Demikianlah manusia...
Jika berdebat ....marah-marah
jika dinasehati .....merasa jengkel
Jika ada gunung emas di depannya maka akan mencari gunung emas yang lain..
Dan jiwa yang lemah senantiasa mencari..
makan bangkai, makan muntahan menjadi hal yang biasa
Begitu menjijikkan...
Cinta dunia membuat mata jernih memandang menjadi gelap gulita
menjadikan lupa akan hakikat jiwa
manakala telah tercapai maksud
maka sibuk tuk melupakan Sang Pemberi Nikmat
Duhai celakalah jiwa...
Sekarang berada di atas bumi
padahal besok di bawah bumi
dan bangkai diri yang membusuk dalam kubur
dalam hitungan hari
lebih berharga sebenarnya...
daripada busuknya moral dan akhlak tanpa di ketahui..
Mengapa ...kecenderungan alpa dipelihara
padahal Dia telah memberi lautan sabar yang membentang di depan mata
Dia telah menutupi segala rahasia
Dia juga telah menghimpun semangat dan tekad manusia
Tapi rahasia itupun telah dirobek sendiri hingga menganga...
dan manusia lah yang mengacaukan sendiri
Tidakkah mau kembali ?
Pada diri yang sempurna
Menuju keabadian yang pasti
dan kembali santun
kembali menerima kelemahan
menerima segala pemberian
tanpa keluh kesah
Menuju maksud dan tak lupa sujud
kepada Dia
Sang Pemberi
Sang Penutup
Sang Penghimpun
Demikianlah ....manusia.....
Tidak ada yang terlambat...selagi sempat.
Sabtu, 09 Mei 2009
Jumat, 01 Mei 2009
Flu Babi dan Ketakutanku

Kiriman dari Hanung Triyoko (Melbourn, Australia)
Ada rasa takut yang saat ini menyergapku ketika terbaca berita 'flu babi'
mengapa aku takut?
apakah karena konfirmasi para ahli bila virus penyebab flu itu telah mutan dan telah menyebar dari manusia ke manusia? Apakah karena vaksin juga belum tersedia untuk menghadangnya?
aku tahu, aku telah masuk dalam perangkap logika dunia, aku takut karena aku mulai mencoba menghubungkan alasan-alasan kematian, aku takut karena aku mulai mempercayai potensi flu sebagai pencabut nyawa,
padahal, Allah tidak butuh alasan untuk mengakhiri hidup kita, dan sebaliknya tidak pula memberi kekuatan apapun pada suatu apapun untuk mencabut nyawa, bila belum kehendakNya.
Ya Allah, dengan Ridhamu, kucabut ketakutanku, kukembalikan semua pada keputusanMu, pada doaku yang memohon perlindunganMu atas ketakutanku.
Jumat, 2009 Mei 01 15:38:00 BNT

Langganan:
Postingan (Atom)
Sepatu
Sepasang Langkah, Satu Tujuan Mereka terlahir dari rahim yang sama, Namun ditakdirkan berdiri di ruang yang berbeda. Yang satu melengkung ke...
-
Setelah dapat saran dari mas Ahmad Faisol ana sempatkan cari makalah tentang puisi dan seluk beluknya, mudah-mudahan dengan tulisan di bawah...
-
KAU BUKAN RUMAH Oleh: Idwik Malam itu, gerimis membungkus kota dengan aroma tanah basah yang pekat dan dingin. Di dalam ruang kerja yang...