IBU ....MAAFKAN AKU
Oleh: Idwik
Malam
kembali luruh membawa keheningan yang akrab di ruang tengah rumah kontrakan
kami. Di sudut meja, draf instrumen supervisi kedinasan saya sudah tertutup
rapi. Anak-anak sudah terlelap di kamar masing-masing setelah sore tadi rumah
ini riuh oleh tawa mereka. Di bawah temaram lampu, saya duduk memandangi sebuah
foto usang di dalam dompet. Foto seorang wanita berkerudung sederhana dengan
senyum paling tulus yang pernah ada di dunia: ibu. Meski waktu telah berjalan
bertahun-tahun sejak hari di mana ibu dijemput oleh malaikat maut menuju alam
surga, rasa rindu itu tidak pernah berkurang satu rintik pun. Namun, malam ini,
rindu itu datang bersama sesak yang berbeda. Ada sebuah babak ingatan masa lalu
yang mendadak terbuka, memicu sebuah kalimat yang bergetar hebat di ujung lidah
saya: Ibu ....Maafkan aku.
Sebagai
anak kedua yang hidup di perantauan dengan membesarkan enam orang anak, saya
sering kali merenungi betapa beratnya perjuangan yang dulu ibu lalui seorang
diri semenjak bapak wafat lebih awal. Dulu, ego masa muda saya sering kali
membutakan mata hati. Saya teringat masa-masa awal meniti karier di dunia
pendidikan, di mana waktu saya habis untuk mengejar target sertifikasi,
mempersiapkan bahan ajar, dan membangun relasi kedinasan. Di tengah kesibukan
yang saya agungkan itu, saya sering kali menomorduakan ibu. Ada rasa bersalah
yang teramat dalam ketika mengingat betapa seringnya saya menolak panggilan
telepon ibu hanya dengan alasan, "Maaf Bu, sedang sibuk rapat di kantor
dinas," atau menunda pulang kampung berbulan-bulan dengan dalih urusan
pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.
Penyesalan
terbesar yang malam ini mencuat laksana duri di dalam batin adalah memori
tentang lebaran terakhir sebelum ibu tiada. Saat itu, kondisi ekonomi kami di
perantauan sedang benar-benar diuji, ditambah kebutuhan sekolah enam anak yang
melonjak bersamaan. Saya memutuskan untuk tidak pulang. Lewat sambungan
telepon, saya mendengar suara ibu yang bergetar menahan kecewa, namun beliau
tetap memaksakan senyum dalam suaranya. "Iya, tidak apa-apa Nak. Jaga
anak-anakmu di sana. Ibu di sini baik-baik saja bersama adikmu." Saya tahu
ibu berbohong demi menjaga perasaan saya. Di hari tua dan kesendiriannya tanpa
bapak, ibu hanya merindukan kehadiran fisik anak keduanya. Hingga ibu wafat,
saya bener-bener belum sempat bersimpuh di pangkuannya untuk meminta maaf
secara langsung atas segala pengabaian-pengabaian kecil yang tanpa sadar telah
menggores hatinya.
"Ibu... maafkan aku..." rintih saya pelan,
membiarkan setitik air mata jatuh mengenai permukaan kaca foto usang itu. Di
dalam keheningan malam perantauan, rasa bersalah itu terasa begitu menghimpit,
membuat dada saya sesak. Saya merasa menjadi anak yang egois, yang baru
menyadari arti penting kehadiran orang tua setelah raganya terbungkus kain
kafan dan tertimbun tanah kuburan. Ke mana saya harus mencari keridhoan itu
sekarang? Pintu surga dunia itu telah tertutup rapat, menyisakan gundukan tanah
basah di kampung halaman yang terpisah ratusan kilometer dari tempat saya
berdiri saat ini.
Dalam
balutan rasa sesak itu, saya melangkah mengambil air wudhu, mencari ketenangan
di atas sejadah shalat tahajud. Di sepertiga malam yang sunyi, saya bersujud
dengan serendah-rendahnya kehambaan. Saya tumpahkan seluruh pengakuan dosa dan
permohonan maaf atas kelalaian masa lalu saya langsung kepada Sang Pemilik
Jiwa. "Ya Allah Ya Ghafur... Sampaikanlah permohonan maaf hamba yang
terdalam ini kepada ibu di alam sana. Ampunilah setiap kalimat hamba yang
pernah menyinggung hatinya, ampunilah setiap detik waktu hamba yang enggan
hamba luangkan untuk mendengar suaranya. Ya Allah, gantilah kelalaian masa lalu
hamba dengan melimpahkan cahaya rahmat dan taman-taman surga di kuburnya
bersama bapak..."
Di tengah
tangis kepasrahan itu, perlahan-lahan batin saya seolah dituntun pada sebuah
pemahaman religius yang menenteramkan. Saya teringat akan sebuah janji Allah
yang maha pasti, bahwa kasih sayang seorang ibu yang shalihah melampaui
sekat-sekat kematian. Ibu tidak pernah menyimpan dendam. Seorang ibu selalu
memaafkan anaknya bahkan sebelum anak itu meminta maaf. Rasa sesak yang sedari
tadi mencekik dada, perlahan mencair berganti menjadi kehangatan spritual yang
luar biasa sejuk. Saya seolah bisa merasakan embusan angin malam ini membawa
pesan bahwa doa-doa permohonan maaf yang tulus dari seorang anak yang
bertaubat, mengalir langsung laksana hadiah terindah yang menerangi tempat
peristirahatan ibu dan bapak.
Kebahagiaan
dan optimisme baru itu benar-benar menemukan wujudnya saat fajar shadiq mulai
menyingsing. Pagi itu, rumah kami kembali dihangatkan oleh rutinitas keluarga
kecil kami. Istri saya tersenyum teduh sambil menyiapkan sarapan, sementara
enam anak kami berkumpul rapi mengenakan pakaian bersih untuk bersiap berangkat
sekolah. Anak ketiga saya, yang kini mulai beranjak dewasa, tiba-tiba berjalan
mendekat ke arah saya. Dia meraih tangan saya, menciumnya dengan penuh takzim,
lalu menatap mata saya dengan sorot ketulusan. "Ayah, maafkan kakak ya
kalau selama ini sering merepotkan dan membuat Ayah lelah bekerja,"
ucapnya lembut tanpa diminta.
Mendengar
kalimat itu keluar dari lisan anak sendiri, dada saya bergetar hebat oleh rasa
haru dan kebahagiaan yang membuncah. Allah SWT seolah sedang memperlihatkan
cerminan bakti di hadapan mata saya. Segala lelah dan peras keringat saya di
perantauan terbayar lunas melihat anak-anak tumbuh dengan kesantunan akhlak
yang begitu indah. Saya memeluknya erat, menyadari bahwa inilah cara Allah
menghibur hati seorang ayah yang merindukan ibunya. Bakti dan permohonan maaf
saya kepada almarhumah ibu kini bertransformasi menjadi energi positif untuk
mendidik anak-anak agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Saya
melangkah keluar rumah menuju halaman dengan senyuman yang mengembang penuh
optimisme. Memandang langit pagi yang bersih dan cerah di tanah perantauan,
saya tahu bahwa perjalanan hidup ini harus terus dijalani dengan semangat
terbaik. Ibu dan bapak memang telah berada di alam yang berbeda, namun jembatan
cinta kami tetap berdiri kokoh melalui jalur doa. Kalimat "Ibu... Maafkan
aku" kini tidak lagi diucapkan dengan keputusasaan, melainkan dengan
keyakinan bahwa tobat dan amal shalih yang saya lakukan bersama keluarga
harmonis ini akan menjadi hadiah abadi yang membuat ibu tersenyum bahagia di
taman surga sana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tolong kasih komentar ya ?