Kamis, 11 Juni 2026

Ibu Dalam Doaku


IBU DALAM DOAKU

Oleh: Idwik

Dering gawai di atas sajadah membuyarkan keheningan sepertiga malam yang syahdu. Di layar beraliran digital itu, tertera nama adik bungsu saya di kampung halaman. Ketika tombol hijau saya geser, suara isak tangis yang tertahan langsung memecah kesunyian kamar. "Mas... Ibu sudah tiada. Ibu baru saja menghembuskan napas terakhirnya," bisiknya terbata-bata. Detik itu juga, runtuh sudah seluruh pertahanan batin saya. Tubuh saya luruh di atas hamparan sejadah. Kenangan pahit beberapa tahun lalu saat bapak berpulang mendahului kami kembali berputar, dan kini, pelita belas kasih yang tersisa di dunia itu telah padam sepenuhnya. Ibu, sosok pelindung doa kami, telah menyusul bapak ke alam keabadian.

Waktu mengalir laksana air, membawa kami berlima, anak-anaknya, pada garis takdir masing-masing. Kami semua kini telah tumbuh dewasa dan semuanya sudah membangun bahtera rumah tangga. Sepeninggal bapak dan ibu, kami berlima membawa cerita hidup masing-masing yang tidak jarang penuh dengan liku-liku perjuangan. Ada yang menetap di kota kelahiran menjaga warisan moral orang tua, dan ada pula saya, anak kedua yang memilih garis takdir di tanah perantauan yang jauh. Di kota rantau ini, Tuhan mengaruniakan saya amanah yang luar biasa besar: seorang istri yang shalihah dan enam orang anak yang masih kecil-kecil dan tumbuh dinamis. Menjadi kepala keluarga dengan enam anak di perantauan adalah sebuah cerita perjuangan tersendiri yang menuntut keteguhan lahir dan batin.

Di tengah riuh rendahnya suara enam anak saya yang memenuhi rumah kontrakan sederhana di perantauan, ada sebuah sudut sunyi di dalam hati saya yang kerap kali dirundung kesedihan yang teramat dalam. Penyesalan itu selalu datang mengetuk batin setiap kali saya mengingat almarhumah ibu. Selama ibu masih hidup, kehidupan ekonomi saya di rantau berada dalam kondisi yang sangat pas-pasan. Jangankan untuk membelikan ibu perhiasan emas, baju baru yang mewah, atau mengirimkan uang bulanan yang melimpah, untuk mencukupi kebutuhan susu dan sekolah anak-anak saya saja, saya harus memeras keringat hingga kering. Hingga ajal menjemput ibu, saya bener-bener tidak pernah sempat memberikan apa pun dalam bentuk materi atau kemewahan duniawi kepada beliau.

"Gue ini anak macam apa..." bisik saya lirih pada kesunyian malam, meratapi ketidakberdayaan masa lalu. Rasa bersalah itu laksana kabut hitam yang sering kali mengaburkan kebahagiaan saya sebagai seorang ayah. Saya merasa gagal berbakti secara materi di saat anak-anak ibu yang lain mungkin sudah bisa memberikan kenyamanan fisik di masa tuanya. Di tengah gempuran rasa bersalah itu, saya hanya memiliki satu-satunya senjata dan saluran bakti yang tersisa: untaian doa yang saya selipkan di setiap akhir sujud shalat. Saya tidak punya harta untuk dikirim ke kubur ibu, saya hanya punya untaian Al-Fatihah dan permohonan ampunan yang tulus, berharap getaran doa itu bisa sampai dan menerangi alam barzah tempat ibu dan bapak beristirahat.

Malam ini, dalam sujud shalat tahajud yang begitu dingin, kesedihan saya memuncak. Air mata saya menetes deras membasahi kain sajadah. Saya tumpahkan segala rasa sesak atas ketidakmampuan materi saya di masa lalu kepada Allah SWT. "Ya Allah... Lapangkanlah kubur ibu hamba. Ampunilah hamba-Mu yang miskin ini, yang belum pernah sempat membahagiakan fisiknya dengan harta duniawi. Jadikanlah setiap huruf dari doa yang hamba panjatkan malam ini sebagai cahaya pengganti sutra dunia yang tidak bisa hamba belikan untuknya..." Dalam tangis yang senyap, saya pasrahkan seluruh rasa bersalah yang selama ini menggerogoti ketenangan jiwa saya.

Namun, di ujung doa yang penuh air mata itu, sebuah kedamaian yang aneh perlahan-lahan merayap masuk ke dalam dada. Samar-samar, memori laksana rekaman digital memutar kembali ucapan terakhir ibu lewat telepon beberapa minggu sebelum beliau wafat. Saat itu, saya meminta maaf karena tidak bisa mengirimkan uang saku untuknya. Suara ibu terdengar begitu lembut dan bergetar penuh kasih di seberang sana, "Anakku, ibu tidak pernah meminta hartamu. Ibu tidak butuh uangmu. Mendengar kamu rajin shalat, menjaga akhlak anak-anakmu, dan selalu menyelipkan nama ibu di setiap sujudmu, itu sudah menjadi kekayaan terbesar bagi ibu di dunia dan akhirat." Mengingat kembali nasehat itu, batin saya mendadak tersentak oleh sebuah kesadaran religius yang luar biasa indah.

Astagfirullah... saya menyadari bahwa ukuran kebahagiaan seorang ibu shalihah ternyata sama sekali bukan pada lembaran rupiah atau materi yang fana. Bakti tertinggi seorang anak bukanlah tentang seberapa besar materi yang dikirimkan, melainkan tentang keshalihan pribadi yang mampu menjadi investasi akhirat orang tuanya. Rasa sedih dan sesak yang semalam mencekik leher, kini perlahan-lahan menguap, berganti dengan perasaan haru yang menenteramkan. Saya merasa seperti melihat seulas senyuman ibu yang damai di balik tirai takdir Allah, merestui jalan perjuangan saya mendidik enam tunas bangsa di tanah perantauan ini.

Keesokan harinya, kebahagiaan sejati benar-benar mengetuk pintu rumah kami. Saat matahari pagi memancarkan sinar keemasan yang hangat, anak tertua saya yang baru saja menyelesaikan ujian sekolahnya datang mendekat dengan wajah yang berseri-seri. Dia mencium tangan saya dengan takzim. "Ayah, alhamdulillah nilai ujian kakak tertinggi di sekolah. Kakak ingin mempersembahkan prestasi ini untuk Ayah dan almarhumah Nenek," ucapnya dengan nada suara yang penuh kebanggaan dan kesantunan akhlak. Melihat buah dari kesabaran mendidik anak di tengah keterbatasan, air mata yang keluar dari mata saya kali ini bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan dan kesyukuran yang tiada tara.

Di ruang tengah yang sederhana itu, enam anak saya berkumpul, saling berpelukan dan melafalkan doa bersama untuk kakek dan nenek mereka di surga. Keharmonisan dan keshalihan anak-anak yang tumbuh dengan akhlak mulia ini adalah jawaban nyata dari Allah atas segala lelah perjuangan kami. Saya tersenyum menatap langit-langit rumah dengan optimisme yang menyala kembali di dalam dada. Ibu memang telah tiada, dan materi duniawi memang tidak pernah sempat saya berikan. Namun, lewat anak-anak yang shalih, lewat kehidupan yang penuh berkah ini, dan lewat nama ibu yang selalu abadi di dalam doa-doa malam saya, saya tahu bakti ini tidak akan pernah terputus oleh jarak maupun kematian. Ibu akan selalu hidup, bahagia, dan tersenyum indah di dalam setiap untaian doa saya menuju jannah-Nya.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tolong kasih komentar ya ?

Indahnya pantai Kertasari

Indahnya Pantai Kertasari Oleh : Idwik ​Di pelukan hangat tanah Sumbawa, Tersembunyi surga yang tenangkan jiwa. Kertasari namanya, permat...