tergoyahkan. Karena pada akhirnya, masa depan yang sukses bukan milik mereka yang sekadar mencemaskannya, melainkan milik mereka yang berani melangkah penuh optimis dan bersujud dengan tulus di hadapan Sang Pencipta dalam kondisi apa pun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolong kasih komentar ya ?

Ada ttitik titik diujung Do'a

ADA TITIK-TITIK DI UJUNG DOA SAAT MENUJU MASA  PENSIUN  Oleh: Idwik Malam telah beranjak jauh melewati batas puncaknya, menyisakan desau...