BERPURA-PURA SUCI
Oleh:
Idwik
Gue selalu suka sensasi pas notifikasi HP gue bunyi bertubi-tubi
tanpa henti. Setiap kali gue membuka layar kunci, angka di ikon aplikasi media
sosial gue selalu menunjukkan grafik yang menanjak tajam. Like masuk berhamburan
bagaikan air bah, komentar pujian mengalir deras di setiap postingan, dan angka
followers di akun pribadi gue merangkak naik ratusan hingga ribuan setiap
harinya. Di dunia maya yang serba fana itu, gue dikenal sebagai sosok cowok
berwajah adem, kalem, yang rajin banget nge-share konten-konten dakwah visual,
potongan ayat Al-Qur'an dengan latar estetis, dan untaian hadits penyejuk
kalbu. Semua orang di kolom komentar memuja gue dengan sebutan
"Akhi", "Adem banget ngelihat vibes-nya", atau "Ini sih
cowok idaman dunia akhirat banget, Kak". Jujur, semua pujian dan atensi
itu bener-bener bikin kecanduan. Rasanya kayak dapet suntikan dopamin dosis
tinggi yang langsung menerbangkan ego gue tinggi-tinggi ke langit ketujuh,
membuat gue merasa menjadi manusia yang paling istimewa dan terpilih di antara
yang lain.
Tapi, kalau lo semua punya kekuatan buat ngintip kehidupan asli
gue pas layar HP itu mati dan terkunci, lo bakal nemuin sebuah realita yang
berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Di balik akun ber-vibes
islami dan religius itu, gue hanyalah seorang cowok biasa yang luar biasa
hampa. Konten-konten rohani yang gue unggah tiap subuh itu sama sekali bukan
lahir dari ketulusan hati yang rindu pada Tuhan atau keinginan murni untuk
menyebarkan kebaikan, melainkan hasil dari riset algoritma yang matang. Gue
tahu persis jam-jam berapa aja netizen bakal ramai memegang HP, gue tahu
potongan audio religius atau sholawat mana yang lagi tren dan berpotensi viral,
dan gue tahu banget sudut pengambilan video serta pencahayaan yang bisa bikin
wajah gue kelihatan paling khusyuk sekaligus estetik pas lagi pura-pura membaca
mushaf Al-Qur'an di pojokan kamar. Semuanya murni demi angka statistik, demi
metrik engagement, dan demi sebuah validasi semu dari orang-orang yang bahkan
gak mengenal nama asli gue.
Setiap kali selesai memproduksi atau mengunggah konten dakwah,
gue bakal langsung balik ke setelan pabrik gue yang asli. Shalat lima waktu
yang di video gue sebut sebagai tiang agama dan pelipur lara, kenyataannya
sering banget gue rapel di ujung waktu, bahkan gak jarang terlewat begitu aja
kalau gue udah keasyikan mabar game online atau nongkrong sampai larut subuh
bareng anak-anak tongkrongan. Mulut gue yang di dalam video bisa ngomong manis
banget soal pentingnya menjaga pandangan, menjauhi maksiat, dan menjaga hati,
pada realitanya malah sering banget dipake buat ghibah, nge-judge orang lain,
atau scrolling akun-akun medsos yang gak semestinya sampai mata gue lelah. Gue
hidup di dalam sebuah topeng tebal nan indah yang gue desain sendiri dengan
sangat rapi dan penuh perhitungan, sampai-sampai lingkaran pertemanan gue di
kampus bener-bener percaya kalau gue adalah sosok yang suci, lurus, tanpa cela,
dan sangat dekat dengan Tuhan.
"Gila, Jey, lo bener-bener panutan banget buat anak muda
zaman sekarang, deh. Kemarin ceramah singkat lo di Reels soal memaafkan diri
sendiri bikin sepupu gue bener-bener dapet hidayah dan nangis, tahu gak,"
kata Dimas, salah satu temen kampus gue pas kita lagi santai nongkrong di kantin
siang itu. Mendengar itu, gue cuma tersenyum tipis, memasang wajah rendah hati
dan penuh wibawa yang sejujurnya sudah gue latih berkali-kali di depan cermin
kamar. "Ah, biasa aja, Bro. Itu semua cuma titipan dan titisan hidayah
dari Allah, gue pribadi juga masih banyak kekurangan dan masih harus banyak
belajar," jawab gue dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan agar
terdengar sangat bijaksana. Di dalam hati? Gue tertawa puas. Gue merasa sangat
hebat karena berhasil menaklukkan ekspektasi orang-orang di sekitar gue. Gue
bangga bisa menyetir cara orang lain menilai diri gue, meskipun jauh di dalam
lubuk hati kecil yang paling dalam, ada sesuatu yang perlahan-lahan mulai
terkikis dan hancur.
Lambat laun, topeng kesucian ini rasanya menjadi semakin berat
dan menyesakkan buat dipakai sehari-hari. Hidup dalam dua kepribadian yang
saling bertolak belakang secara ekstrem itu ternyata bener-bener menguras
energi batin gue. Di satu sisi gue dituntut untuk tetap menjaga reputasi serta
citra sebagai "anak shalih ideal" di depan publik dan kamera, tapi di
sisi lain, jiwa asli gue bener-bener garing, kehausan, dan kelaparan akan
ketenangan yang nyata. Gue mulai merasakan ada keanehan yang mendalam tiap kali
gue selesai mengunggah video dakwah terbaru yang berhasil menembus puluhan ribu
views. Alih-alih merasa senang, tenang, atau damai karena habis membagikan ilmu
yang bermanfaat bagi orang banyak, yang gue rasain justru malah sebaliknya. Ada
sebuah ruang kosong yang sangat besar di dalam dada gue, sebuah lubang hitam
tak berdasar yang perlahan-lahan menyedot seluruh ketenangan hidup gue dan
menyisakan kehampaan yang aneh.
Puncaknya terjadi pada suatu malam di pertengahan bulan Ramadhan
yang lalu. Jalanan di luar rumah sepi banget, hanya ada suara lolongan anjing sayup-sayup
dan desau angin malam di kejauhan. Kamar tidur gue bener-bener senyap. Beberapa
menit yang lalu, gue baru aja membagikan sebuah video refleksi diri yang
mendalam tentang kemuliaan malam Lailatul Qadar yang gue edit sedemikian rupa
menggunakan aplikasi kekinian, lengkap dengan latar musik instrumen yang
menyayat hati dan filter visual yang dramatis. Video itu langsung meledak dalam
hitungan menit. Ribuan orang memberikan tanda suka, puluhan orang membagikan
ulang konten itu ke cerita Instagram mereka, dan kolom komentar dipenuhi
kalimat-kalimat penuh kekaguman dan doa. Tapi anehnya, malam itu, suntikan
dopamin dari internet yang biasanya sangat ampuh bikin gue langsung bahagia,
tiba-tiba gak bekerja sama sekali di tubuh gue.
Gue meletakkan HP di atas kasur dengan posisi layar menghadap ke
bawah, seolah-olah muak melihat angka-angka yang terus berputar. Gue berjalan
pelan ke arah jendela kamar, menatap langit malam yang mendung kelam tanpa ada
satu pun bintang yang bersinar. Di momen itulah, sebuah rasa sunyi dan sepi
yang amat sangat luar biasa langsung menyergap dan mencekik gue tanpa ampun.
Rasanya bener-bener menakutkan dan asing. Gue merasa dikelilingi oleh ratusan
ribu orang di dunia maya yang memuja-muja nama gue, tapi di dalam ruangan ini, gue
ngerasa bener-bener sendirian, terisolasi, hampa, dan tak berarti. Dada gue
rasanya sesak banget, seolah-olah pasokan oksigen di kamar itu mendadak habis
menguap. Kekosongan jiwa yang selama berbulan-bulan ini coba gue abaikan dengan
cara berburu angka likes dan pujian, malam itu tumpah ruah menuntut untuk
diakui keberadaannya.
Gue membalikkan badan dan menatap bayangan diri gue sendiri di
kaca lemari yang besar. Di sana berdiri seorang cowok yang penampilannya
kelihatan sangat asing bagi gue sendiri. "Siapa sih lo sebenernya? Cowok
shalih di video itu atau bajingan munafik yang berdiri di sini?" bisik gue
lirih pada bayangan itu. Air mata yang udah bertahun-tahun gak pernah keluar,
tiba-tiba aja menetes deras membasahi pipi gue. Malam itu, gue bener-bener
ngerasa jijik dan muak sama diri gue sendiri. Gue merasa kayak seorang penipu
ulung yang paling hina karena tega mempermainkan simbol-simbol agama demi
sebuah popularitas murahan dan demi gengsi di hadapan manusia. Orang-orang
mengira gue lagi berjalan mendekatkan diri pada Tuhan, padahal kenyataannya gue
cuma lagi merangkak mendekatkan diri pada pujian manusia. Jiwa gue bener-bener
kosong melongpong, gak ada isinya sama sekali. Semua konten itu kosong, semua
pujian itu hambar, dan semua reputasi itu gak lebih dari sekadar fatamorgana
yang menipu batin.
Gue terduduk lemas di atas lantai kamar yang dingin dengan lutut
ditekuk. Di tengah rasa frustrasi, ketakutan, dan kekosongan yang membakar
dada, ingatan gue tiba-tiba melayang pada sebuah hadits yang dulu pernah gue
baca sekilas saat sibuk mencari bahan mentah untuk dijadikan konten
medsos—hadits yang menceritakan tentang orang-orang yang pertama kali diseret
dan dilemparkan ke dalam api neraka, yang salah satunya adalah seorang alim
yang menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain hanya agar disebut
sebagai orang yang hebat dan alim oleh manusia. Seketika itu juga, seluruh
tubuh gue langsung gemetar hebat seolah tersengat listrik. Jantung gue berdegup
kencang karena rasa takut yang teramat sangat bergejolak di dalam dada. Selama
ini gue merasa aman-aman aja dan terlindungi dengan kepura-puraan ini, tanpa
pernah gue sadari kalau gue sedang berjalan pelan-pelan dengan mata tertutup
menuju jurang kehancuran yang hakiki di akhirat nanti.
Malam itu juga, di sepertiga malam yang sunyi dan dingin, gue
memaksakan diri yang lemas untuk bangkit berdiri. Dengan langkah kaki yang
terasa sangat berat dan tubuh yang masih gemetar, gue berjalan menuju kamar
mandi untuk mengambil air wudhu. Pas air dingin itu menyentuh dan membasahi
kulit wajah gue, rasanya kayak ada beban berat yang luruh dari kepala gue. Gue
berjalan kembali ke kamar lalu menggelar selembar kain sejadah di pojok
ruangan, tempat yang biasanya cuma gue pakai sebagai properti atau latar
belakang estetis saat mengambil foto atau video konten. Tapi kali ini
bener-bener berbeda. Gak ada lampu ring light yang menyala terang, gak ada
kamera HP yang siap merekam setiap gerakan gue, dan gak ada skrip kalimat bijak
yang harus gue hafalkan di luar kepala. Hanya ada gue yang hina, selembar kain
sejadah, dan kegelapan sepertiga malam yang sunyi.
Gue mengangkat kedua tangan gue ke atas untuk memulai gerakan
takbiratul ihram. Pas lidah dan bibir gue mengucap kalimat Allahu Akbar, dada
gue langsung bergetar hebat menahan gejolak rasa yang membuncah. Jalannya
shalat kali ini rasanya menjadi sangat panjang, melelahkan, dan berat banget,
karena setiap bait bacaan shalat yang gue ucapkan langsung menghujam tajam ke
dalam kesadaran jiwa gue yang paling dalam. Pas gerakan gue sampai di posisi
sujud terakhir, seluruh benteng pertahanan ego dan kesombongan gue bener-bener
runtuh total tak tersisa. Gue gak bisa lagi membendung suara tangisan yang
sedari tadi sudah menyumbat di tenggorokan gue. Tubuh gue terguncang hebat di
atas lantai sejadah. Gue menangis sejadi-jadinya di keheningan malam itu,
meluapkan semua rasa sesak, kehampaan, kehinaan, dan rasa bersalah yang selama
ini gue sembunyikan rapat-rapat di balik topeng kesucian.
"Ya
Allah... Ampuni hamba. Hamba adalah makhluk-Mu yang paling palsu, yang paling
munafik, dan paling hina. Selama ini hamba tega menjual nama-Mu yang agung
hanya demi mendapatkan pujian dari manusia yang sejatinya gak ada harganya dan
gak ada gunanya sama sekali. Hamba selalu berpura-pura suci dan bersih di
hadapan makhluk-Mu, padahal jiwa hamba sangat busuk, kotor, dan penuh dosa di
hadapan-Mu. Tolong isi kembali hati hamba yang kosong dan mati ini dengan
sepercik ketulusan iman yang nyata, Ya Allah... Tolong jangan campakkan hamba
ke dalam golongan orang-orang yang merugi."
Gue tumpahkan dan adukan semua pengakuan dosa serta kebusukan
hati itu tanpa ada satu pun yang gue tutup-tutupi lagi di hadapan-Nya. Gue
bener-bener berserah diri sepasrah-pasrahnya, memohon dengan sangat agar Allah
yang Maha Pengampun sudi menerima kembali hamba-Nya yang penuh dengan kepalsuan
ini. Di dalam sujud yang berlangsung sangat lama dan basah oleh air mata itu,
gue akhirnya sadar sesadar-sadarnya kalau berpura-pura suci itu sama sekali gak
ada gunanya dan hanya melelahkan batin. Pujian dari jutaan manusia di internet
gak bakal pernah bisa memberikan ketenangan atau kedamaian sedikit pun ke dalam
jiwa jika Allah murka dan berpaling dari kita. Validasi dari netizen itu gak
bakal bisa menyelamatkan atau menemani gue pas tubuh gue sudah terbujur kaku di
dalam liang kubur yang gelap nanti. Kepalsuan hanya akan melahirkan kekosongan,
dan satu-satunya cara untuk mengisi kekosongan itu adalah dengan kembali
pada-Nya secara jujur, tulus, dan apa adanya tanpa embel-embel pencitraan.
Pas gue mengakhiri shalat dengan mengucapkan salam ke arah kanan
dan ke kiri, sebuah perasaan lega yang luar biasa yang belum pernah gue rasakan
seumur hidup langsung merayap dan memenuhi dada gue. Rasa sesak, cemas, dan
hampa yang tadi sempat mencekik leher gue, perlahan-lahan menguap hilang
digantikan oleh sebuah kedamaian yang sangat sejuk, tenang, dan tulus—sesuatu
yang gak pernah bisa gue dapetin dari jutaan likes atau viewers di media sosial
mana pun. Gue mengambil HP gue yang masih tergeletak bisu di atas kasur. Tanpa
ada keraguan atau ketakutan sedikit pun di hati, gue membuka aplikasi media
sosial gue dan langsung menghapus permanen beberapa video terakhir yang gue
bikin dengan niat terselubung untuk pamer kesalihan. Gue juga mengubah bio
profil akun gue yang semula penuh dengan kalimat-kalimat dakwah sok bijak,
menjadi satu kalimat sederhana yang lahir dari kejujuran hati: Hanya seorang
pendosa yang sedang mengetuk pintu ampunan-Nya.
Gue tahu persis bahwa proses untuk menyembuhkan hati yang sempat
rusak dan sakit karena penyakit riya, ujub, dan gila pujian ini gak bakal mudah
dijalani ke depannya. Bakal butuh perjuangan keras dan waktu yang lama untuk
bener-bener bisa membersihkan niat di setiap amalan ibadah gue agar murni
karena-Nya. Tapi malam itu, gue udah mengambil keputusan yang bulat dan final.
Gue gak mau lagi hidup sengsara demi penilaian mata manusia. Gue gak mau lagi
menjadi budak konten yang rela menukar kesucian iman demi angka statistik
digital yang fana dan menipu. Biarlah ke depannya gue kelihatan sebagai cowok
biasa saja, bahkan gak dikenal atau dilupakan sama sekali oleh orang-orang di
dunia maya, asalkan nama gue gak asing di hadapan para malaikat langit-Mu.
Karena pada akhirnya, harta yang paling berharga dan menenangkan jiwa di dunia
ini adalah ketika kita berani jujur pada diri sendiri, mengakui segala
kekurangan, dan bener-bener tulus bersujud dengan khusyuk di hadapan Sang
Pencipta, tanpa ada kepalsuan, tanpa ada kamera, dan tanpa perlu berpura-pura
menjadi suci lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong kasih komentar ya ?