Rabu, 03 Juni 2026

Berpura-pura Suci

BERPURA-PURA SUCI

Oleh: Idwik

Gue selalu suka sensasi pas notifikasi HP gue bunyi bertubi-tubi tanpa henti. Setiap kali gue membuka layar kunci, angka di ikon aplikasi media sosial gue selalu menunjukkan grafik yang menanjak tajam. Like masuk berhamburan bagaikan air bah, komentar pujian mengalir deras di setiap postingan, dan angka followers di akun pribadi gue merangkak naik ratusan hingga ribuan setiap harinya. Di dunia maya yang serba fana itu, gue dikenal sebagai sosok cowok berwajah adem, kalem, yang rajin banget nge-share konten-konten dakwah visual, potongan ayat Al-Qur'an dengan latar estetis, dan untaian hadits penyejuk kalbu. Semua orang di kolom komentar memuja gue dengan sebutan "Akhi", "Adem banget ngelihat vibes-nya", atau "Ini sih cowok idaman dunia akhirat banget, Kak". Jujur, semua pujian dan atensi itu bener-bener bikin kecanduan. Rasanya kayak dapet suntikan dopamin dosis tinggi yang langsung menerbangkan ego gue tinggi-tinggi ke langit ketujuh, membuat gue merasa menjadi manusia yang paling istimewa dan terpilih di antara yang lain.

Tapi, kalau lo semua punya kekuatan buat ngintip kehidupan asli gue pas layar HP itu mati dan terkunci, lo bakal nemuin sebuah realita yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Di balik akun ber-vibes islami dan religius itu, gue hanyalah seorang cowok biasa yang luar biasa hampa. Konten-konten rohani yang gue unggah tiap subuh itu sama sekali bukan lahir dari ketulusan hati yang rindu pada Tuhan atau keinginan murni untuk menyebarkan kebaikan, melainkan hasil dari riset algoritma yang matang. Gue tahu persis jam-jam berapa aja netizen bakal ramai memegang HP, gue tahu potongan audio religius atau sholawat mana yang lagi tren dan berpotensi viral, dan gue tahu banget sudut pengambilan video serta pencahayaan yang bisa bikin wajah gue kelihatan paling khusyuk sekaligus estetik pas lagi pura-pura membaca mushaf Al-Qur'an di pojokan kamar. Semuanya murni demi angka statistik, demi metrik engagement, dan demi sebuah validasi semu dari orang-orang yang bahkan gak mengenal nama asli gue.

Setiap kali selesai memproduksi atau mengunggah konten dakwah, gue bakal langsung balik ke setelan pabrik gue yang asli. Shalat lima waktu yang di video gue sebut sebagai tiang agama dan pelipur lara, kenyataannya sering banget gue rapel di ujung waktu, bahkan gak jarang terlewat begitu aja kalau gue udah keasyikan mabar game online atau nongkrong sampai larut subuh bareng anak-anak tongkrongan. Mulut gue yang di dalam video bisa ngomong manis banget soal pentingnya menjaga pandangan, menjauhi maksiat, dan menjaga hati, pada realitanya malah sering banget dipake buat ghibah, nge-judge orang lain, atau scrolling akun-akun medsos yang gak semestinya sampai mata gue lelah. Gue hidup di dalam sebuah topeng tebal nan indah yang gue desain sendiri dengan sangat rapi dan penuh perhitungan, sampai-sampai lingkaran pertemanan gue di kampus bener-bener percaya kalau gue adalah sosok yang suci, lurus, tanpa cela, dan sangat dekat dengan Tuhan.

"Gila, Jey, lo bener-bener panutan banget buat anak muda zaman sekarang, deh. Kemarin ceramah singkat lo di Reels soal memaafkan diri sendiri bikin sepupu gue bener-bener dapet hidayah dan nangis, tahu gak," kata Dimas, salah satu temen kampus gue pas kita lagi santai nongkrong di kantin siang itu. Mendengar itu, gue cuma tersenyum tipis, memasang wajah rendah hati dan penuh wibawa yang sejujurnya sudah gue latih berkali-kali di depan cermin kamar. "Ah, biasa aja, Bro. Itu semua cuma titipan dan titisan hidayah dari Allah, gue pribadi juga masih banyak kekurangan dan masih harus banyak belajar," jawab gue dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan agar terdengar sangat bijaksana. Di dalam hati? Gue tertawa puas. Gue merasa sangat hebat karena berhasil menaklukkan ekspektasi orang-orang di sekitar gue. Gue bangga bisa menyetir cara orang lain menilai diri gue, meskipun jauh di dalam lubuk hati kecil yang paling dalam, ada sesuatu yang perlahan-lahan mulai terkikis dan hancur.

Lambat laun, topeng kesucian ini rasanya menjadi semakin berat dan menyesakkan buat dipakai sehari-hari. Hidup dalam dua kepribadian yang saling bertolak belakang secara ekstrem itu ternyata bener-bener menguras energi batin gue. Di satu sisi gue dituntut untuk tetap menjaga reputasi serta citra sebagai "anak shalih ideal" di depan publik dan kamera, tapi di sisi lain, jiwa asli gue bener-bener garing, kehausan, dan kelaparan akan ketenangan yang nyata. Gue mulai merasakan ada keanehan yang mendalam tiap kali gue selesai mengunggah video dakwah terbaru yang berhasil menembus puluhan ribu views. Alih-alih merasa senang, tenang, atau damai karena habis membagikan ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak, yang gue rasain justru malah sebaliknya. Ada sebuah ruang kosong yang sangat besar di dalam dada gue, sebuah lubang hitam tak berdasar yang perlahan-lahan menyedot seluruh ketenangan hidup gue dan menyisakan kehampaan yang aneh.

Puncaknya terjadi pada suatu malam di pertengahan bulan Ramadhan yang lalu. Jalanan di luar rumah sepi banget, hanya ada suara lolongan anjing sayup-sayup dan desau angin malam di kejauhan. Kamar tidur gue bener-bener senyap. Beberapa menit yang lalu, gue baru aja membagikan sebuah video refleksi diri yang mendalam tentang kemuliaan malam Lailatul Qadar yang gue edit sedemikian rupa menggunakan aplikasi kekinian, lengkap dengan latar musik instrumen yang menyayat hati dan filter visual yang dramatis. Video itu langsung meledak dalam hitungan menit. Ribuan orang memberikan tanda suka, puluhan orang membagikan ulang konten itu ke cerita Instagram mereka, dan kolom komentar dipenuhi kalimat-kalimat penuh kekaguman dan doa. Tapi anehnya, malam itu, suntikan dopamin dari internet yang biasanya sangat ampuh bikin gue langsung bahagia, tiba-tiba gak bekerja sama sekali di tubuh gue.

Gue meletakkan HP di atas kasur dengan posisi layar menghadap ke bawah, seolah-olah muak melihat angka-angka yang terus berputar. Gue berjalan pelan ke arah jendela kamar, menatap langit malam yang mendung kelam tanpa ada satu pun bintang yang bersinar. Di momen itulah, sebuah rasa sunyi dan sepi yang amat sangat luar biasa langsung menyergap dan mencekik gue tanpa ampun. Rasanya bener-bener menakutkan dan asing. Gue merasa dikelilingi oleh ratusan ribu orang di dunia maya yang memuja-muja nama gue, tapi di dalam ruangan ini, gue ngerasa bener-bener sendirian, terisolasi, hampa, dan tak berarti. Dada gue rasanya sesak banget, seolah-olah pasokan oksigen di kamar itu mendadak habis menguap. Kekosongan jiwa yang selama berbulan-bulan ini coba gue abaikan dengan cara berburu angka likes dan pujian, malam itu tumpah ruah menuntut untuk diakui keberadaannya.

Gue membalikkan badan dan menatap bayangan diri gue sendiri di kaca lemari yang besar. Di sana berdiri seorang cowok yang penampilannya kelihatan sangat asing bagi gue sendiri. "Siapa sih lo sebenernya? Cowok shalih di video itu atau bajingan munafik yang berdiri di sini?" bisik gue lirih pada bayangan itu. Air mata yang udah bertahun-tahun gak pernah keluar, tiba-tiba aja menetes deras membasahi pipi gue. Malam itu, gue bener-bener ngerasa jijik dan muak sama diri gue sendiri. Gue merasa kayak seorang penipu ulung yang paling hina karena tega mempermainkan simbol-simbol agama demi sebuah popularitas murahan dan demi gengsi di hadapan manusia. Orang-orang mengira gue lagi berjalan mendekatkan diri pada Tuhan, padahal kenyataannya gue cuma lagi merangkak mendekatkan diri pada pujian manusia. Jiwa gue bener-bener kosong melongpong, gak ada isinya sama sekali. Semua konten itu kosong, semua pujian itu hambar, dan semua reputasi itu gak lebih dari sekadar fatamorgana yang menipu batin.

Gue terduduk lemas di atas lantai kamar yang dingin dengan lutut ditekuk. Di tengah rasa frustrasi, ketakutan, dan kekosongan yang membakar dada, ingatan gue tiba-tiba melayang pada sebuah hadits yang dulu pernah gue baca sekilas saat sibuk mencari bahan mentah untuk dijadikan konten medsos—hadits yang menceritakan tentang orang-orang yang pertama kali diseret dan dilemparkan ke dalam api neraka, yang salah satunya adalah seorang alim yang menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain hanya agar disebut sebagai orang yang hebat dan alim oleh manusia. Seketika itu juga, seluruh tubuh gue langsung gemetar hebat seolah tersengat listrik. Jantung gue berdegup kencang karena rasa takut yang teramat sangat bergejolak di dalam dada. Selama ini gue merasa aman-aman aja dan terlindungi dengan kepura-puraan ini, tanpa pernah gue sadari kalau gue sedang berjalan pelan-pelan dengan mata tertutup menuju jurang kehancuran yang hakiki di akhirat nanti.

Malam itu juga, di sepertiga malam yang sunyi dan dingin, gue memaksakan diri yang lemas untuk bangkit berdiri. Dengan langkah kaki yang terasa sangat berat dan tubuh yang masih gemetar, gue berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Pas air dingin itu menyentuh dan membasahi kulit wajah gue, rasanya kayak ada beban berat yang luruh dari kepala gue. Gue berjalan kembali ke kamar lalu menggelar selembar kain sejadah di pojok ruangan, tempat yang biasanya cuma gue pakai sebagai properti atau latar belakang estetis saat mengambil foto atau video konten. Tapi kali ini bener-bener berbeda. Gak ada lampu ring light yang menyala terang, gak ada kamera HP yang siap merekam setiap gerakan gue, dan gak ada skrip kalimat bijak yang harus gue hafalkan di luar kepala. Hanya ada gue yang hina, selembar kain sejadah, dan kegelapan sepertiga malam yang sunyi.

Gue mengangkat kedua tangan gue ke atas untuk memulai gerakan takbiratul ihram. Pas lidah dan bibir gue mengucap kalimat Allahu Akbar, dada gue langsung bergetar hebat menahan gejolak rasa yang membuncah. Jalannya shalat kali ini rasanya menjadi sangat panjang, melelahkan, dan berat banget, karena setiap bait bacaan shalat yang gue ucapkan langsung menghujam tajam ke dalam kesadaran jiwa gue yang paling dalam. Pas gerakan gue sampai di posisi sujud terakhir, seluruh benteng pertahanan ego dan kesombongan gue bener-bener runtuh total tak tersisa. Gue gak bisa lagi membendung suara tangisan yang sedari tadi sudah menyumbat di tenggorokan gue. Tubuh gue terguncang hebat di atas lantai sejadah. Gue menangis sejadi-jadinya di keheningan malam itu, meluapkan semua rasa sesak, kehampaan, kehinaan, dan rasa bersalah yang selama ini gue sembunyikan rapat-rapat di balik topeng kesucian.

"Ya Allah... Ampuni hamba. Hamba adalah makhluk-Mu yang paling palsu, yang paling munafik, dan paling hina. Selama ini hamba tega menjual nama-Mu yang agung hanya demi mendapatkan pujian dari manusia yang sejatinya gak ada harganya dan gak ada gunanya sama sekali. Hamba selalu berpura-pura suci dan bersih di hadapan makhluk-Mu, padahal jiwa hamba sangat busuk, kotor, dan penuh dosa di hadapan-Mu. Tolong isi kembali hati hamba yang kosong dan mati ini dengan sepercik ketulusan iman yang nyata, Ya Allah... Tolong jangan campakkan hamba ke dalam golongan orang-orang yang merugi."

Gue tumpahkan dan adukan semua pengakuan dosa serta kebusukan hati itu tanpa ada satu pun yang gue tutup-tutupi lagi di hadapan-Nya. Gue bener-bener berserah diri sepasrah-pasrahnya, memohon dengan sangat agar Allah yang Maha Pengampun sudi menerima kembali hamba-Nya yang penuh dengan kepalsuan ini. Di dalam sujud yang berlangsung sangat lama dan basah oleh air mata itu, gue akhirnya sadar sesadar-sadarnya kalau berpura-pura suci itu sama sekali gak ada gunanya dan hanya melelahkan batin. Pujian dari jutaan manusia di internet gak bakal pernah bisa memberikan ketenangan atau kedamaian sedikit pun ke dalam jiwa jika Allah murka dan berpaling dari kita. Validasi dari netizen itu gak bakal bisa menyelamatkan atau menemani gue pas tubuh gue sudah terbujur kaku di dalam liang kubur yang gelap nanti. Kepalsuan hanya akan melahirkan kekosongan, dan satu-satunya cara untuk mengisi kekosongan itu adalah dengan kembali pada-Nya secara jujur, tulus, dan apa adanya tanpa embel-embel pencitraan.

Pas gue mengakhiri shalat dengan mengucapkan salam ke arah kanan dan ke kiri, sebuah perasaan lega yang luar biasa yang belum pernah gue rasakan seumur hidup langsung merayap dan memenuhi dada gue. Rasa sesak, cemas, dan hampa yang tadi sempat mencekik leher gue, perlahan-lahan menguap hilang digantikan oleh sebuah kedamaian yang sangat sejuk, tenang, dan tulus—sesuatu yang gak pernah bisa gue dapetin dari jutaan likes atau viewers di media sosial mana pun. Gue mengambil HP gue yang masih tergeletak bisu di atas kasur. Tanpa ada keraguan atau ketakutan sedikit pun di hati, gue membuka aplikasi media sosial gue dan langsung menghapus permanen beberapa video terakhir yang gue bikin dengan niat terselubung untuk pamer kesalihan. Gue juga mengubah bio profil akun gue yang semula penuh dengan kalimat-kalimat dakwah sok bijak, menjadi satu kalimat sederhana yang lahir dari kejujuran hati: Hanya seorang pendosa yang sedang mengetuk pintu ampunan-Nya.

Gue tahu persis bahwa proses untuk menyembuhkan hati yang sempat rusak dan sakit karena penyakit riya, ujub, dan gila pujian ini gak bakal mudah dijalani ke depannya. Bakal butuh perjuangan keras dan waktu yang lama untuk bener-bener bisa membersihkan niat di setiap amalan ibadah gue agar murni karena-Nya. Tapi malam itu, gue udah mengambil keputusan yang bulat dan final. Gue gak mau lagi hidup sengsara demi penilaian mata manusia. Gue gak mau lagi menjadi budak konten yang rela menukar kesucian iman demi angka statistik digital yang fana dan menipu. Biarlah ke depannya gue kelihatan sebagai cowok biasa saja, bahkan gak dikenal atau dilupakan sama sekali oleh orang-orang di dunia maya, asalkan nama gue gak asing di hadapan para malaikat langit-Mu. Karena pada akhirnya, harta yang paling berharga dan menenangkan jiwa di dunia ini adalah ketika kita berani jujur pada diri sendiri, mengakui segala kekurangan, dan bener-bener tulus bersujud dengan khusyuk di hadapan Sang Pencipta, tanpa ada kepalsuan, tanpa ada kamera, dan tanpa perlu berpura-pura menjadi suci lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolong kasih komentar ya ?

Ada ttitik titik diujung Do'a

ADA TITIK-TITIK DI UJUNG DOA SAAT MENUJU MASA  PENSIUN  Oleh: Idwik Malam telah beranjak jauh melewati batas puncaknya, menyisakan desau...