IBU DALAM DOAKU
Oleh: Idwik
Dering
gawai di atas sajadah membuyarkan keheningan sepertiga malam yang syahdu. Di
layar beraliran digital itu, tertera nama adik bungsu saya di kampung halaman.
Ketika tombol hijau saya geser, suara isak tangis yang tertahan langsung
memecah kesunyian kamar. "Mas... Ibu sudah tiada. Ibu baru saja
menghembuskan napas terakhirnya," bisiknya terbata-bata. Detik itu juga,
runtuh sudah seluruh pertahanan batin saya. Tubuh saya luruh di atas hamparan
sejadah. Kenangan pahit beberapa tahun lalu saat bapak berpulang mendahului
kami kembali berputar, dan kini, pelita belas kasih yang tersisa di dunia itu
telah padam sepenuhnya. Ibu, sosok pelindung doa kami, telah menyusul bapak ke
alam keabadian.
Waktu
mengalir laksana air, membawa kami berlima, anak-anaknya, pada garis takdir
masing-masing. Kami semua kini telah tumbuh dewasa dan semuanya sudah membangun
bahtera rumah tangga. Sepeninggal bapak dan ibu, kami berlima membawa cerita
hidup masing-masing yang tidak jarang penuh dengan liku-liku perjuangan. Ada
yang menetap di kota kelahiran menjaga warisan moral orang tua, dan ada pula
saya, anak kedua yang memilih garis takdir di tanah perantauan yang jauh. Di
kota rantau ini, Tuhan mengaruniakan saya amanah yang luar biasa besar: seorang
istri yang shalihah dan enam orang anak yang masih kecil-kecil dan tumbuh
dinamis. Menjadi kepala keluarga dengan enam anak di perantauan adalah sebuah
cerita perjuangan tersendiri yang menuntut keteguhan lahir dan batin.
Di tengah
riuh rendahnya suara enam anak saya yang memenuhi rumah kontrakan sederhana di
perantauan, ada sebuah sudut sunyi di dalam hati saya yang kerap kali dirundung
kesedihan yang teramat dalam. Penyesalan itu selalu datang mengetuk batin
setiap kali saya mengingat almarhumah ibu. Selama ibu masih hidup, kehidupan
ekonomi saya di rantau berada dalam kondisi yang sangat pas-pasan. Jangankan
untuk membelikan ibu perhiasan emas, baju baru yang mewah, atau mengirimkan
uang bulanan yang melimpah, untuk mencukupi kebutuhan susu dan sekolah
anak-anak saya saja, saya harus memeras keringat hingga kering. Hingga ajal
menjemput ibu, saya bener-bener tidak pernah sempat memberikan apa pun dalam
bentuk materi atau kemewahan duniawi kepada beliau.
"Gue ini anak macam apa..." bisik saya lirih
pada kesunyian malam, meratapi ketidakberdayaan masa lalu. Rasa bersalah itu
laksana kabut hitam yang sering kali mengaburkan kebahagiaan saya sebagai
seorang ayah. Saya merasa gagal berbakti secara materi di saat anak-anak ibu
yang lain mungkin sudah bisa memberikan kenyamanan fisik di masa tuanya. Di
tengah gempuran rasa bersalah itu, saya hanya memiliki satu-satunya senjata dan
saluran bakti yang tersisa: untaian doa yang saya selipkan di setiap akhir
sujud shalat. Saya tidak punya harta untuk dikirim ke kubur ibu, saya hanya
punya untaian Al-Fatihah dan permohonan ampunan yang tulus, berharap getaran
doa itu bisa sampai dan menerangi alam barzah tempat ibu dan bapak
beristirahat.
Malam
ini, dalam sujud shalat tahajud yang begitu dingin, kesedihan saya memuncak.
Air mata saya menetes deras membasahi kain sajadah. Saya tumpahkan segala rasa
sesak atas ketidakmampuan materi saya di masa lalu kepada Allah SWT. "Ya
Allah... Lapangkanlah kubur ibu hamba. Ampunilah hamba-Mu yang miskin ini, yang
belum pernah sempat membahagiakan fisiknya dengan harta duniawi. Jadikanlah
setiap huruf dari doa yang hamba panjatkan malam ini sebagai cahaya pengganti
sutra dunia yang tidak bisa hamba belikan untuknya..." Dalam tangis yang
senyap, saya pasrahkan seluruh rasa bersalah yang selama ini menggerogoti
ketenangan jiwa saya.
Namun, di
ujung doa yang penuh air mata itu, sebuah kedamaian yang aneh perlahan-lahan
merayap masuk ke dalam dada. Samar-samar, memori laksana rekaman digital
memutar kembali ucapan terakhir ibu lewat telepon beberapa minggu sebelum
beliau wafat. Saat itu, saya meminta maaf karena tidak bisa mengirimkan uang
saku untuknya. Suara ibu terdengar begitu lembut dan bergetar penuh kasih di
seberang sana, "Anakku, ibu tidak pernah meminta hartamu. Ibu tidak butuh
uangmu. Mendengar kamu rajin shalat, menjaga akhlak anak-anakmu, dan selalu
menyelipkan nama ibu di setiap sujudmu, itu sudah menjadi kekayaan terbesar
bagi ibu di dunia dan akhirat." Mengingat kembali nasehat itu, batin saya
mendadak tersentak oleh sebuah kesadaran religius yang luar biasa indah.
Astagfirullah...
saya menyadari bahwa ukuran kebahagiaan seorang ibu shalihah ternyata sama
sekali bukan pada lembaran rupiah atau materi yang fana. Bakti tertinggi
seorang anak bukanlah tentang seberapa besar materi yang dikirimkan, melainkan
tentang keshalihan pribadi yang mampu menjadi investasi akhirat orang tuanya.
Rasa sedih dan sesak yang semalam mencekik leher, kini perlahan-lahan menguap,
berganti dengan perasaan haru yang menenteramkan. Saya merasa seperti melihat
seulas senyuman ibu yang damai di balik tirai takdir Allah, merestui jalan
perjuangan saya mendidik enam tunas bangsa di tanah perantauan ini.
Keesokan
harinya, kebahagiaan sejati benar-benar mengetuk pintu rumah kami. Saat
matahari pagi memancarkan sinar keemasan yang hangat, anak tertua saya yang
baru saja menyelesaikan ujian sekolahnya datang mendekat dengan wajah yang
berseri-seri. Dia mencium tangan saya dengan takzim. "Ayah, alhamdulillah
nilai ujian kakak tertinggi di sekolah. Kakak ingin mempersembahkan prestasi
ini untuk Ayah dan almarhumah Nenek," ucapnya dengan nada suara yang penuh
kebanggaan dan kesantunan akhlak. Melihat buah dari kesabaran mendidik anak di
tengah keterbatasan, air mata yang keluar dari mata saya kali ini bukan lagi
air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan dan kesyukuran yang tiada
tara.
Di ruang
tengah yang sederhana itu, enam anak saya berkumpul, saling berpelukan dan
melafalkan doa bersama untuk kakek dan nenek mereka di surga. Keharmonisan dan
keshalihan anak-anak yang tumbuh dengan akhlak mulia ini adalah jawaban nyata
dari Allah atas segala lelah perjuangan kami. Saya tersenyum menatap
langit-langit rumah dengan optimisme yang menyala kembali di dalam dada. Ibu
memang telah tiada, dan materi duniawi memang tidak pernah sempat saya berikan.
Namun, lewat anak-anak yang shalih, lewat kehidupan yang penuh berkah ini, dan
lewat nama ibu yang selalu abadi di dalam doa-doa malam saya, saya tahu bakti
ini tidak akan pernah terputus oleh jarak maupun kematian. Ibu akan selalu
hidup, bahagia, dan tersenyum indah di dalam setiap untaian doa saya menuju
jannah-Nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong kasih komentar ya ?