Senin, 29 Juni 2026

Ketika Doa Belum Menjelma Nyata




Ketika Doa Belum Menjelma Nyata

Jika inginmu hari ini masih tertahan di batas langit, Dan asamu patah sebelum sempat engkau genggam, Tetaplah bersabar, meski dada terasa sedikit sempit, Jangan biarkan prasangka membuat hatimu legam.

Allah lebih tahu apa yang paling kau butuh, Bukan sekadar apa yang sedang kau ingini. Rancangan-Nya sempurna, takkan membuatmu runtuh, Dia menenun yang terbaik untukmu di esok hari.

Rezeki dan takdir tak pernah salah alamat, Sabar adalah kunci, ikhlas adalah jalan pulang. Percayalah pada Sang Pencipta dengan penuh khidmat, Sebab di balik penundaan-Nya, ada bahagia yang sedang menjelang

Sujud Pasrah di Batas Keinginan

 


Sujud Pasrah di Batas Keinginan

Ketika jemari menggenggam harap pada sesama, Seringkali yang pulang hanyalah kecewa yang membiru. Manusia itu rapuh, sama-sama menengadah dada, Tak layak jadi sandaran tempat mengadukan rindu.

Maka palingkan wajahmu, wahai jiwa yang lelah, Tataplah langit, tempat Sang Pemilik Semesta bertahta. Berharaplah hanya pada Dia, Sang Maha Penggubah, Yang menciptakan jemari, jantung, dan helai nafas kita

Jumat, 26 Juni 2026

Di Balik Riuh Lapangan Hijau


Di Balik Riuh Lapangan Hijau

Peluit ditiup, layar kaca pun menyala, Dunia terhipnotis dalam satu lingkaran bola. Sorak-sorai bergemuruh, jaring gawang bergetar, Menatap sang bintang dengan decak kagum yang pendar.

Sembilan puluh menit waktu bergulir begitu cepat, Menahan napas, menanti gol yang paling tepat. Namun di sela drama taktik dan adu gengsi, Jangan biarkan hatimu lupa akan esensi.

Ketika adzan berkumandang membelah malam, Lebih nyaring dari sorak suporter yang menghantam. Tinggalkan sejenak layar yang memikat mata, Sujudlah pada-Nya, Pemilik seisi semesta.

Skor pertandingan bisa berubah dalam sekejap mata, Namun catatan amalmu abadi tak pernah dusta. Juara dunia akan berganti setiap masa, Namun rida Tuhanmu adalah kemenangan yang nyata.

Nonton piala dunia boleh-boleh saja, Menikmati indahnya permainan kaum manusia. Asal lima waktu tak kau biarkan terlewat, Sebab di akhirat nanti, itulah tiket keselamatan yang hebat.

Jumat, 19 Juni 2026

Meski Adoh Rogo

Meski Adoh Rogo Namung Atiku Tetep Cedak

Jarak lan wektu dadi sekat ing raga

Misahne jangkah, nguji kuate rasa

Sliramu ing kono, aku neng kene

Mung iso nyawang liwat sepi ing wengi sing seje

Nanging, amba samudera ora bakal dadi pambeng

Mripat iki pancen ora iso nyawang langsung

Nanging rasa tresna iki ora bakal dadi ambyar

Mung siji jenengmu sing gawe ati dadi padhang

Rogo oleh adoh, nanging rasa ora kena pisah

Saben angin sumilir, tak titipne tresna sing bungah

Sliramu tetep dadi detak ing njeron dodo

Ora bakal luntur, senajan adoh dadi kahanan utama

Cukupen kangenmu liwat donga sing tak puji

Mergo neng kene, atiku tetep cedak lan dadi siji

Ngenteni wektu sing endah bakal nemokake

Rogo lan ati, nyawiji saklawase

Tresnoku Marang Sliramu

Tresnoku Marang Sliramu 

Krasa perih nalika nyawang netramu

Ana rasa sing tulus, nanging kehalang wektu

Garis pepesthen wis gawe crito sing bedo

Mung iso nyawang, ora iso nyanding slira

Aku ngerti, tangan iki ora bakal iso nggandheng

Langkahmu lan langkahku wis ra sapanunggalan

Nanging rasa ing ati ora bakal dadi peteng

Jenengmu tetep tak ugo dadi kembange angen-angen

Tresnoku marang sliramu iku dudu ukara kepeksa

Senajan raga iki ora bakal bisa ngrasa

Sliramu tetep dadi bagean sing paling endah

Ing njeron donga, jenengmu ora bakal owah

Ikhlas... senajan abot tak lakoni

Nresnani sliramu ora kudu nduweni

Saklawase rasa iki bakal tetep dadi siji

Kadhung jeru ing ati, ra bakal ilang nganti mati



Gusti Alloh seng Nentokno

GUSTI ALLOH SENG NENTOKNO

Saben esuk jangkah sikil diwiwiti

Ngoyak impen lan reroncen donga ing ati

Kringet tumetes, raga ngrasakne sayah

Golek upo, ngupoyo urip sing berkah

Menungso mung iso ngrancang lan ngreko

Muter utek, ngetokne kabeh doyo linuwih

Nanging asring dalan urip ora podo

Gela lan kuciwa ngebaki dodo sing perih

Nanging elinga, kabeh kuwi dudu pungkasan

Urip iki dudu mung babagan menang lan kalah

Ana tangan sing kuwasa, ngatur jagad lan kahanan

Kang paring pepadhang ing pepetenge jangkah

Pasrahno kabeh lara lan kuciwamu

Gusti Alloh seng nentokno pungkasan ceritamu

Pilihan-Ne ora bakal salah, ora bakal kleru

Mesti endah ing wektu sing wis tinentu

Rinduku Padamu

Rinduku Padamu

Oleh : Idwik


Di hamparan sajadah aku terpaku, Menatap langit malam yang membisu. Kau yang biasanya ada di sisiku, Kini melangkah jauh, meniti rindu.

Di sana, di bawah langit Makkah yang mulia, Kau bersujud mengagungkan nama-Nya. Mengenakan kain ihram yang suci putih, Membawa segenap doa yang lirih.

Labaikallahumma labaik... Gema talbiyahmu terasa sampai ke sini. Menggetarkan hati yang sedang didera sepi, Menitipkan namaku dalam setiap sujudmu yang suci.

Aku di sini memeluk erat rindumu, Mendoakan setiap langkah ibadahmu. Pergilah, kekasihku, penuhilah panggilan-Nya, Bawalah pulang berkah dan cinta yang makin mulia.

Rinduku ini biar menjadi tasbih yang berputar, Sabar menanti hingga engkau kembali terdampar. Di pelukan rumah, di sisi hatiku, Menyatukan kembali dua jiwa yang sempat merindu.

Senin, 15 Juni 2026

Indahnya pantai Kertasari

Indahnya Pantai Kertasari

Oleh : Idwik

​Di pelukan hangat tanah Sumbawa,

Tersembunyi surga yang tenangkan jiwa.

Kertasari namanya, permata yang sunyi,

Menyambut semesta dengan nyanyian bumi.

​Hamparan pasirnya membentang bagai sutra,

Dibelai ombak yang menari gembira.

Gradasi biru lautnya memikat mata,

Seolah Tuhan sedang melukis asa.

​Angin berhembus membawa pesan damai,

Menyapa pesisir dan ladang rumput laut yang landai.

Di sini waktu seakan berjalan perlahan,

Menghapus lelah, membawa keteduhan.

​Kala senja turun di batas cakrawala,

Langit Kertasari memancarkan pesona.

Lukisan jingga berpadu dalam diam,

Menyimpan rindu di balik teduhnya malam.

Jumat, 12 Juni 2026

Godaan Duniawi

Godaan Duniawi

Oleh: Idwik

Ia datang bagai fatamorgana yang jelita,

Menawarkan kilau emas dan megahnya tahta,

Membisikkan janji manis tentang bahagia fana,

Membuat mata terpana, hingga jiwa terlena.

Begitu halus ia merayap masuk ke dalam dada,

Mengubah rasa cukup menjadi serakah yang menggoda,

Membuat yang haram tampak begitu indah menawan,

Hingga batas iman perlahan runtuh terlewatkan.

Lari mengejar dunia bagai meminum air lautan,

Semakin diteguk, semakin haus tak keruan,

Waktu habis dalam pacuan yang tiada ujungnya,

Sementara bekal pulang terlupa begitu saja.

Ya Rabb, sadarkan kami dari mimpi yang melalaikan,

Sebelum kain kafan menjadi pakaian yang merapatkan,

Jangan biarkan hati ini tertawan pesona bumi,

Hingga melupakan tempat kembali yang abadi.

Kutepis perlahan segala riuh yang semu ini,

Kuputuskan rantai angan yang mengikat diri,

Sebab sejuta megah dunia takkan pernah sebanding,

Dengan sebaris rida-Mu tempat jiwa bersanding.

Cahaya Kesabaran

Cahaya Kesabaran

Oleh : Idwik

Ketika mendung ujian datang menggelayut,

Dan angin cobaan berembus membuat ciut,

Ada satu lentera yang tak boleh padam,

Penyuluh langkah di kala malam teramat kelam.

Itulah sabar... yang sinarnya tak pernah redup,

Menjadi kekuatan di setiap helai napas hidup,

Ia bukan pasrah yang kalah dan menyerah,

Melainkan bertahan dengan senyum yang tabah.

Saat lisan terjaga dari mengeluh,

Dan hati memilih untuk tetap bersimpuh,

Di sanalah cahaya itu mulai berpendar,

Mengubah sesak dada menjadi lapang dan tegar.

Sebab janji-Mu nyata, ya Rabb yang Maha Pengasih,

Bagi jiwa-jiwa yang ridha dalam perih,

Bahwa badai pasti kan berganti pelangi,

Dan setiap sabar bersanding bersama kemudahan yang pasti.

Biar waktu menguji seberapa kuat ku bertahan,

Kan kujadikan sabar sebagai pakaian dan hiasan,

Hingga cahaya itu menuntun langkahku pulang,

Menuju jannah-Mu dengan hati yang tenang.


Taubatku kepada Mu

Taubatku kepada-Mu

Oleh : Idwik

Gemetar jemari ini tengadah ke langit-Mu,

Membawa beban dosa yang menggunung bisu,

Hari-hari yang lalu habis dalam kelalaian,

Mengejar bayang dunia yang penuh kepalsuan.

Ya Rabbi...

Kini datang hamba-Mu yang fakir dan hina,

Yang kapok akan nikmat dunia yang fana,

Membawa hati yang remuk redam oleh sesal,

Menangisi waktu yang terbuang tanpa amal.

Di atas sajadah ini, kuakui segala noda,

Setiap khilaf yang sengaja maupun tak diduga,

Tak ada lagi tempatku berlari dan bersembunyi,

Hanya pada ampunan-Mu, asaku digantungkan tinggi.

Basuhlah jiwa yang kotor ini dengan rida-Mu,

Terimalah taubat yang terbit dari lubuk kalbuku,

Gantikan kelamnya masa lalu dengan cahaya taat,

Agar sisa umur ini menjadi bekal yang selamat.

Sebelum waktu benar-benar habis di dunia,

Sebelum napas terhenti di tenggorokan dada,

Kusandarkan seluruh hidup dan matiku,

Terimalah, ya Allah... taubatku kepada-Mu.

Saat hati ingin kembali

Saat Hati Ingin Kembali
Oleh : Idwik


Ada masanya riuh dunia terasa sunyi,

Ketika megah dan puji tak lagi berarti,

Jiwa yang lelah bersembunyi di balik penat,

Tiba-tiba merindukan sebuah jalan bertobat.

Saat hati ini ingin kembali...

Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam,

Membawa sebongkah sesal yang teramat dalam,

Mengakui langkah yang sempat tersesat jauh,

Di hadapan-Mu, ego yang tinggi kini runtuh.

Air mata jatuh bukan karena nestapa,

Melainkan rasa syukur yang tak terkira,

Sebab meski hamba-Mu sering melupa,

Pintu rindu-Mu selalu terbuka tanpa jeda.

Kuhamparkan sujud yang paling pasrah,

Membasuh kepingan hati yang sempat patah,

Merasakan damai mengalir perlahan di dada,

Menyadari sejauh apa pun pergi, rumahku adalah Dia.

Kini biarlah sisa waktu yang bergulir,

Hanya berisi taat yang tulus mengalir,

Tuk menjaga rasa yang kini telah pulih,

Saat hati kembali memilih Jalan yang Terpilih.



Ku akan selalu di jalan Mu

Ku Akan Selalu di Jalan-Mu

Oleh : Idwik


Di persimpangan waktu yang penuh fatamorgana,

Langkah kaki ini kadang tertatih dan lena,

Namun cahaya-Mu memanggilku pulang,

Menuntun jiwa dari kegelapan yang panjang.

Biar badai dunia datang menguji,

Takkan kubiarkan arah ini berganti,

Telah kutautkan janji di dalam kalbu,

Bahwa ku akan selalu berada di jalan-Mu.

Dalam setiap helai napas yang Kau beri,

Kucoba merajut ikhlas di sanubari,

Meski kerikil tajam kerap menyapa,

Rahmat-Mu cukup tuk menghapus segala nestapa.

Ketika dunia menawarkan megah yang fana,

Kutepis perlahan demi damai yang nyata,

Sebab kutahu di ujung jalan-Mu yang suci,

Ada rida dan pelukan abadi yang menanti.

Bimbinglah aku, ya Rabb, pemilik semesta,

Agar kaki ini tak goyah digoda rasa,

Hingga akhir waktu menjemput ragaku,

Kan kupastikan... ku selalu di jalan-Mu.

Lembut Hati dengan Dzikir

Lembut Hati dengan Dzikr

oleh :  Idwik

Di riuh dunia yang kerap menderu,

Jiwa seringkali lelah dan tersesat kaku,

Hati menjelma batu yang mengeras buntu,

Terjebak dalam amarah dan ego yang semu.

Namun ada penawar di keheningan malam,

Saat bibir mulai mengeja asma-Mu yang dalam,

Subhanallah... runtuh segala angkuh yang mencengkam,

Alhamdulillah... sirna segala gundah yang kelam.

Setiap untaian dzikir yang mengalir lirih,

Bagai tetesan embun menyiram tanah yang perih,

Membasuh luka, mengikis duka yang pedih,

Membuat hati yang keras kembali pulih.

Allahu Akbar... jiwa kembali merunduk pasrah,

Mengakui diri yang penuh dengan khilaf dan salah,

Dalam ruku' dan sujud yang penuh berserah,

Menemukan damai yang tak lagi goyah.

Maka lembutlah hati dalam balutan dzikir,

Menepis benci, mengundang damai mengalir,

Hingga napas terakhir nanti berakhir,

Hanya nama-Mu yang di lisan terukir.

Kamis, 11 Juni 2026

Berpura-pura suci

BERPURA-PURA SUCI

Oleh: Idwik

Gemerincing notifikasi berbunyi bertubi-tubi, Metrik digital menanjak, membuai ego di hati. Dunia maya memuja sosokku yang tampak berseri, Latar estetis, potongan ayat, dan hadits kubagi, Dipanggil "Akhi", hanyut dalam validasi semu yang menipu diri.

Namun saat layar gawai mati dan terkunci, Luruhlah pesona kontras, menyisakan jiwa yang sunyi. Konten subuh itu bukan rindu pada Ilahi, Melainkan racikan algoritma dan tren yang kutebangi, Demi angka statistik, kuperankan dusta di balik jeruji.

Shalat lima waktu kurapel di ujung masa, Lisan dakwahku berbalik jadi ghibah dan prasangka. Aku hidup nyaman dalam topeng tebal tanpa cela, Dipuji bagai panutan penjemput hidayah mulia, Padahal di dalam cermin, jiwaku hancur merana.

Puncaknya di sunyinya malam Ramadhan yang syahdu, Video Lailatul Qadar meledak, namun dopaminku membeku. Dikelilingi ratusan ribu pengikut, aku terasing kaku, Menatap bayangan diri yang munafik dan palsu, Air mata yang lama kering, kini tumpah mengadu.

Teringat ancaman ngeri bagi alim yang riya, Diseret pertama kali ke neraka karena gila dunia. Seluruh tubuhku bergetar, jantung berdegup nista, Kupaksakan langkah berat mengambil wudu yang nyata, Kugelarkan sejadah properti, kini murni untuk bersujud pasrah.

Tanpa lampu sorot, tanpa kamera yang membingkai, Hanya ada hamba yang hina di kegelapan yang damai. Takbiratul ihram kuangkat, dada bergetar hebat, Sujud terakhirku basah, membongkar topeng penyekat, "Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang paling palsu dan berkarat."

Kutumpahkan kebusukan hati tanpa ada yang tersembunyi, Pujian jutaan netizen tak lagi mampu membentengi. Saat salam terucap, sejuk kedamaian merayap pasti, Kuhapus video pamrih, kuubah bio profil diri: Hanya seorang pendosa yang sedang mengetuk pintu ampunan Ilahi.

Biarlah kini ku kembali jadi hamba yang biasa, Dilupakan dunia maya, tak punya angka atau kasta. Asalkan namaku tak asing di agungnya langit angkasa, Sebab harta terindah adalah jujur bersujud tanpa rekayasa, Tak lagi menghamba konten, tak lagi berpura-pura suci di semesta. 





Saat Hati Mulai Ra[uh

SAAT HATI MULAI RAPUH

Oleh: Idwik


Dunia mengenalku sebagai karang yang perkasa, Si paling tegar, si paling asyik dalam tawa. Tempat bersandar bagi mereka yang luka, Peneduh bagi kawan yang dirundung duka, Tanpa mereka tahu, di balik topengku ada jiwa yang dahaga.

Namun, raga ini hanyalah tanah yang fana, Bukan baja yang tak bisa binasa. Gagal demi gagal datang menerjang tanpa jeda, Ekonomi yang goyah, impian yang luruh ke dada, Hingga dinding pertahananku retak, kehilangan daya.

Malam minggu yang riuh di luar sana, Terasa sunyi dan asing dalam kamar yang buta. Gawai berkedip, pesan kawan memanggil ceria, Namun jemariku kaku, batin ini lelah bersandiwara, "Si Paling Strong" ini ternyata rapuh, tak berdaya.

Dalam gelap, air mata yang bertahun kutahan pun pecah, Mengalir deras, membasahi bantal yang pasrah. Lelah berpura-pura, capek terlihat tanpa celah, Hingga pandanganku tertumbuk pada dinding yang indah, “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha”—Allah tak membebani di luar lelah.

Kalimat suci itu menghantam ego yang tinggi, Menyadarkanku betapa jauh aku melangkah pergi. Aku mencari pundak manusia untuk berbagi, Padahal Allah menungguku bersujud di malam yang sunyi, Untuk mengadu rasa, untuk kembali rendah hati.

Kubasuh wajah dengan air wudu yang dingin meresap, Menenangkan pikiran yang bising dan gelap. Di atas sajadah, takbirku lirih namun mantap, Melepas beban dunia yang selama ini kudekap, Biarlah kerapuhan ini menjadi doa yang merayap.

Dalam sujud yang lama, aku lepaskan semua kasta, Bukan lagi pemberi solusi atau pemimpin semesta. Hanya hamba kecil yang mengakui segala dosa dan nista, "Ya Allah, kuatkan hati yang patah karena dunia, Ternyata hanya pada-Mu, aku menemukan rumah yang nyata."

Kini langkahku ringan, fajar membawa damai yang utuh, Tak ada lagi topeng, tak ada lagi rasa angkuh. Menjadi rapuh ternyata tak membuatku luluh, Sebab di titik itulah, aku kembali bersimpuh, Menemukan kekuatan baru di hadapan Allah yang Maha Tangguh.

Ibu....Maafkan aku

IBU ....MAAFKAN AKU

Oleh: Idwik

Malam meluruh dalam senyap yang pekat, Berkas kedinasan telah usai kuikat. Di pojok ruang tengah yang temaram, Kupandangi selembar foto dalam genggaman, Senyummu yang tulus, Ibu... menembus malam.

Ibu... maafkan aku, Atas ego masa muda yang dulu membelenggu, Saat gila kerja dan urusan dunia membuatku buru, Hingga panggilan teleponmu sering kuabaikan berlalu, "Maaf Ibu, anakmu sedang sibuk rapat dinas di kantor guru."

Teringat lebaran terakhir sebelum Engkau tiada, Saat himpitan ekonomi di perantauan melanda, Kukabarkan lewat telepon tak bisa pulang berjumpa, Suaramu bergetar lembut menahan kecewa di dada, "Tak apa Nak, jaga enam anakmu," ucapmu penuh rida.

Kini, raga yang membungkus kehangatan itu telah terkubur, Menyusul bapak yang lebih dulu berpulang ke alam luhur. Pintu surga duniaku telah tertutup rapat, Menyisakan rintih penyesalan yang kian merapat, Ibu... maafkan aku yang terlambat bersujud mendekat.

Di sepertiga malam, di atas sajadah putih ku bersujud, Membasuh sisa kelelahan dengan wudu yang khusyuk. Air mataku tumpah, mengalir membasahi kain senyap, Kupanjatkan tobat dan permohonan maaf yang tersingkap, Berharap Allah sampaikan sejuta rindu yang mendekap.

Tiba-tiba batin ini menghangat, laksana embun pagi, Kuingat nasehatmu bahwa seorang ibu tak pernah membenci. Doa anak yang shalih adalah kekayaan sejatimu di barzah, Kini rasa sesak berganti menjadi ketenangan yang indah, Kutahu Engkau telah memaafkanku dengan senyum merekah.

Fajar menyingsing, membawa berkah yang tak terhingga, Enam anakku berkumpul, rapi bersiap melangkah. Si sulung mencium tanganku, santun penuh akhlak mulia, "Ayah, maafkan jika kakak membuat lelah," ucapnya sedia, Inilah cara Allah menghibur hatiku yang sempat terluka.

Kini kulangkah kakiku dengan optimisme yang menyala, Mendidik tunas-tunas ini agar tak mengulang salah yang sama. Kalimat "Ibu... Maafkan aku" tak lagi kutangisi dengan duka, Melainkan kujadikan jembatan doa penembus sekat alam semesta, Hingga kelak kita berkumpul kembali di surga-Nya yang baka.






Ibu....Maafkan aku


IBU ....MAAFKAN AKU

Oleh: Idwik

Malam kembali luruh membawa keheningan yang akrab di ruang tengah rumah kontrakan kami. Di sudut meja, draf instrumen supervisi kedinasan saya sudah tertutup rapi. Anak-anak sudah terlelap di kamar masing-masing setelah sore tadi rumah ini riuh oleh tawa mereka. Di bawah temaram lampu, saya duduk memandangi sebuah foto usang di dalam dompet. Foto seorang wanita berkerudung sederhana dengan senyum paling tulus yang pernah ada di dunia: ibu. Meski waktu telah berjalan bertahun-tahun sejak hari di mana ibu dijemput oleh malaikat maut menuju alam surga, rasa rindu itu tidak pernah berkurang satu rintik pun. Namun, malam ini, rindu itu datang bersama sesak yang berbeda. Ada sebuah babak ingatan masa lalu yang mendadak terbuka, memicu sebuah kalimat yang bergetar hebat di ujung lidah saya: Ibu ....Maafkan aku.

Sebagai anak kedua yang hidup di perantauan dengan membesarkan enam orang anak, saya sering kali merenungi betapa beratnya perjuangan yang dulu ibu lalui seorang diri semenjak bapak wafat lebih awal. Dulu, ego masa muda saya sering kali membutakan mata hati. Saya teringat masa-masa awal meniti karier di dunia pendidikan, di mana waktu saya habis untuk mengejar target sertifikasi, mempersiapkan bahan ajar, dan membangun relasi kedinasan. Di tengah kesibukan yang saya agungkan itu, saya sering kali menomorduakan ibu. Ada rasa bersalah yang teramat dalam ketika mengingat betapa seringnya saya menolak panggilan telepon ibu hanya dengan alasan, "Maaf Bu, sedang sibuk rapat di kantor dinas," atau menunda pulang kampung berbulan-bulan dengan dalih urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.

Penyesalan terbesar yang malam ini mencuat laksana duri di dalam batin adalah memori tentang lebaran terakhir sebelum ibu tiada. Saat itu, kondisi ekonomi kami di perantauan sedang benar-benar diuji, ditambah kebutuhan sekolah enam anak yang melonjak bersamaan. Saya memutuskan untuk tidak pulang. Lewat sambungan telepon, saya mendengar suara ibu yang bergetar menahan kecewa, namun beliau tetap memaksakan senyum dalam suaranya. "Iya, tidak apa-apa Nak. Jaga anak-anakmu di sana. Ibu di sini baik-baik saja bersama adikmu." Saya tahu ibu berbohong demi menjaga perasaan saya. Di hari tua dan kesendiriannya tanpa bapak, ibu hanya merindukan kehadiran fisik anak keduanya. Hingga ibu wafat, saya bener-bener belum sempat bersimpuh di pangkuannya untuk meminta maaf secara langsung atas segala pengabaian-pengabaian kecil yang tanpa sadar telah menggores hatinya.

"Ibu... maafkan aku..." rintih saya pelan, membiarkan setitik air mata jatuh mengenai permukaan kaca foto usang itu. Di dalam keheningan malam perantauan, rasa bersalah itu terasa begitu menghimpit, membuat dada saya sesak. Saya merasa menjadi anak yang egois, yang baru menyadari arti penting kehadiran orang tua setelah raganya terbungkus kain kafan dan tertimbun tanah kuburan. Ke mana saya harus mencari keridhoan itu sekarang? Pintu surga dunia itu telah tertutup rapat, menyisakan gundukan tanah basah di kampung halaman yang terpisah ratusan kilometer dari tempat saya berdiri saat ini.

Dalam balutan rasa sesak itu, saya melangkah mengambil air wudhu, mencari ketenangan di atas sejadah shalat tahajud. Di sepertiga malam yang sunyi, saya bersujud dengan serendah-rendahnya kehambaan. Saya tumpahkan seluruh pengakuan dosa dan permohonan maaf atas kelalaian masa lalu saya langsung kepada Sang Pemilik Jiwa. "Ya Allah Ya Ghafur... Sampaikanlah permohonan maaf hamba yang terdalam ini kepada ibu di alam sana. Ampunilah setiap kalimat hamba yang pernah menyinggung hatinya, ampunilah setiap detik waktu hamba yang enggan hamba luangkan untuk mendengar suaranya. Ya Allah, gantilah kelalaian masa lalu hamba dengan melimpahkan cahaya rahmat dan taman-taman surga di kuburnya bersama bapak..."

Di tengah tangis kepasrahan itu, perlahan-lahan batin saya seolah dituntun pada sebuah pemahaman religius yang menenteramkan. Saya teringat akan sebuah janji Allah yang maha pasti, bahwa kasih sayang seorang ibu yang shalihah melampaui sekat-sekat kematian. Ibu tidak pernah menyimpan dendam. Seorang ibu selalu memaafkan anaknya bahkan sebelum anak itu meminta maaf. Rasa sesak yang sedari tadi mencekik dada, perlahan mencair berganti menjadi kehangatan spritual yang luar biasa sejuk. Saya seolah bisa merasakan embusan angin malam ini membawa pesan bahwa doa-doa permohonan maaf yang tulus dari seorang anak yang bertaubat, mengalir langsung laksana hadiah terindah yang menerangi tempat peristirahatan ibu dan bapak.

Kebahagiaan dan optimisme baru itu benar-benar menemukan wujudnya saat fajar shadiq mulai menyingsing. Pagi itu, rumah kami kembali dihangatkan oleh rutinitas keluarga kecil kami. Istri saya tersenyum teduh sambil menyiapkan sarapan, sementara enam anak kami berkumpul rapi mengenakan pakaian bersih untuk bersiap berangkat sekolah. Anak ketiga saya, yang kini mulai beranjak dewasa, tiba-tiba berjalan mendekat ke arah saya. Dia meraih tangan saya, menciumnya dengan penuh takzim, lalu menatap mata saya dengan sorot ketulusan. "Ayah, maafkan kakak ya kalau selama ini sering merepotkan dan membuat Ayah lelah bekerja," ucapnya lembut tanpa diminta.

Mendengar kalimat itu keluar dari lisan anak sendiri, dada saya bergetar hebat oleh rasa haru dan kebahagiaan yang membuncah. Allah SWT seolah sedang memperlihatkan cerminan bakti di hadapan mata saya. Segala lelah dan peras keringat saya di perantauan terbayar lunas melihat anak-anak tumbuh dengan kesantunan akhlak yang begitu indah. Saya memeluknya erat, menyadari bahwa inilah cara Allah menghibur hati seorang ayah yang merindukan ibunya. Bakti dan permohonan maaf saya kepada almarhumah ibu kini bertransformasi menjadi energi positif untuk mendidik anak-anak agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Saya melangkah keluar rumah menuju halaman dengan senyuman yang mengembang penuh optimisme. Memandang langit pagi yang bersih dan cerah di tanah perantauan, saya tahu bahwa perjalanan hidup ini harus terus dijalani dengan semangat terbaik. Ibu dan bapak memang telah berada di alam yang berbeda, namun jembatan cinta kami tetap berdiri kokoh melalui jalur doa. Kalimat "Ibu... Maafkan aku" kini tidak lagi diucapkan dengan keputusasaan, melainkan dengan keyakinan bahwa tobat dan amal shalih yang saya lakukan bersama keluarga harmonis ini akan menjadi hadiah abadi yang membuat ibu tersenyum bahagia di taman surga sana.



Sepatu

Sepasang Langkah, Satu Tujuan Mereka terlahir dari rahim yang sama, Namun ditakdirkan berdiri di ruang yang berbeda. Yang satu melengkung ke...