BAGAIMANA KALAU AKU TIDAK
BAIK-BAIK SAJA
Oleh:
Idwik
Gue duduk di pojok kelas dekat jendela, mengabaikan suara bising
temen-temen yang lagi asyik ngegosip soal tren fashion terbaru atau mabar game
online di jam istirahat. Pandangan gue lurus tertuju pada layar HP yang lagi
nampilin rentetan berita di linimasa media sosial. Gak tahu kenapa, algoritma
medsos gue belakangan ini bener-bener bikin overthinking. Di bagian atas ada
video reels tentang krisis kemanusiaan akibat perang di luar negeri yang gak
kunjung selesai, bangunan hancur, dan tangisan anak-anak seumuran gue yang
kehilangan masa depannya. Begitu gue scroll ke bawah, beritanya gak kalah bikin
pusing: nilai tukar rupiah yang semakin melemah, inflasi meroket, dan biaya
hidup yang katanya bakal makin mencekik. Semua berita buruk itu rasanya tumpah
ruah ke kepala gue, bikin dada gue mendadak sesak oleh kecemasan yang luar
biasa.
Sebagai seorang anak muda yang statusnya masih pelajar sekolah
menengah, ngelihat situasi dunia yang lagi carut-marut begini bener-bener bikin
mental gue kena down. Pertanyaan-pertanyaan miring mulai bermunculan di kepala
gue secara liar. Nanti pas gue lulus, keadaan bakalan kayak gimana ya? Apakah
nyari kerja bakal sekeras dan semustahil yang orang-orang bilang di Twitter?
Gimana kalau nanti gue gak bisa ngebahagiain orang tua? Pertanyaan paling
krusial yang terus muter di otak gue adalah: *'Bagaimana kalau aku tidak
baik-baik saja di masa depan nanti?'* Rasanya bener-bener berat dan ironis, di
saat gue masih harus mikirin tugas matematika dan ujian sekolah, di saat yang
sama batin gue dipaksa memikul beban kecemasan global yang rasanya terlalu jauh
buat kapasitas umur gue sekarang.
"Woi, Jey! Bengong aja lo
dari tadi, kesambon baru tahu rasa lo!" Suara tepukan keras di pundak dari
Dimas langsung membuyarkan lamunan gelap gue. Gue cuma bisa memaksakan senyum
tipis, buru-buru mengunci layar HP dan memasukkannya ke dalam saku seragam.
"Gak apa-apa, Bro. Cuma agak pusing aja mikirin materi ujian besok,"
bohong gue, karena gak mungkin juga gue curhat soal keresahan geopolitik dunia
dan pelemahan makroekonomi ke Dimas yang isi kepalanya cuma seputar skuter
matic dan coretan grafiti.
Rasa cemas itu terus ngekorin gue sampai gue melangkah pulang ke
rumah. Sore itu langit mendung tipis, sekadar nambah kelam suasana hati gue.
Pas gue buka pintu rumah, bau harum masakan rumahan langsung menyambut indra
penciuman gue. Di dapur, gue ngelihat Umi lagi sUmik memotong sayuran dengan
gerakan yang sangat telaten. Meskipun wajah Umi mulai dihiasi garis-garis halus
tanda usia yang menua, tapi sorot mata Umi selalu memancarkan energi yang luar
biasa positif, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat sama gue yang
mukanya udah ditekuk kusut kayak cucian kotor.
Gue naruh tas sekolah di kursi makan, lalu duduk bersandar
sambil memperhatikan punggung Umi. "Mi... Umi pernah ngerasa takut gak sih
kalau ngelihat berita di TV atau HP sekarang? Perang di mana-mana gak
selesai-selesai, harga barang makin mahal, rupiah melemah terus. Jey rasanya
takut banget mikirin masa depan Jey nanti, Mi. Gimana kalau dunia bener-bener
hancur pas Jey udah lulus sekolah nanti?" kata gue numpahin unek-unek yang
sejujurnya udah bikin kepala gue cenat-cenut seharian.
Umi menghentikan aktivitas memasaknya, mengelap tangannya dengan
kain bersih, lalu berjalan mendekat ke arah gue. Umi duduk di kursi sebelah
gue, mengusap rambut gue dengan penuh kasih sayang yang seketika bikin
ketegangan di pundak gue agak mengendur. "Jey, anakku... kalau kamu nanya
apakah dunia luar sana sedang baik-baik saja, jawabannya mungkin memang sedang
tidak. Tapi, apakah itu artinya kamu harus menyerah dan kalah sebelum
berperang? Gak boleh begitu, Nak. Tugas kamu sekarang itu bukan meramal masa
depan atau mencemaskan hal-hal makro yang ada di luar kendali jemari kamu.
Tugas kamu adalah bersiap," ucap Umi dengan nada suara yang sangat lembut
namun sarat akan ketegasan.
Umi menatap mata gue dalam-dalam, menyalurkan energi kekuatan
yang biasa beliau miliki. "Inget nasehat Umi ya, Jey. Kamu harus selalu
optimis dalam setiap langkah perjuangan kamu, sekecil apa pun itu. Jangan
biarkan berita buruk dari luar merusak harapan yang ada di dalam hati kamu. Dan
yang paling krusial, di tengah kondisi dunia yang sekacau apa pun nanti, kamu
harus tetep teguh menjaga akhlak dan iman kamu. Harta bisa habis, mata uang
bisa melemah, tapi anak yang punya akhlak mulia dan kedekatan sama Allah, dia
gak akan pernah tersesat dan bakal selalu punya jalan keluar dalam kondisi
sesulit apa pun di masa depan."
Kata-kata Umi sore itu bener-bener kayak air es yang disiram ke
kepala gue yang lagi kepanasan karena overthinking. Astagfirullah... selama ini
gue terlalu fokus ngelihat ke arah luar, ngelihat badai yang lagi mengamuk di
belahan dunia lain, sampai gue lupa kalau jangkar kekuatan yang sesungguhnya
itu ada di dalam diri gue sendiri, yaitu iman dan akhlak. Gue terlalu sUmik
bertanya *'bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja'*, sampai gue lupa kalau
Allah adalah dzat yang Maha Mengatur segala urusan makhluk-Nya, termasuk masa
depan gue yang masih misteri.
Malamnya, setelah selesai menunaikan ibadah shalat isya
berjamaah bareng Umi di ruang tengah, gue gak langsung tidur. Gue ambil air
wudhu lagi, lalu duduk bersila di atas sejadah, membuka mushaf Al-Qur'an kecil
yang biasa ditaruh di meja belajar. Gue mulai membaca lembar demi lembar ayat
suci dengan perlahan, mencoba mencari ketenangan yang gak pernah bisa gue
dapetin dari aplikasi berita atau medsos. Pas membaca Surah At-Talaq, mata gue
tertuju pada ayat yang artinya: *'Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.'* Detik itu juga, batin gue
bener-bener ngerasa haru, air mata gue menetes pelan mengenai permukaan halaman
mushaf.
Gue tersungkur dalam posisi sujud syukur yang dalam di atas
sejadah. Rasa cemas, takut, dan pesimis yang seharian ini menghimpit dada gue,
perlahan-lahan runtuh dan mencair digantikan oleh rasa tenang dan keyakinan
yang luar biasa kuat. Gue menyadari kalau mengkhawatirkan masa depan secara
berlebihan adalah salah satu bentuk ketidakpencapaian iman kita pada takdir
Allah. Selama gue tetep memegang teguh nasehat Umi buat selalu optimis, belajar
dengan giat, dan yang paling utama menjaga akhlak serta ibadah gue, maka masa
depan itu gak perlu lagi ditakuti secara berlebihan.
"Ya
Allah... Ampuni hamba yang sempat ragu akan jaminan-Mu atas masa depan hamba.
Di tengah dunia yang sedang penuh dengan ketidakpastian dan ujian ini, tolong
tanamkan rasa optimis yang kuat di dalam dada hamba. Bimbinglah hamba agar selalu
bisa menjaga akhlak, lisan, dan perbuatan hamba sesuai dengan syariat-Mu.
Jauhkan hamba dari sifat putus asa, dan jadikan hamba anak muda yang kuat yang
bisa menghadapi kondisi apa pun di masa depan nanti karena selalu
mengandalkan-Mu..."
Gue tumpahkan segala pengakuan kelemahan batin itu ke
hadapan-Nya sampai perasaan gue bener-bener plong tanpa beban lagi. Begitu gue
mengangkat kepala dari sujud, gue ngerasa kayak dilahirkan kembali menjadi
pribadi yang baru. Ketakutan yang tadi pagi mencekik leher gue di sekolah,
sekarang udah berubah menjadi sebuah energi motivasi yang membara buat gue
membuktikan kalau anak muda muslim itu gak gampang loyo cuma karena dihantam
isu krisis global.
Keesokan harinya di sekolah, vibes gue bener-bener udah beda
seratus delapan puluh derajat. Gue gak lagi duduk murung meratapi layar HP di
pojokan kelas dekat jendela. Begitu jam istirahat tiba, gue langsung ngajakin
Dimas dan temen-temen kelas lainnya buat bareng-bareng melangkah menuju mushola
kampus buat shalat dzuhur berjamaah. Gue pengen nularin energi positif dan
kebiasaan baik ini ke lingkungan sekitar gue. Gue pengen nunjukin kalau cara
terbaik menghadapi masa depan yang gak pasti adalah dengan mendekatkan diri
pada Dzat yang Maha Pasti.
Gue tahu kalau tantangan hidup ke depannya pas gue lulus sekolah
nanti gak bakal makin mudah. Perang mungkin masih ada, rupiah mungkin
fluktuatif, dan persaingan dunia kerja bakal makin ketat. Tapi sekarang gue
udah gak peduli dan gak takut lagi sama semua monster fana itu. Selama nasehat Umi
terpatri kuat di dalam dada gue untuk selalu optimis dan menjaga akhlak mulia,
gue yakin gue bakal baik-baik saja. Biarlah dunia luar sana berguncang
sekencang apa pun, asalkan fondasi iman di dalam hati gue tetep berdiri kokoh
tak tergoyahkan. Karena pada akhirnya, masa depan yang sukses bukan milik
mereka yang sekadar mencemaskannya, melainkan milik mereka yang berani
melangkah penuh optimis dan bersujud dengan tulus di hadapan Sang Pencipta
dalam kondisi apa pun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong kasih komentar ya ?